Kemendikdasmen dan BPOM Luncurkan Program SAPA Sekolah

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bersama Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memperkuat budaya hidup sehat di sekolah melalui penandatanganan nota kesepahaman. Kolaborasi ini melahirkan Program Sadar Pangan Aman (SAPA) Sekolah Berbasis Budaya dan sejumlah inisiatif untuk mendukung keamanan pangan serta Program Makan Bergizi Gratis.

Kemendikdasmen dan BPOM Luncurkan Program SAPA Sekolah
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti dan Kepala BPOM, Taruna Ikrar menunjukkan dokumen Nota Kesepahaman (MoU) yang ditandatangani. (Sumber: Kemendikdasmen)

RINGKASAN BERITA:

  • Kemendikdasmen dan BPOM meluncurkan Program SAPA Sekolah untuk memperkuat budaya pangan aman di lingkungan pendidikan.
  • Siswa didorong membiasakan membaca komposisi bahan, kandungan gizi, dan tanggal kedaluwarsa sebagai bagian dari pendidikan karakter.
  • Program ini mendukung Program Makan Bergizi Gratis serta persiapan Generasi Emas Indonesia 2045 melalui pembiasaan hidup sehat sejak dini.

RIAUCERDAS.COM, JAKARTA - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bersama Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) resmi memperkuat edukasi keamanan pangan di lingkungan sekolah melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU).

Kerja sama ini menjadi langkah strategis untuk membangun budaya hidup sehat sejak usia sekolah sebagai bagian dari pembentukan karakter peserta didik.

Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui peluncuran Program Sadar Pangan Aman (SAPA) Sekolah Berbasis Budaya, Gerakan 1.000 Kader Edukasi Pangan Aman Menggunakan Bahasa Daerah, serta tiga pedoman pelaksanaan keamanan pangan yang mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan pembudayaan pangan aman di satuan pendidikan.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, mengatakan persoalan pangan tidak hanya berkaitan dengan makanan yang dikonsumsi, tetapi juga menyangkut pembentukan karakter dan kebiasaan hidup sehat peserta didik.

"Problem kita, anak-anak sering lebih banyak memilih food for fun tanpa sadar kandungan gizinya. Karena itu, budaya hidup sehat dan sadar pangan menjadi penting," terangnya.

Menurut Abdul Mu'ti, sekolah memiliki peran penting dalam membiasakan peserta didik memahami kualitas makanan yang mereka konsumsi.

Kebiasaan membaca komposisi bahan, memperhatikan tanggal kedaluwarsa, hingga mengenali kandungan gizi dinilai menjadi bagian dari pendidikan karakter yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Kerja sama ini, tutur Mu'ti, bukan sekadar seremonial, tetapi gerakan bersama yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan.

"Kami ingin anak-anak terbiasa melihat ingredients dan tanggal kedaluwarsa saat membeli produk makanan. Ini membangun sikap kritis dan tanggung jawab. Mudah-mudahan MoU ini menjadi awal untuk membangun budaya hidup sehat bagi Generasi Emas Indonesia 2045," katanya.

Ia menambahkan, kolaborasi tersebut sejalan dengan berbagai program prioritas Kemendikdasmen, seperti Program Sekolah Sehat, Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, pembangunan budaya sekolah yang aman dan nyaman, serta Program Makan Bergizi Gratis.

Sementara itu, Kepala BPOM, Taruna Ikrar, menilai sinergi lintas sektor diperlukan untuk memperluas edukasi keamanan pangan di sekolah.

Ia mengungkapkan bahwa dari sekitar 260 ribu sekolah di Indonesia, baru sekitar 60 ribu sekolah yang dapat dijangkau langsung oleh BPOM.

"Pembudayaan keamanan pangan di sekolah sejak dini menjadi salah satu solusi permasalahan keamanan pangan. Pendidikan mengenai budaya makan sehat dan bergizi wajib diajarkan sejak awal," ujarnya.

Dukungan juga datang dari Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, yang menilai pendekatan budaya akan membuat pesan mengenai keamanan pangan lebih mudah dipahami masyarakat.

"Pesan keamanan pangan akan lebih mudah diterima jika disampaikan melalui bahasa daerah, seni pertunjukan, atau cerita rakyat. Kebudayaan bukan hanya warisan yang dilestarikan, tetapi juga sarana efektif membangun kesadaran publik," terangnya.

Melalui kolaborasi ini, Kemendikdasmen berharap sekolah tidak hanya menjadi tempat memperoleh ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi ruang untuk menanamkan kebiasaan memilih pangan yang aman dan bergizi sebagai bekal menuju Generasi Emas Indonesia 2045. (*)