Deforestasi Picu Penyakit Pes Bangkit Kembali
Meski tidak ada kasus pes pada manusia selama lebih dari satu dekade, peneliti BRIN memperingatkan bahwa penyakit mematikan ini belum benar-benar lenyap dari Indonesia. Deforestasi dan perubahan iklim disebut sebagai pemicu utama risiko kebangkitannya.
RINGKASAN BERITA:
- Pasuruan, Boyolali, Sleman, dan Bandung belum dinyatakan bebas pes, menandakan ancaman ini bukan sekadar sejarah.
- Tidak adanya kasus bukan jaminan keamanan; bakteri, pinjal, dan tikus pembawa pes masih terdeteksi aktif di wilayah enzootik Indonesia.
- Alih fungsi lahan mendorong tikus masuk permukiman, sementara perubahan iklim memperbanyak populasi pinjal, kombinasi yang dinilai peneliti sebagai bom waktu.
RIAUCERDAS.COM, JAKARTA - Empat wilayah di Pulau Jawa masih berstatus zona fokus pes hingga kini, Kabupaten Pasuruan, Boyolali, Sleman, dan Bandung.
Fakta ini menjadi pengingat bahwa ancaman penyakit yang pernah memorak-porandakan Indonesia pada awal abad ke-20 itu belum sepenuhnya sirna, meski tidak ada kasus pada manusia yang tercatat selama lebih dari satu dekade terakhir.
Periset Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Muhammad Choirul Hidajat, menegaskan bahwa absennya kasus bukan berarti penyakit telah hilang.
"Pes di Indonesia saat ini mungkin sedang 'tertidur'. Namun tanpa kewaspadaan dan pengelolaan lingkungan yang baik, penyakit ini berpotensi muncul kembali," pungkasnya.
Rekan serisetnya, Ristiyanto, menjelaskan fenomena ini dengan istilah silent period, yaitu kondisi ketika suatu penyakit tidak terdeteksi dalam waktu lama namun sesungguhnya masih menyimpan potensi untuk kembali muncul.
"Ada istilah silent period, yaitu masa ketika suatu penyakit tidak terdeteksi dalam waktu lama, tetapi sebenarnya masih berpotensi muncul kembali," kata Ristiyanto, dikutip dari laman BRIN, Minggu (12/4/2026).
Ia menambahkan, dugaan tersebut didukung oleh bukti lapangan bahwa bakteri Yersinia pestis sebagai agen penyebab pes, beserta vektor dan reservoirnya yakni pinjal dan tikus, masih ditemukan di sejumlah wilayah enzootik di Indonesia.
Dua faktor lingkungan menjadi sorotan utama para peneliti.
Pertama, deforestasi, alih fungsi lahan, dan pertumbuhan penduduk yang menggerus keseimbangan ekosistem sehingga habitat tikus semakin mendekati permukiman manusia.
"Kondisi ini meningkatkan peluang penularan penyakit melalui gigitan pinjal yang membawa bakteri," jelas Ristiyanto.
Kedua, perubahan iklim yang turut mendorong lonjakan populasi pinjal sebagai vektor utama penyakit.
Choirul menyebut kombinasi kedua tekanan lingkungan itu sebagai ancaman berlapis.
"Kombinasi perubahan lingkungan, keberadaan vektor dan reservoir, serta meningkatnya interaksi dengan manusia menjadi faktor risiko utama yang perlu diwaspadai," kata dia.
Sebagai respons, para peneliti merekomendasikan penguatan sistem surveilans terpadu yang menjangkau tiga lini sekaligus. Yaitu pemantauan pada manusia, hewan, dan vektor penyakit.
Peningkatan sanitasi lingkungan serta pengawasan ketat di wilayah-wilayah bekas endemis juga dinilai krusial untuk menutup celah potensi wabah.
Temuan ini merupakan bagian dari penelitian bertajuk Environmental Changes and Risk of Plague Epidemics in Indonesia, hasil kolaborasi BRIN bersama Kementerian Kesehatan serta mitra internasional dari China dan Prancis.
Pes sendiri merupakan penyakit yang disebabkan bakteri Yersinia pestis dan menular melalui gigitan pinjal yang hidup pada tubuh tikus.
Penyakit ini tercatat sebagai salah satu wabah paling mematikan dalam sejarah manusia dan pernah menyerang Indonesia secara masif, khususnya di Pulau Jawa, pada awal abad ke-20. (*)


