Alumni LPDP Turun ke Daerah 3T, Optimalkan Smart Board di 288 Ribu Sekolah

Program Alumni Pejuang Digital diterjunkan untuk memastikan perangkat Interactive Flat Panel (IFP) benar-benar digunakan di sekolah, terutama di wilayah 3T. Fokus pemerintah kini bergeser dari distribusi ke pemanfaatan teknologi pembelajaran.

Alumni LPDP Turun ke Daerah 3T, Optimalkan Smart Board di 288 Ribu Sekolah
150 alumni LPDP foto bersama. Mereka akan diterjunkan ke wilayah 3T untuk dampingi sekolah-sekolah. (Sumber: Kemendikdasmen)

RINGKASAN BERITA: 

  • 150 alumni LPDP diterjunkan ke wilayah 3T untuk dampingi sekolah
  • Lebih dari 288 ribu sekolah sudah menerima perangkat IFP
  • Fokus bergeser dari distribusi teknologi ke pemanfaatan di kelas.

RIAUCERDAS.COM, JAKARTA - Upaya digitalisasi pendidikan memasuki babak baru.

Setelah ratusan ribu perangkat teknologi didistribusikan ke sekolah, pemerintah kini fokus memastikan alat tersebut benar-benar dimanfaatkan di ruang kelas, terutama di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Melalui program Alumni Pejuang Digital, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan mengerahkan para alumninya untuk mendampingi sekolah dalam penggunaan Interactive Flat Panel (IFP) sebagai media pembelajaran interaktif.

Program ini merupakan tindak lanjut dari kebijakan percepatan digitalisasi pendidikan yang diinisiasi oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melalui Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 2026.

Sebelumnya, perangkat IFP telah didistribusikan ke lebih dari 288 ribu satuan pendidikan di seluruh Indonesia.

Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah, Gogot Suharwoto, menegaskan bahwa transformasi digital tidak cukup hanya berhenti pada distribusi perangkat.

“Digitalisasi pembelajaran harus bergerak dari distribusi menuju pemanfaatan yang maksimal. IFP harus menjadi bagian dari proses belajar sehari-hari yang mendorong interaksi, kreativitas, dan inovasi di kelas,” ujarnya.

Dalam implementasinya, para alumni LPDP tidak hanya memberikan pelatihan teknis penggunaan perangkat, tetapi juga mendampingi guru dalam menyusun materi ajar digital hingga membangun ekosistem pembelajaran berbasis teknologi.

Direktur Utama LPDP, Sudarto, menyebut keterlibatan alumni sebagai bentuk kontribusi nyata terhadap peningkatan kualitas pendidikan nasional.

“Program ini juga mendorong terbentuknya jejaring pembelajaran antarsekolah melalui konsep community of practice. Sekolah di berbagai daerah didorong untuk saling terhubung, berbagi praktik baik, dan mengembangkan inovasi pembelajaran secara kolaboratif,” ujarnya.

Sebanyak 150 alumni LPDP diterjunkan ke empat wilayah prioritas, yakni Sumedang, Kupang, Halmahera Utara, dan Merauke.

Mereka akan bertugas selama tiga bulan untuk memperkuat pemanfaatan teknologi di sekolah.

Fokus pendampingan meliputi optimalisasi penggunaan IFP, pengembangan media interaktif, peningkatan kompetensi guru, penguatan ekosistem digital sekolah, serta dukungan manajerial bagi kepala sekolah.

Sebelum ditugaskan, para peserta telah menjalani pelatihan intensif selama sembilan hari dengan total 63 jam pelajaran, mencakup aspek pedagogik, literasi digital, hingga komunikasi lintas budaya.

Program ini turut mendapat dukungan dari Sekretariat Wakil Presiden guna memastikan keselarasan dengan agenda nasional transformasi digital.

Dengan pendekatan ini, pemerintah berharap digitalisasi pendidikan tidak hanya sebatas penyediaan perangkat, tetapi benar-benar mengubah cara belajar mengajar menjadi lebih interaktif, kolaboratif, dan relevan dengan perkembangan zaman. (*)