Pakar: Perang Tak Pernah Hilang, Kini Berubah Jadi “Jarak Jauh” dan Minim Sentuhan Manusia

Dosen UGM Satrio Dwicahyo menilai perang bukan sekadar naluri, melainkan hasil interaksi biologis, psikologis, dan sosial. Di era modern, teknologi membuat perang kian berjarak dan berpotensi mengurangi aspek kemanusiaan.

Pakar: Perang Tak Pernah Hilang, Kini Berubah Jadi “Jarak Jauh” dan Minim Sentuhan Manusia
Ilustrasi stop perang. (Sumber: Diolah dengan AI)

RINGKASAN BERITA:

  • Teknologi mengubah perang menjadi konflik jarak jauh yang minim kontak langsung.
  • Konsep “gimifikasi perang” dinilai dapat mengurangi beban moral pelaku konflik.
  • Perang dianggap tak bisa dihapus, hanya bisa dikendalikan dan terus berevolusi.

RIAUCERDAS.COM - Perkembangan teknologi dinilai telah mengubah wajah perang secara signifikan, dari pertempuran langsung menjadi konflik jarak jauh yang semakin minim interaksi manusia.

Fenomena ini bahkan memunculkan kecenderungan “gimifikasi perang” yang berpotensi mengurangi beban moral dalam konflik.

Dosen Program Studi Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM), Satrio Dwicahyo, M.Sc., M.A., menyebut bahwa perang tidak bisa dilihat sebagai satu faktor tunggal, melainkan hasil dari berbagai dimensi dalam diri manusia.

“Ada aspek biologis, psikologis, dan juga interaksi sosial. Perang dan kekerasan pada umumnya adalah gabungan dari dimensi-dimensi tersebut, hanya derajatnya yang berbeda-beda,” jelasnya dikutip dari laman UGM, Selasa (7/4/2026).

Ia menjelaskan, dalam perspektif sejarah, faktor-faktor tersebut terus berkembang seiring perubahan teknologi dan struktur masyarakat. Kondisi ini dapat memicu perang, namun juga membuka peluang untuk mencegahnya.

Terkait perdebatan asal-usul agresivitas manusia, Satrio menilai bahwa kekerasan dan perdamaian telah hadir bersamaan sejak awal peradaban.

“Manusia menggunakan kekerasan untuk bertahan hidup, tetapi pada saat yang sama juga mengembangkan mekanisme damai. Dalam banyak budaya, termasuk perspektif Timur, keduanya selalu berdampingan,” ujarnya.

Menurutnya, manusia tidak sepenuhnya bisa lepas dari potensi konflik, melainkan hanya mampu mengurangi kecenderungan tersebut melalui berbagai cara.

Dalam konteks modern, kemajuan teknologi memainkan peran besar dalam mengubah pola peperangan. Jarak bukan lagi hambatan, sehingga konflik dapat dilakukan tanpa keterlibatan langsung di medan tempur.

“Perang berubah menjadi aktivitas jarak jauh. Hal ini berpotensi menghilangkan unsur kemanusiaan, karena pelaku tidak lagi berhadapan langsung dengan lawannya,” ungkapnya.

Ia bahkan menyoroti munculnya fenomena “gimifikasi perang”, di mana konflik dijalankan layaknya permainan sehingga sensitivitas moral dapat berkurang.

Selain faktor teknologi, konflik juga dipengaruhi oleh identitas kelompok dan kepentingan sumber daya. Namun, ia menilai faktor identitas cenderung lebih dinamis, terlihat dari perubahan aliansi dalam sejarah, seperti hubungan Amerika Serikat dan Taliban yang berbalik arah dalam beberapa dekade.

Meski konflik global masih terus terjadi, berbagai upaya perdamaian tetap dikembangkan, mulai dari diplomasi hingga pembentukan organisasi internasional.

“Organisasi internasional seperti PBB hadir sebagai upaya menahan laju perang melalui norma dan hukum internasional. Namun, solusi yang relevan di satu masa belum tentu efektif di masa lain,” jelasnya.

Satrio menegaskan bahwa perang merupakan bagian dari perjalanan panjang manusia, sehingga sulit dihapus sepenuhnya.

“Arahnya bukan berhenti sepenuhnya, tetapi evolusi dalam cara pelaksanaannya. Bisa menjadi lebih baik, tetapi selalu ada kemungkinan juga menjadi lebih buruk,” pungkasnya. (*)