BRIN Siapkan Roadmap Terapi Kanker AB-BNCT hingga 2029

BRIN menyiapkan pengembangan teknologi terapi kanker AB-BNCT sebagai program unggulan nasional dengan dukungan infrastruktur kedokteran nuklir dan peta jalan hingga 2029. Kolaborasi dengan perguruan tinggi, rumah sakit, dan mitra internasional diharapkan mempercepat pemanfaatan hasil riset bagi pasien kanker di Indonesia.

BRIN Siapkan Roadmap Terapi Kanker AB-BNCT hingga 2029
Ilustrasi kanker. (Sumber: Diolah dengan AI)

RINGKASAN BERITA:

  • BRIN menyiapkan roadmap pengembangan terapi kanker AB-BNCT hingga tahun 2029.
  • Infrastruktur pendukung seperti cyclotron, hotlab farmasi, dan PET/CT telah tersedia untuk mendukung program.
  • Kolaborasi dengan perguruan tinggi, rumah sakit, dan mitra internasional dipercepat agar hasil riset segera dimanfaatkan pasien kanker.

RIAUCERDAS.COM, JAKARTA - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyusun peta jalan pengembangan Accelerator-Based Boron Neutron Capture Therapy (AB-BNCT) hingga 2029 sebagai upaya mempercepat penerapan teknologi terapi kanker dalam layanan kesehatan nasional.

Tahapan yang disiapkan meliputi proses perizinan, pembangunan fasilitas, instalasi peralatan, hingga target operasional layanan bagi pasien.

Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi BRIN dalam memperkuat kemandirian riset kesehatan nasional sekaligus menghadirkan alternatif terapi kanker yang lebih presisi.

Komitmen itu disampaikan Wakil Kepala BRIN, Prof. Amarulla Octavian, saat memaparkan arah pengembangan riset dan inovasi terapi kanker dalam International Tutorial and Workshop Particle and Heavy Ion Transport Code System yang digelar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Udayana di Denpasar, Bali.

Forum internasional tersebut mempertemukan lembaga riset, perguruan tinggi, rumah sakit, industri, serta mitra internasional untuk memperkuat kolaborasi dalam pengembangan teknologi partikel dan ion berat bagi sektor kesehatan.

Dalam presentasi bertajuk Current Status and Future Plan of Research and Innovations to Support Cancer Therapy in Indonesia, Amarulla menjelaskan bahwa peningkatan jumlah kasus kanker menuntut Indonesia tidak hanya memperkuat pelayanan kesehatan, tetapi juga membangun kapasitas riset yang mampu menghasilkan teknologi diagnosis dan terapi yang lebih efektif.

Paparan itu disusun berdasarkan kajian berbagai artikel ilmiah periode 2023–2025 yang dipadukan dengan data kesiapan riset dan infrastruktur BRIN tahun 2026.

Amarulla mengatakan, penanganan kanker masih menghadapi tantangan karena penyakit tersebut memiliki karakteristik yang kompleks, mulai dari perubahan genomik, keragaman sel tumor, hingga kemampuan sel kanker menyebar ke bagian tubuh lain.

"Kanker tetap sulit ditata laksana karena karakteristiknya yang heterogen, adaptif, dan dipengaruhi mikrolingkungan tumor. Oleh karena itu, terapi masa depan akan bersifat biomarker-guided, berbasis kombinasi, dioptimalkan dari sisi delivery, dan dipantau secara dinamis," kata Amarulla, dikutip dari laman BRIN, Rabu (5/8/2026).

Sebagai bagian dari strategi tersebut, BRIN mengembangkan AB-BNCT, yaitu teknologi terapi yang memanfaatkan senyawa boron yang terakumulasi secara selektif pada sel kanker.

Senyawa itu kemudian diaktivasi menggunakan neutron sehingga memicu reaksi yang mampu menghancurkan sel kanker dengan dampak minimal terhadap jaringan sehat di sekitarnya.

Selain mengembangkan AB-BNCT, BRIN juga mengikuti perkembangan berbagai teknologi terapi kanker berbasis radiasi, antara lain radioterapi, Boron Neutron Capture Therapy (BNCT), Proton Beam Therapy (PBT), serta pemanfaatan cyclotron untuk memproduksi radioisotop medis.

Menurut Amarulla, perkembangan teknologi tersebut membuka peluang memperkuat kapasitas riset nasional melalui kolaborasi lintas sektor.

Hingga triwulan pertama 2026, BRIN mengelola 30 proyek penelitian bertema kanker.

Riset tersebut mencakup pengembangan biomarker, radiofarmaka, nanoteknologi, penemuan senyawa bioaktif, hingga teknologi diagnostik dan teranostik sebagai bagian dari pembangunan ekosistem riset kesehatan yang terintegrasi dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat.

Untuk mendukung percepatan implementasi AB-BNCT, BRIN mengandalkan infrastruktur kedokteran nuklir yang telah dimiliki, seperti fasilitas cyclotron, hotlab farmasi, dan PET/CT yang dioperasikan bersama Rumah Sakit Kanker Nasional Dharmais sejak 2012.

Amarulla menegaskan keberhasilan pengembangan teknologi terapi kanker membutuhkan sinergi berbagai pihak, mulai dari lembaga riset, perguruan tinggi, rumah sakit, industri, hingga mitra internasional agar hasil penelitian dapat segera dimanfaatkan masyarakat.

"Pendekatan multidisiplin dan kolaboratif bersama Universitas Udayana, JAEA, RSKN Dharmais, dan International Hospital Sanur Bali menjadi kunci untuk menerjemahkan riset ini menjadi manfaat nyata bagi pasien kanker di Indonesia," ungkapnya.

Melalui forum tersebut, BRIN bersama Universitas Udayana, Japan Atomic Energy Agency (JAEA), Sumitomo Heavy Industries Jepang, serta sejumlah mitra nasional dan internasional memperkuat jejaring kolaborasi dalam pengembangan teknologi terapi kanker.

Kolaborasi itu diharapkan dapat mempercepat lahirnya inovasi kesehatan yang aman, efektif, berkelanjutan, sekaligus meningkatkan kualitas layanan penanganan kanker di Indonesia.(*)