Persaingan Ketat Warnai Seleksi Awal Beasiswa Maroko
Sebanyak 600 peserta mengikuti Computer Based Test (CBT) Seleksi Beasiswa Kerajaan Maroko 2026 yang digelar Kementerian Agama. Mereka memperebutkan 50 kuota beasiswa untuk jenjang S1, S2, dan S3 yang disediakan melalui Moroccan Agency for International Cooperation (AMCI).
RINGKASAN BERITA:
- Sebanyak 600 peserta mengikuti seleksi awal untuk memperebutkan hanya 50 kuota Beasiswa Kerajaan Maroko 2026.
- Kemampuan bahasa Arab menjadi aspek utama yang diuji melalui CBT sebelum peserta melanjutkan ke tahap wawancara.
- Hasil akhir seleksi ditentukan dari kombinasi nilai CBT 60 persen dan wawancara 40 persen.
RIAUCERDAS.COM, JAKARTA - Persaingan memperebutkan Beasiswa Kerajaan Maroko 2026 berlangsung ketat.
Sebanyak 600 peserta dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti Computer Based Test (CBT) sebagai tahap awal seleksi untuk mendapatkan 50 kuota beasiswa yang disediakan bagi jenjang sarjana, magister, dan doktoral.
Seleksi tersebut diselenggarakan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama (Kemenag) secara daring dan terpusat di Pusat Pengembangan Bahasa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ciputat, pada Minggu (7/6/2026).
Pelaksanaan ujian dilakukan serentak melalui jaringan Konsorsium Pusat Bahasa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) di berbagai wilayah.
Dari total kuota yang tersedia, sebanyak 30 beasiswa dialokasikan untuk program sarjana (S1), 10 beasiswa untuk program magister (S2), dan 10 beasiswa untuk program doktor (S3).
Peserta yang lolos nantinya akan diusulkan sebagai penerima beasiswa dari Moroccan Agency for International Cooperation (AMCI) melalui Kedutaan Besar Kerajaan Maroko di Indonesia.
Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama, Amien Suyitno, menilai program tersebut menjadi salah satu jalur penting dalam memperluas akses pendidikan internasional bagi generasi muda Indonesia.
“Beasiswa Kerajaan Maroko bukan sekadar kesempatan melanjutkan studi di luar negeri, tetapi juga ruang pembentukan kader intelektual muslim Indonesia yang memiliki kompetensi akademik, penguasaan bahasa Arab, serta wawasan keislaman yang moderat dan berdaya saing global,” ujar Amien Suyitno.
Menurutnya, mekanisme seleksi yang diterapkan bertujuan memastikan peserta yang direkomendasikan memiliki kemampuan akademik dan kesiapan mengikuti pendidikan tinggi di Maroko.
Sementara itu, Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI), Sahiron, menjelaskan bahwa proses seleksi dilakukan secara transparan dan objektif.
CBT digunakan sebagai instrumen awal untuk mengukur kemampuan bahasa Arab peserta, yang menjadi salah satu syarat utama dalam mengikuti perkuliahan di perguruan tinggi Maroko.
Kata Sahiron, seleksi ini merupakan bagian dari upaya menjaga kualitas mahasiswa Indonesia yang akan belajar di Timur Tengah.
"Kemampuan bahasa Arab menjadi aspek fundamental karena akan menentukan keberhasilan mereka dalam mengikuti proses akademik di kampus tujuan,” ujar Sahiron.
Peserta yang berhasil melewati tahapan CBT akan melanjutkan seleksi ke tahap wawancara.
Pada sesi tersebut, panitia akan menilai kemampuan hafalan Al Quran, qiraatul kutub, wawasan keislaman, serta wawasan kebangsaan peserta.
Penentuan hasil akhir dilakukan berdasarkan gabungan nilai dari dua tahapan seleksi, yakni CBT dengan bobot 60 persen dan wawancara sebesar 40 persen.
Kepala Pusat Pengembangan Bahasa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Kustiawan, mengatakan pihaknya bersama Konsorsium Pusat Bahasa PTKI telah menyiapkan sistem pelaksanaan ujian secara optimal agar berjalan lancar dan akuntabel.
“Seluruh peserta mengikuti ujian berbasis komputer dengan mekanisme pengawasan yang telah ditetapkan panitia. Kami berupaya memastikan setiap peserta memperoleh kesempatan yang sama untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pelaksanaan CBT tahun ini dilakukan secara daring dengan menggunakan perangkat komputer yang telah dilengkapi aplikasi Safe Exam Browser (SEB).
Sementara pengawasan ujian dilakukan melalui aplikasi konferensi video untuk menjaga keamanan dan integritas proses seleksi.
Program Beasiswa Kerajaan Maroko selama ini menjadi salah satu tujuan favorit pelajar Indonesia yang ingin melanjutkan studi ke luar negeri.
Selain memberikan akses pendidikan di berbagai perguruan tinggi di Maroko, program tersebut juga membuka peluang penguatan kerja sama akademik antara Indonesia dan Maroko.
Hasil CBT dijadwalkan diumumkan pada 9 Juni 2026. Peserta yang lolos akan mengikuti wawancara pada 10 Juni 2026, sedangkan pengumuman akhir calon penerima Beasiswa Kerajaan Maroko 2026 akan disampaikan pada 12 Juni 2026. (*)