Waspada Kekeringan, El Nino Diprediksi Muncul Juli-September 2026

BMKG memprediksi fenomena El Nino akan terjadi pada Juli hingga September 2026 dengan peluang mencapai 98 persen. Pemerintah pusat dan daerah diminta memperkuat koordinasi untuk mengantisipasi dampak berupa kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, gangguan produksi pangan, hingga tekanan inflasi.

Waspada Kekeringan, El Nino Diprediksi Muncul Juli-September 2026
Ilustrasi kekeringan akibat El Nino. (Sumber: Diolah dengan AI)

RINGKASAN BERITA: 

  • BMKG memprediksi El Nino terjadi pada Juli hingga September 2026 dengan peluang mencapai 98 persen.
  • Dampak yang perlu diantisipasi meliputi kekeringan, karhutla, penurunan produksi pangan, kualitas udara, dan tekanan inflasi.
  • BMKG menegaskan El Nino berbeda dengan musim kemarau, tetapi dapat memperparah kondisi kering saat keduanya terjadi bersamaan.

 RIAUCERDAS.COM, JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meminta pemerintah pusat dan daerah meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi fenomena El Nino yang diperkirakan terjadi pada Juli hingga September 2026.

Langkah antisipasi dinilai penting untuk mengurangi risiko kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, gangguan produksi pangan, penurunan kualitas udara, hingga tekanan terhadap inflasi daerah.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengatakan sejumlah wilayah di Indonesia telah memasuki musim kemarau sejak Juni.

Menurutnya, dampak El Nino terutama akan dirasakan di wilayah selatan garis khatulistiwa.

"Sampai dengan Juni ini ada beberapa daerah yang sudah mengalami musim kemarau. Jadi fenomena El Nino mempengaruhi bagian selatan garis khatulistiwa, mulai dari NTT, NTB, Bali, Jawa bagian pesisir, kemudian Sumatera bagian selatan," ujarnya.

Hal itu disampaikan Faisal dalam sosialisasi kesiapsiagaan menghadapi dampak fenomena El Nino pada rapat koordinasi pengendalian inflasi daerah yang diselenggarakan Kementerian Dalam Negeri dan disiarkan melalui YouTube Kemendagri, Senin (29/6/2026).

Ia menjelaskan, wilayah yang diperkirakan menerima dampak paling signifikan meliputi Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Sumatra bagian selatan, Kalimantan bagian selatan, Sulawesi, hingga Papua bagian selatan.

Menurut BMKG, pada periode Juli hingga Oktober 2026, curah hujan di wilayah tersebut diprediksi berada di bawah kondisi normal berdasarkan rata-rata klimatologis.

Berdasarkan hasil pemantauan BMKG, fenomena El nNno telah memasuki kategori kuat dengan peluang mencapai 98 persen.

"Oleh karena itu, elnino berpotensi menyebabkan penurunan curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia, terutama di bagian selatan garis khatulistiwa selama puncak musim kemarau," sebutnya.

Teuku Faisal menjelaskan bahwa El Nino merupakan fenomena iklim global yang memengaruhi distribusi curah hujan di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.

Ia menegaskan El Nino berbeda dengan musim kemarau.

Menurutnya, musim kemarau merupakan siklus tahunan, sedangkan El Nino terjadi secara periodik dan dapat memperkuat kondisi kering ketika berlangsung bersamaan dengan musim kemarau.

Ia menambahkan, El Nino diperkirakan berlangsung selama sembilan hingga 12 bulan.

Namun, kondisi tersebut tidak berarti Indonesia akan mengalami musim kemarau sepanjang periode itu.

“Yang perlu kita waspadai bukan lamanya El Nino, tetapi ketika fenomena ini bertepatan dengan musim kemarau. Pada periode itulah curah hujan menjadi lebih sedikit dibandingkan kondisi normal sehingga berbagai sektor perlu meningkatkan kesiapsiagaan,” kata dia.

Berdasarkan hasil pemantauan tersebut, BMKG mengajak seluruh kementerian, lembaga, serta pemerintah daerah memperkuat koordinasi lintas sektor agar dampak El Nino dapat diminimalkan.

“Saya yakin, dengan koordinasi lintas sektor yang kuat, akan membuat kita bangsa Indonesia jauh lebih tangguh dan siap dalam menghadapi fenomena iklim ini,” tandasnya. (*)