Kampus Indonesia Didorong Jalin Kolaborasi dengan NTU Singapura
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto mendorong semakin banyak perguruan tinggi di Indonesia membangun kerja sama konkret dengan Nanyang Technological University (NTU) untuk memperkuat pendidikan tinggi, riset, dan inovasi.
RINGKASAN BERITA:
- Mendiktisaintek mendorong lebih banyak perguruan tinggi Indonesia menjalin kerja sama konkret dengan NTU Singapura.
- Program INSPIRASI telah menghasilkan publikasi bersama, riset kolaboratif, dan joint intellectual property di berbagai bidang strategis.
- Sebanyak 60 mahasiswa Indonesia mengikuti program musim panas NTU, disertai penguatan kolaborasi melalui program Women in Science.
RIAUCERDAS.COM, JAKARTA - Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto, mendorong perguruan tinggi di Indonesia memperluas kemitraan dengan Nanyang Technological University (NTU) Singapura.
Langkah tersebut dinilai penting untuk meningkatkan kualitas pendidikan tinggi, memperkuat riset kolaboratif, serta memperluas jejaring akademik di tingkat internasional.
Dorongan itu disampaikan Brian saat menerima audiensi delegasi NTU di Kantor Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Senin (29/6/2026).
Dalam pertemuan tersebut, Brian menekankan pentingnya pengembangan program akademik bersama, riset kolaboratif, serta peningkatan mobilitas mahasiswa dan dosen antara perguruan tinggi Indonesia dan NTU.
Ia menilai semakin banyak kampus Indonesia yang terlibat dalam kemitraan internasional, semakin besar pula peluang peningkatan mutu pendidikan tinggi dan riset nasional.
"Kami sangat mengapresiasi pemaparan yang telah disampaikan. Saya berharap ketika kami bertemu dengan berbagai perguruan tinggi di Indonesia, kami dapat mendorong mereka agar menghasilkan kerja sama yang lebih konkret dengan NTU," kata Brian.
Pada kesempatan itu, delegasi NTU memaparkan perkembangan Program INSPIRASI yang telah berjalan selama satu tahun terakhir.
Program tersebut menghasilkan sejumlah capaian, mulai dari peningkatan publikasi ilmiah bersama hingga riset kolaboratif di bidang energi terbarukan, baterai, geotermal, pemanfaatan karbon berbasis hayati, pengembangan fondasi digital, dan ketahanan perkotaan berbasis kecerdasan artifisial.
Kerja sama tersebut juga telah melahirkan sejumlah joint intellectual property (joint IP) dari hasil penelitian bersama.
Director of Global Alliance of Industries NTU, Lydia Helena Wong, mengatakan kerja sama akademik juga diwujudkan melalui program musim panas yang diikuti mahasiswa Indonesia.
"NTU menerima 60 mahasiswa Indonesia untuk mengikuti program musim panas. Program tersebut berlangsung selama satu minggu di NTU dan satu minggu di ITS. Kegiatan berikutnya adalah workshop School of Materials Science and Engineering, yang diikuti sekitar 27 staf, dosen, dan mahasiswa dari Indonesia," ujar Lydia Helena Wong.
Selain itu, kemitraan kedua pihak turut diperkuat melalui program Women in Science yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa Indonesia mengikuti kegiatan akademik dan kunjungan industri di Singapura dengan dukungan Evonik.
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi menyatakan akan terus memperkuat kemitraan internasional guna meningkatkan mutu pendidikan tinggi, sains, dan teknologi sekaligus memperluas akses kolaborasi perguruan tinggi Indonesia di tingkat global. (*)