Flyover Garuda Sakti Panam Disiapkan Jadi Ikon Baru Riau, BPJN Usung Desain Bernuansa Melayu
BPJN Riau memperkenalkan desain arsitektur flyover Simpang Garuda Sakti Panam yang akan mengusung ornamen khas Melayu. Selain ditargetkan mengatasi kemacetan di Jalan HR Soebrantas, jembatan layang yang direncanakan mulai dibangun pada 2027 itu juga diharapkan menjadi ikon baru Provinsi Riau.
RINGKASAN BERITA:
- Flyover Simpang Garuda Sakti Panam dirancang mengusung ornamen khas Melayu agar menjadi ikon baru Provinsi Riau.
- Proyek sepanjang sekitar 644 meter itu ditargetkan mulai dibangun pada 2027 dengan pendanaan penuh dari APBN.
- Kehadiran flyover diharapkan mengurai kemacetan di simpang padat Jalan HR Soebrantas–Jalan Garuda Sakti sekaligus menjadi flyover kelima di Pekanbaru.
RIAUCERDAS.COM, PEKANBARU - Rencana pembangunan flyover Simpang Garuda Sakti Panam di Pekanbaru tak hanya difokuskan untuk mengurai kemacetan, tetapi juga disiapkan sebagai ikon baru Provinsi Riau dengan mengangkat identitas budaya Melayu.
Konsep tersebut dipaparkan Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Riau, Yohanis Tulak Todingrara, saat memperlihatkan visualisasi desain arsitektur proyek kepada Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau SF Hariyanto beserta jajaran pemerintah dan instansi terkait di Pekanbaru, Selasa (21/7/2026).
Flyover tersebut direncanakan mulai memasuki tahap konstruksi fisik pada 2027.
Lokasinya berada di persimpangan Jalan HR Soebrantas dan Jalan Garuda Sakti, yang selama ini dikenal sebagai salah satu titik kemacetan di wilayah barat Kota Pekanbaru.
Menurut Yohanis, pembangunan jembatan layang itu bertujuan meningkatkan kelancaran arus kendaraan sekaligus mengurangi kepadatan lalu lintas di kawasan tersebut.
"Flyover ini difungsikan agar arus lalu lintas lebih lancar sekaligus mengurai titik kemacetan kendaraan," katanya.
Desain yang dipaparkan menunjukkan flyover akan membentang lurus di atas Jalan HR Soebrantas menuju arah perbatasan Pekanbaru–Kampar.
Proyek ini sepenuhnya dibiayai melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Pemerintah Pusat.
Secara teknis, proyek memiliki panjang penanganan sekitar 644 meter dengan lebar kawasan mencapai 40 meter sesuai Surat Penetapan Lokasi (Penlok) dari Pemerintah Provinsi Riau.
Perencanaan tersebut disesuaikan dengan kebutuhan kapasitas lalu lintas saat ini maupun pengembangan kawasan di masa mendatang.
Selain aspek transportasi, BPJN Riau memasukkan unsur budaya dalam desain flyover melalui penggunaan ornamen khas Melayu pada struktur jembatan layang.
"Flyover ini nantinya bisa menjadi ikon strategis di Riau. Kami berharap pihak kebudayaan dapat memberikan masukan terkait ornamen Melayu yang akan dibuat di flyover ini," ujar Yohanis.
Apabila terealisasi, flyover Simpang Garuda Sakti Panam akan menjadi jembatan layang kelima di Kota Pekanbaru.
Sebelumnya, kota ini telah memiliki empat flyover, yakni di persimpangan Jalan Sudirman–Tuanku Tambusai, Jalan Sudirman–Imam Munandar, Jalan Soekarno Hatta–Tuanku Tambusai, serta Jalan Soekarno Hatta–HR Soebrantas. (*)