Harga Plastik Melonjak 100 Persen, Pakar Tawarkan Solusi
Konflik geopolitik global memicu kenaikan harga kemasan plastik hingga 100 persen, menjerat UMKM kuliner Malang dalam dilema antara menaikkan harga atau gulung tikar. Pakar ekonomi UMM mendorong solusi dua arah: inovasi perilaku konsumen dan intervensi tegas pemerintah.
RINGKASAN BERITA :
- Pakar UMM mendorong UMKM mengubah tekanan kenaikan harga kemasan menjadi peluang membangun budaya bawa wadah sendiri melalui sistem diskon harga.
- Naik harga kehilangan pelanggan, tahan harga terancam gulung tikar. UMKM kuliner terjebak di antara dua pilihan yang merugikan.
- Ketergantungan impor plastik jadi bom waktu. Krisis membongkar rapuhnya struktur industri dalam negeri yang sepenuhnya bergantung pada bahan baku impor.
RIAUCERDAS.COM - Diskon khusus bagi pelanggan yang membawa wadah makan sendiri kini mengemuka sebagai salah satu strategi bertahan yang direkomendasikan pakar ekonomi di tengah krisis kemasan plastik yang menghantam UMKM kuliner.
Langkah ini dinilai mampu sekaligus menyelamatkan keuangan pelaku usaha dan mendorong budaya ramah lingkungan secara bersamaan.
Rekomendasi itu datang dari Pakar Ekonomi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), M. Sri Wahyudi Suliswanto S.E., M.E., Ph.D., menyusul lonjakan harga kemasan plastik yang mencapai 100 persen akibat memanasnya konflik geopolitik global.
Gejolak tersebut memicu kenaikan harga bahan baku plastik seiring melambungnya harga minyak mentah dunia, dan imbasnya langsung dirasakan pelaku usaha kecil di sektor kuliner.
Wahyudi, yang juga menjabat Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMM, menyebut UMKM kuliner sebagai kelompok paling rentan karena ketergantungan mereka yang sangat tinggi pada wadah makanan, gelas minuman, dan tas kresek.
Kenaikan biaya produksi ini, menurutnya, telah berubah menjadi beban tersembunyi yang perlahan mengikis margin keuntungan para pedagang kecil.
Para pelaku usaha kini terjepit di antara dua pilihan yang sama-sama menyakitkan.
Menaikkan harga jual berisiko mengusir pelanggan di tengah daya beli masyarakat yang masih lesu, namun mempertahankan harga demi loyalitas pelanggan justru mengancam keberlangsungan usaha itu sendiri.
Wahyudi menunjuk ketergantungan Indonesia pada impor bahan baku plastik sebagai akar struktural dari krisis ini.
"Negara kita sangat bergantung pada impor bahan baku plastik. Ketika gejolak geopolitik mengganggu jalur distribusi internasional dan memicu lonjakan harga minyak mentah, harga domestik langsung tercekik," tegas Wahyudi dikutip dari laman UMM, (8/4/2026).
Kondisi ini, kata dia, semakin diperparah oleh rantai distribusi domestik yang terlampau panjang.
Di tengah tekanan itu, Wahyudi justru melihat peluang transformasi.
"Ini adalah saat yang paling tepat untuk memukul mundur kebiasaan penggunaan plastik," ujarnya.
Ia menyarankan UMKM menerapkan strategi diferensiasi harga, yaitu, konsumen yang membawa wadah sendiri mendapat harga lebih murah sebagai langkah taktis yang menguntungkan dua pihak sekaligus.
Namun Wahyudi menegaskan, beban pemulihan tidak bisa ditanggung UMKM sendirian.
Mengingat plastik digunakan masif di berbagai sektor mulai dari kuliner rumahan, manufaktur, hingga otomotif, intervensi pemerintah dinilai mutlak.
"Pemerintah tidak boleh tutup mata melihat penderitaan UMKM. Harus ada intervensi tegas mengamankan stabilitas harga plastik di pasaran karena daya rusaknya sangat luas," imbuhnya.
Langkah paling konkret yang ia rekomendasikan kepada pemerintah adalah memfasilitasi pencarian pemasok bahan baku dari negara-negara yang tidak terdampak konflik geopolitik.
Kolaborasi menyeluruh antara pemerintah, pelaku usaha, dan konsumen diharapkan tidak hanya menyelamatkan UMKM dalam jangka pendek, tetapi sekaligus menjadi titik balik menuju pola konsumsi yang lepas dari ketergantungan pada plastik sekali pakai. (*)


