Mahasiswa KKN Unri Ajarkan Warga Pelalawan Olah Air Cucian Beras Jadi Pupuk Organik Cair
Mahasiswa KKN Universitas Riau memberikan pelatihan kepada ibu-ibu PKK dan masyarakat Desa Lalang Kabung, Kabupaten Pelalawan, tentang cara mengolah air cucian beras menjadi pupuk organik cair. Program ini bertujuan mengurangi limbah rumah tangga sekaligus mendukung perawatan tanaman yang lebih hemat dan ramah lingkungan.
RINGKASAN BERITA:
- Mahasiswa KKN Unri mengajarkan warga mengolah air cucian beras menjadi pupuk organik cair melalui proses fermentasi selama 14 hari.
- Setiap peserta membawa pulang hasil praktik untuk difermentasi dan nantinya diaplikasikan pada tanaman di pekarangan.
- Program ini mendorong pemanfaatan limbah rumah tangga, mengurangi biaya perawatan tanaman, serta mendukung pertanian yang ramah lingkungan.
RIAUCERDAS.COM, PELALAWAN -Â Limbah air cucian beras yang selama ini kerap dibuang kini diperkenalkan sebagai bahan baku pupuk organik cair oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Riau (Unri).
Melalui pelatihan di Desa Lalang Kabung, Kecamatan Pelalawan, Kabupaten Pelalawan, warga diajak memanfaatkan limbah rumah tangga menjadi produk yang bermanfaat bagi tanaman.
Pelatihan digelar di Balai Desa Lalang Kabung pada Sabtu (18/7/2026) lalu dan diikuti sekitar 18 peserta yang terdiri atas ibu-ibu PKK serta masyarakat setempat.
Kegiatan tersebut merupakan salah satu dari sepuluh program kerja Kelompok KKN Unri Desa Lalang Kabung di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan Muhammad Imam Rahmatullah, S.Pd., M.Pd., dengan Timbul Pasca Situmorang sebagai ketua kelompok.
Ketua PKK Desa Lalang Kabung, Maiyati, turut hadir memberikan dukungan dan mengikuti kegiatan bersama para peserta.
Mahasiswa KKN menjelaskan, pelatihan dilaksanakan karena sebagian besar masyarakat memiliki tanaman di pekarangan rumah, sementara air cucian beras yang dihasilkan setiap hari belum dimanfaatkan secara optimal.
Melalui kegiatan ini, peserta diperkenalkan cara sederhana mengolah limbah rumah tangga menjadi pupuk organik cair yang dapat membantu pertumbuhan tanaman sekaligus mengurangi limbah domestik.
Materi pelatihan disampaikan oleh Timbul Pasca Situmorang.
Peserta dikenalkan dengan bahan-bahan yang digunakan, yakni satu liter air cucian beras, 20 mililiter EM4 Pertanian, 20 mililiter larutan gula merah sebagai pengganti molase, serta botol berkapasitas 1.500 mililiter sebagai wadah fermentasi.
Dalam praktiknya, seluruh bahan dicampurkan ke dalam botol dan difermentasi selama 14 hari.
Selama proses fermentasi, botol disimpan di tempat teduh serta tutupnya dibuka sedikit setiap hari untuk mengeluarkan gas hasil fermentasi agar tekanan di dalam botol tidak meningkat.
Mahasiswa juga menjelaskan cara penggunaan pupuk organik cair.
Sebelum diaplikasikan, satu bagian pupuk dicampurkan dengan sepuluh bagian air, kemudian dapat digunakan dengan cara disemprotkan ke daun atau dikocorkan ke media tanam.
Pupuk tersebut dapat dimanfaatkan pada berbagai jenis tanaman, seperti tanaman hias, cabai, tomat, sayuran, dan tanaman pekarangan lainnya.
Setelah mengikuti praktik, setiap peserta membawa pulang satu botol hasil pembuatan untuk difermentasi di rumah.
Usai masa fermentasi selesai, mahasiswa bersama masyarakat berencana mengaplikasikan pupuk tersebut pada tanaman di pekarangan rumah Ketua PKK Desa Lalang Kabung sebagai tindak lanjut kegiatan.
Salah seorang peserta mengaku pelatihan tersebut memberikan pengetahuan baru yang dapat langsung diterapkan.
"Di rumah saya banyak tanaman bunga. Kalau pupuk organik ini berhasil, tentu akan sangat bermanfaat untuk membantu menyuburkan tanaman tanpa harus sering membeli pupuk," kata dia.
Sementara itu, Timbul Pasca Situmorang berharap masyarakat mulai memanfaatkan limbah rumah tangga menjadi produk yang lebih bernilai.
"Air cucian beras sering kali langsung dibuang, padahal dapat diolah menjadi pupuk organik yang bermanfaat bagi tanaman. Kami berharap pelatihan ini dapat menjadi langkah awal bagi masyarakat untuk memanfaatkan limbah rumah tangga secara lebih produktif dan ramah lingkungan," katanya.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa KKN Unri berharap masyarakat mampu memproduksi pupuk organik cair secara mandiri sehingga dapat mengurangi limbah rumah tangga, menekan biaya perawatan tanaman, serta mendukung penerapan pertanian yang lebih berkelanjutan di Desa Lalang Kabung.
Kelompok KKN Unri Desa Lalang Kabung diketuai Timbul Pasca Situmorang dengan anggota Anisa Julianti, Atikah Nur Zahra, Azzahwa Alyani Putri, Bunga Mutiara M.G., Dhama Iga Carissa, Handika Marta, Imelia Syafitri, Naswa Ananda, dan Ratna Lumbini Putri. (rls)