Perjuangan Siswa Papua Ikuti TKA: Tempuh 6 Jam Perjalanan Laut Demi Ujian

Pelaksanaan TKA di Kepulauan Yapen, Papua, menunjukkan semangat tinggi siswa yang rela menempuh perjalanan laut berjam-jam. Kolaborasi sekolah dan dukungan orang tua menjadi kunci kelancaran ujian.

Perjuangan Siswa Papua Ikuti TKA: Tempuh 6 Jam Perjalanan Laut Demi Ujian
Anak-anak di Kepulauan Yapen, Papua menggunakan perahu mengarungi laut guna mengikuti Tes Kemampuan Akademik atau TKA tingkat SD. (Sumber: Kemendikdasmen)

RINGKASAN BERITA: 

  • Siswa di Yapen harus menempuh perjalanan laut hingga 6 jam untuk ikut TKA.
  • Kolaborasi sekolah dan dukungan orang tua jadi kunci kelancaran ujian.
  • TKA jadi alat ukur kemampuan sekaligus motivasi belajar siswa di daerah terpencil.

RIAUCERDAS.COM, YAPEN - Semangat siswa di daerah terpencil dalam mengikuti Tes Kemampuan Akademik (TKA) menjadi potret kuat pemerataan pendidikan di Indonesia.

Di Kabupaten Kepulauan Yapen, Papua, sejumlah murid bahkan harus menempuh perjalanan laut hingga enam jam demi mengikuti ujian.

Pelaksanaan TKA jenjang SD yang berlangsung serentak secara nasional ini dipantau langsung oleh Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Papua.

Dari hasil pemantauan, ujian berjalan tertib, jujur, dan penuh antusiasme di berbagai sekolah.

Kepala SD Negeri Awado, Muhajir, mengungkapkan bahwa sekolahnya harus menumpang pelaksanaan TKA di SD Integral Lukman Al Hakim Serui.

Untuk mencapai lokasi, guru dan siswa harus menggunakan perahu melintasi laut.

“Jika laut sedang tenang, kami bisa sampai di Serui dalam waktu empat jam, namun bisa mencapai enam jam jika ombak besar. Setibanya di Serui, kami juga harus mencari tempat menginap bagi anak-anak. Meski penuh tantangan, semangat murid kami tetap tinggi untuk mengikuti TKA,” ungkapnya.

Semangat tersebut juga dirasakan para siswa.

Andai Darling Woraba, salah satu murid SDN Awado, menilai TKA penting bagi masa depannya.

“Kami tetap semangat mengikuti TKA karena ini membantu kami mengetahui kemampuan akademik dan menjadi bekal untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya,” ujar Andai.

Di sisi lain, kesiapan pelaksanaan juga ditopang kolaborasi antarsekolah.

Kepala SD Integral Lukman Al Hakim Serui, Mahfud Fauzi, menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan persiapan matang, termasuk koordinasi dengan dinas pendidikan.

“Koordinasi dengan dinas terkait juga telah kami lakukan untuk menjamin ketersediaan listrik dan internet. Dukungan orang tua juga sangat besar, bahkan di antara mereka bersedia meminjamkan perangkat komputer atau laptop apabila terjadi keterbatasan di sekolah,” jelasnya.

Peran orang tua juga terlihat di SD Inpres 1 Serui. Kepala sekolah, Herdelina Sembay, menyebut dukungan keluarga menjadi faktor penting dalam kesiapan siswa menghadapi TKA.

“Guru-guru kami rutin memberikan latihan soal sebelum murid pulang sekolah. Anak-anak sangat antusias, bahkan orang tua turut mendukung dengan menunggu hingga sore hari,” ujarnya.

Pengalaman mengikuti TKA juga memberikan kesan tersendiri bagi siswa.

Nur Aisyah, murid SD Integral Lukman Al Hakim Serui, mengaku sempat merasa cemas sebelum ujian.

“Awalnya saya takut, tapi ternyata soal-soalnya mudah karena sudah pernah dipelajari sebelumnya,” ungkapnya.

Hal serupa dirasakan Julio Iwanggin dari SD Inpres 1 Serui yang mengaku gugup di awal, namun kemudian mampu menjawab soal dengan baik setelah membaca dengan cermat.

Pelaksanaan TKA di wilayah ini menunjukkan kuatnya kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan pemerintah dalam menghadirkan pendidikan yang merata hingga ke daerah terpencil.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, sebelumnya menegaskan pentingnya peran bersama dalam mendukung pendidikan berkualitas.

“Salah satu tujuan TKA adalah untuk mengukur kemampuan literasi seluruh murid Indonesia. Kolaborasi antarsekolah, dukungan orang tua, dan kegigihan murid menjadi bukti semangat membangun pendidikan Indonesia menjadi tanggung jawab bersama semua pihak,” tuturnya.

Kisah dari Kepulauan Yapen ini menjadi gambaran nyata bahwa akses pendidikan yang merata tidak hanya bergantung pada fasilitas, tetapi juga pada semangat dan kerja sama seluruh pihak dalam ekosistem pendidikan. (*)