Atasi Anak Tidak Sekolah, Kemendikdasmen Luncurkan Gerakan PSPB

Kemendikdasmen mengaktifkan Gerakan Partisipasi Semesta Pendidikan Bermutu (PSPB) untuk menyatukan berbagai bentuk bantuan pendidikan dalam satu ekosistem kolaborasi. Program ini diharapkan mempercepat peningkatan mutu pendidikan sekaligus menjawab tantangan masih adanya 2,92 juta anak yang belum bersekolah.

Atasi Anak Tidak Sekolah, Kemendikdasmen Luncurkan Gerakan PSPB
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti saat meluncurkan Gerakan Partisipasi Semesta Pendidikan Bermutu (PSPB)

RINGKASAN BERITA:

  • Kemendikdasmen mengaktifkan Gerakan PSPB untuk menyatukan seluruh bentuk bantuan pendidikan dalam satu ekosistem kolaborasi nasional.
  • Sekitar 2,92 juta anak di Indonesia masih belum bersekolah sehingga diperlukan gotong royong seluruh elemen bangsa.
  • Kolaborasi difokuskan pada digitalisasi pembelajaran, beasiswa, peningkatan kompetensi guru, rehabilitasi sekolah, penguatan karakter, dan penanganan anak tidak bersekolah.

RIAUCERDAS.COM, JAKARTA - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengaktifkan Gerakan Partisipasi Semesta Pendidikan Bermutu (PSPB) sebagai upaya menyatukan berbagai bentuk dukungan masyarakat terhadap dunia pendidikan dalam satu ekosistem kolaborasi.

Langkah ini juga menjadi bagian dari strategi mempercepat peningkatan mutu pendidikan, termasuk menjawab tantangan masih adanya jutaan anak Indonesia yang belum mengenyam pendidikan.

Gerakan PSPB dirancang untuk mempertemukan pemerintah, dunia usaha dan dunia industri, lembaga filantropi, organisasi masyarakat, perguruan tinggi, media, komunitas, organisasi internasional, hingga individu agar berbagai bentuk bantuan pendidikan lebih tepat sasaran dan sesuai kebutuhan satuan pendidikan.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, mengatakan partisipasi dalam pendidikan tidak hanya diukur dari besarnya bantuan yang diberikan, melainkan dari manfaat yang dapat dirasakan masyarakat.

"It is not about how much we give others, tidak soal seberapa banyak yang kita berikan, tetapi how meaningful, seberapa besar makna yang bisa kita berikan dari pemberian kita kepada orang lain. Karena itu kami membuka pintu lewat Rumah Pendidikan kepada siapa pun untuk berpartisipasi," kata Abdul Mu'ti di Jakarta, Senin (6/7/2026).

Menurutnya, Presiden Prabowo telah memberikan izin kepada Kemendikdasmen untuk membangun kemitraan dalam mendukung pelaksanaan Asta Cita Presiden melalui partisipasi masyarakat yang dijalankan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

"Partisipasi semesta adalah dalam rangka pemenuhan kebutuhan, percepatan pelaksanaan program, peningkatan, dan perluasan," terangnya.

Abdul Mu'ti menuturkan kolaborasi lintas sektor diperlukan karena masih banyak kebutuhan pendidikan yang harus dipenuhi, mulai dari pengembangan bakat dan minat peserta didik, peningkatan kompetensi guru, penguatan pendidikan karakter, hingga penciptaan lingkungan belajar yang aman dan nyaman.

"Kami terus membuka diri untuk bermitra dengan berbagai pihak karena dengan cara kemitraan itulah kami bisa melakukan pemenuhan kebutuhan, percepatan, peningkatan, dan perluasan," ungkapnya.

Ia menambahkan pembangunan pendidikan tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fisik, tetapi juga perubahan pola pikir dan pembentukan karakter.

"Yang kita bangun adalah mindset. Yang kita bangun adalah manusia. Karena itu diperlukan sentuhan dari berbagai macam pihak," kata Mu'ti.

Menutup sambutannya, Abdul Mu'ti mengajak seluruh elemen bangsa menghidupkan semangat gotong royong dalam memajukan pendidikan.

"DNA bangsa Indonesia adalah gotong royong. Mari kita wujudkan bersama-sama pendidikan bermutu untuk semua secara merata, membangun generasi Indonesia yang hebat dan berkualitas," terangnya.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Kemendikdasmen, Suharti, mengatakan PSPB dibentuk karena selama ini berbagai kontribusi terhadap pendidikan masih berjalan secara terpisah sehingga belum selalu menjawab kebutuhan prioritas nasional.

"Kontribusi terhadap pendidikan sebenarnya sudah sangat banyak, tetapi berjalan secara tersebar, masing-masing dengan jalurnya sendiri. Akibatnya, dukungan belum selalu bertemu dengan kebutuhan prioritas nasional," ujarnya.

Suharti mengungkapkan Indonesia memiliki lebih dari 447 ribu satuan pendidikan yang melayani lebih dari 53 juta peserta didik.

Namun, sekitar 2,92 juta anak masih belum bersekolah, sementara capaian literasi dan numerasi juga masih membutuhkan perhatian.

Karena itu, menurutnya, peningkatan mutu pendidikan harus menjadi gerakan bersama.

Ruang kolaborasi kini tersedia melalui Superaplikasi Rumah Pendidikan pada Ruang Mitra yang dapat diakses melalui pspb.pendidikan.go.id.

"Pendidikan di Indonesia sejak dahulu adalah kerja gotong royong. Kebutuhan pendidikan sangat besar dan tidak bisa dikerjakan oleh Kemendikdasmen sendiri," kata Suharti.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, menyampaikan dukungannya terhadap Gerakan PSPB.

Ia menilai inisiatif tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun ekosistem partisipasi masyarakat yang berkelanjutan.

"Yang akan diciptakan bukan sekadar program, tetapi ekosistem partisipasinya. Solusi bersama dan ruang-ruang partisipasi yang dibukakan bukan hanya kepada guru, kepala sekolah, satuan pendidikan, dan pemerintah daerah, tetapi juga kepada mitra-mitra pembangunan. Pendekatan inilah yang kami yakini akan memperkuat kualitas kebijakan kita," kata Hetifah.

Peluncuran gerakan ini dihadiri 58 mitra pembangunan pendidikan yang berasal dari dunia usaha dan industri, lembaga filantropi, organisasi masyarakat, perguruan tinggi, media, komunitas, organisasi internasional, serta berbagai lembaga lainnya.

Ke depan, sistem kemitraan berbasis data akan dikembangkan untuk mempertemukan kebutuhan satuan pendidikan dengan calon kontributor, mencakup digitalisasi pembelajaran, rehabilitasi sarana dan prasarana, penyediaan beasiswa, peningkatan kompetensi guru, penguatan pendidikan karakter, hingga penanganan anak tidak bersekolah. (*)