Mendikdasmen Dorong Pendidikan Bahasa Inggris Humanis: AI Bukan Pengganti Guru

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menegaskan bahwa pemanfaatan kecerdasan buatan dalam pendidikan harus tetap berorientasi pada penguatan peran guru dan nilai kemanusiaan. Hal itu disampaikannya dalam seminar internasional di UHAMKA yang membahas masa depan pembelajaran Bahasa Inggris di tengah pesatnya teknologi AI.

Mendikdasmen Dorong Pendidikan Bahasa Inggris Humanis: AI Bukan Pengganti Guru
Mendikdasmen Abdul Mu’ti berbicara dalam seminar internasional bertema Navigating the Future: English Language Education with AI and the Evolving Role of Educators di Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA (UHAMKA), Jakarta, Kamis (5/2/2026). (Sumber: Kemendikdasmen)

RINGKASAN BERITA:

  • AI ditegaskan sebagai alat bantu, bukan pengganti pendidik
  • Bahasa Inggris direncanakan wajib mulai kelas 3 SD pada 2027
  • Guru berperan sebagai pengarah berpikir kritis dan etika di era AI

RIAUCERDAS.COM, JAKARTA - Perkembangan kecerdasan buatan yang kian masif mendorong dunia pendidikan untuk melakukan adaptasi tanpa kehilangan esensi utamanya, yakni pembentukan manusia seutuhnya.

Isu tersebut menjadi sorotan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti dalam seminar internasional bertema Navigating the Future: English Language Education with AI and the Evolving Role of Educators di Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA (UHAMKA), Jakarta, Kamis (5/2/2026).

Dalam forum yang dihadiri akademisi dan pakar pendidikan bahasa dari berbagai negara, Abdul Mu’ti menegaskan bahwa kehadiran AI tidak boleh menggeser peran manusia dalam proses pendidikan.

Menurutnya, teknologi harus ditempatkan sebagai instrumen pendukung pembelajaran, bukan sebagai pengambil alih fungsi pendidik.

“AI adalah produk teknologi dan algoritma. Ia hanyalah alat. Pendidikan tetap tentang membangun karakter manusia, membentuk kesadaran etis, dan kemampuan mengendalikan teknologi untuk kemaslahatan bersama,” ujar Abdul Mu’ti.

Selain membahas posisi AI, Mendikdasmen juga mengungkap arah kebijakan penguatan pembelajaran Bahasa Inggris di Indonesia.

Ia menyebutkan bahwa mulai tahun 2027, Bahasa Inggris direncanakan menjadi mata pelajaran wajib sejak kelas 3 sekolah dasar sebagai bagian dari upaya menyiapkan generasi yang mampu berkomunikasi dan berinteraksi di tingkat global.

Namun demikian, ia menekankan bahwa pengajaran Bahasa Inggris tidak boleh berhenti pada hafalan semata.

Pembelajaran perlu diarahkan pada pendekatan deep learning yang menumbuhkan pemahaman, pemaknaan, serta kemampuan menggunakan bahasa dalam konteks nyata.

Sejalan dengan itu, para pembicara internasional dalam seminar tersebut menyoroti perubahan lanskap pendidikan bahasa akibat hadirnya teknologi generatif.

Guru Besar Bahasa Inggris UHAMKA, Herri Mulyono, menekankan bahwa integrasi AI justru memperkuat peran guru sebagai fasilitator berpikir kritis, refleksi etis, dan kesadaran lintas budaya.

Dari perspektif praktisi global, pendiri ClarityEnglish asal Inggris, Andrew Stokes, menilai AI efektif dimanfaatkan untuk mendukung pembelajaran mikro, seperti asesmen, pengayaan kosakata, dan materi personal.

Namun, ia menegaskan bahwa relasi manusia, pengelolaan kelas, serta pembentukan karakter tetap menjadi ranah yang tidak dapat digantikan teknologi.

Pandangan serupa disampaikan Guru Besar Emeritus Universitas Asia dari Taiwan, Yinghuei Chen.

Ia menilai kehadiran AI generatif justru meningkatkan urgensi penguasaan Bahasa Inggris, khususnya kemampuan membaca kritis, memahami konteks, dan menafsir makna di tengah melimpahnya teks hasil mesin.

Sementara itu, dosen dan pengajar ahli Anuncius Gumawang Jati menekankan pentingnya pendekatan pedagogy-first dalam pemanfaatan AI.

Menurutnya, teknologi harus mengikuti tujuan pendidikan, bukan sebaliknya, serta digunakan untuk memperkuat keadilan dan keautentikan pembelajaran.

Melalui forum internasional ini, Kemendikdasmen menegaskan komitmennya untuk terus terlibat dalam dialog global mengenai pendidikan di era AI.

Kolaborasi lintas negara dan disiplin diharapkan mampu memperkaya kebijakan pembelajaran Bahasa Inggris di Indonesia, sekaligus memastikan pendidikan tetap berpusat pada manusia.

“Kami berharap diskusi dan kajian dalam seminar ini memberi kontribusi nyata bagi peningkatan pembelajaran Bahasa Inggris dan kualitas pendidikan nasional dalam jangka panjang,” tutup Abdul Mu’ti. (*)