TKA 2026 Tak Tentukan Kelulusan, Wamendikdasmen Tekankan Siswa Fokus pada Proses Belajar
Wamendikdasmen Fajar Riza Ul Haq menegaskan Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026 bukan penentu kelulusan, melainkan alat ukur kemampuan siswa yang mendorong pola pikir kritis dan reflektif.
RINGKASAN BERITA:
- TKA 2026 ditegaskan bukan penentu kelulusan siswa.
- Soal TKA dirancang lebih kritis, logis, dan aplikatif.
- Hasil TKA bisa digunakan untuk jalur prestasi dan evaluasi kemampuan siswa.
RIAUCERDAS.COM, KARANGASEM - Menjelang pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026, pemerintah menegaskan bahwa ujian ini tidak menjadi penentu kelulusan siswa.
Penekanan tersebut disampaikan langsung oleh Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar Riza Ul Haq, saat meninjau kesiapan sekolah di Kabupaten Karangasem, Bali, Rabu (1/4/2026).
Dalam kunjungan tersebut, Fajar memastikan kesiapan sekolah dan siswa berjalan optimal sekaligus memberikan motivasi agar peserta didik menghadapi TKA tanpa tekanan.
Ia menilai pemahaman terhadap tujuan TKA jauh lebih penting dibanding sekadar mengejar nilai akhir.
Saat berdialog dengan siswa, Fajar menekankan bahwa TKA dirancang untuk mengukur kemampuan berpikir kritis, logis, dan aplikatif.
“Kalau adik-adik sudah paham tujuan TKA, berarti itu sudah berhasil, jawaban adik-adik pun membuat saya optimis. Adik-adik paham apa inti dari TKA itu, dengan model soal yang di TKA lebih cocok dengan kebutuhan, lebih kritis, logis, aplikatif. Karena kita proses belajar, dengan TKA, bisa tahu kemampuannya di sini,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa hasil TKA dapat dimanfaatkan sebagai indikator dalam jalur prestasi untuk melanjutkan pendidikan, serta sebagai alat verifikasi capaian pembelajaran yang tercermin dalam rapor.
Selain itu, siswa diminta aktif mengikuti simulasi sebagai bagian dari persiapan menghadapi TKA. Fajar menilai latihan soal akan membantu siswa memahami pola dan strategi pengerjaan.
“Simulasi itu penting. Ada soal-soal matematika yang logika, trik-trik mengerjakan soal. Kalau sudah hafal model soal akan tahu bagaimana cara mengerjakannya,” ucapnya.
Dari sisi sekolah, berbagai persiapan juga telah dilakukan.
Kepala SMP Negeri 2 Amlapura, Kadek Irawan, menyebut pihaknya menambah perangkat komputer melalui dana BOS serta memperkuat literasi dan numerasi melalui kegiatan kokurikuler.
Ia menjelaskan bahwa integrasi literasi dan numerasi juga diterapkan dalam proses pembelajaran di kelas.
Tahun ini, sebanyak 426 siswa di sekolah tersebut akan mengikuti TKA.
“Kami berharap TKA berjalan dengan lancar dan hasilnya dapat dipertimbangkan untuk melanjutkan ke jenjang selanjutnya, serta mendorong anak-anak lebih giat belajar,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan Kepala SMP Muhammadiyah Karangasem, Budiman.
Ia mengungkapkan sekolah telah menyiapkan pelatihan guru melalui seminar TKA, sosialisasi kepada siswa dan orang tua, hingga penyusunan soal latihan.
Sekolah juga memberikan bimbingan khusus bagi siswa kelas 9, terutama pada mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Matematika.
Menurutnya, TKA memiliki peran penting dalam mengukur kesiapan akademik siswa menuju jenjang pendidikan berikutnya.
“Harapan kami, TKA dapat menjadi alat ukur kemampuan akademik siswa di setiap sekolah,” ungkapnya.
Sementara itu, siswa SMP Negeri 2 Amlapura, Abi Yudita Putra, menilai TKA memberi manfaat dalam memahami kemampuan diri sekaligus peluang melanjutkan pendidikan.
“TKA ini sangat bermanfaat bagi saya dan siswa lainnya, karena kita bisa tahu kemampuan kita,” ujarnya.
Pendapat serupa disampaikan Ni Made Cheryl Adha Putri. Ia menilai meski materi TKA telah dipelajari di sekolah, model soal yang menekankan logika menjadi tantangan tersendiri bagi siswa.
Melalui peninjauan ini, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah memastikan pelaksanaan TKA 2026 siap berjalan dengan pendekatan yang menekankan pemahaman, logika, serta refleksi kemampuan individu siswa. (*)


