Kemendikdasmen Kebut Revitalisasi 3.101 Sekolah Pascabencana

Kemendikdasmen mempercepat revitalisasi ribuan sekolah terdampak bencana hidrometeorologi di Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara. Hingga akhir Mei 2026, sebanyak 3.101 sekolah telah menandatangani kerja sama revitalisasi dengan total bantuan mencapai Rp2,9 triliun.

Kemendikdasmen Kebut Revitalisasi 3.101 Sekolah Pascabencana
Kemendikdasmen terus mempercepat pemulihan layanan pendidikan di wilayah terdampak bencana hidrometeorologi di Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara. (Sumber: Kemendikdasmen)

RINGKASAN BERITA:

  • Sebanyak 3.101 sekolah terdampak bencana mendapat bantuan revitalisasi senilai Rp2,9 triliun.
  • Lebih dari 707 ribu siswa dan 59 ribu guru terdampak bencana hidrometeorologi di tiga provinsi.
  • Pemerintah menargetkan 311 sekolah selesai direvitalisasi sebelum tahun ajaran baru Juli 2026.

RIAUCERDAS.COM, JAKARTA - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus mempercepat pemulihan layanan pendidikan di wilayah terdampak bencana hidrometeorologi di Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara.

Hingga 25 Mei 2026, sebanyak 3.101 sekolah telah menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) revitalisasi dengan nilai bantuan mencapai Rp2,9 triliun.

Program percepatan revitalisasi dilakukan untuk memastikan proses belajar mengajar dapat kembali berjalan normal menjelang tahun ajaran baru 2026/2027.

Berdasarkan data Kemendikdasmen, bencana tersebut berdampak terhadap 4.922 satuan pendidikan, sekitar 707.161 peserta didik, serta 59.620 guru dan tenaga kependidikan (GTK).

Dari total sekolah yang telah melakukan PKS revitalisasi, sebanyak 3.033 sekolah sudah menerima pencairan dana tahap pertama sebesar 70 persen dengan nilai total Rp2 triliun.

Sebagian besar revitalisasi, yakni 2.834 sekolah, dikerjakan secara swakelola oleh pihak sekolah.

Sementara 267 sekolah yang mengalami kerusakan berat atau membutuhkan relokasi ditangani oleh TNI AD.

Masih terdapat 68 sekolah lain yang sedang menunggu proses penyaluran bantuan dengan total anggaran Rp31,7 miliar.

Kemendikdasmen juga mencatat progres pembangunan revitalisasi terus berjalan.

Dari 3.033 sekolah penerima dana tahap pertama, sebanyak 28 sekolah telah mencapai progres fisik di atas 70 persen, 223 sekolah berada pada kisaran 51–70 persen, 574 sekolah mencapai 31–50 persen, dan 2.208 sekolah masih di bawah 30 persen.

Pemerintah menargetkan sedikitnya 311 sekolah selesai 100 persen sebelum dimulainya tahun ajaran baru pada Juli 2026.

Selain revitalisasi sekolah, pemerintah juga menyalurkan bantuan khusus kepada guru dan tenaga kependidikan terdampak bencana.

Dari total 59.270 GTK terdampak, sebanyak 52.513 orang telah menerima bantuan dengan total anggaran lebih dari Rp315 miliar.

Direktur Jenderal PAUD Dikdas dan PNFI, Gogot Suharwoto, mengatakan saat ini sebanyak 31 sekolah relokasi yang telah melakukan PKS sedang dalam proses pengerjaan oleh TNI AD.

Secara keseluruhan, masih terdapat 66 sekolah yang harus direlokasi dan belum melakukan PKS karena masih dalam tahap koordinasi penyediaan lahan dengan pemerintah daerah.

"Dari 66 sekolah tersebut, 23 sekolah belum tersedia lahannya, 16 sekolah masih dalam proses pengurusan lahan, dan 27 sekolah lainnya telah tersedia lahannya namun masih menunggu dokumen legalitas lahan dikirimkan oleh pemerintah daerah kepada Kemendikdasmen,” ujar Gogot Suharwoto di Jakarta, Jumat (29/5/2026).

Di Kabupaten Aceh Tamiang, revitalisasi SLBN Pembina Aceh Tamiang terus dipercepat agar dapat digunakan pada tahun ajaran baru mendatang.

Kepala SLBN Pembina Aceh Tamiang, Supranata, mengatakan progres pembangunan saat ini telah mencapai 24,4 persen dan ditargetkan selesai pada Juni 2026.

Untuk saat ini proges revitalisasi sudah sampai 24,4%. Pemerintah menargetkan di bulan Juni sudah bisa menyelesaikan pembangunan.

"Sejauh ini proses pengerjaan tinggal pekerjaan pasang keramik, plafon, mengecat, serta pasang kusen. Pekerjaan yang paling berat kemarin adalah membuang lumpur dan menimbun balik lumpurnya,” kata dia.

Ia menjelaskan, pascabanjir bandang akhir November 2025 lalu, seluruh bangunan sekolah sempat tertutup lumpur setinggi lutut orang dewasa dan menyebabkan kerusakan parah pada lantai maupun atap sekolah.

Meski revitalisasi masih berlangsung, kegiatan belajar mengajar tetap dilakukan menggunakan tiga ruang kelas darurat, gedung keterampilan, dan mushola.

“Kami terus kebut pembangunan ini agar selesai tepat waktu di bulan Juni. Sambil menunggu proses revitalisasi, pembelajaran di sekolah masih memanfaatkan tiga ruang kelas darurat (RKD), gedung keterampilan, dan mushola. Puji syukur dengan jam waktu belajar yang sudah kami atur, aktivitas belajar mengajar anak-anak tidak terganggu,” tutur Supranata.

Sementara itu, Kepala SMK Ummul Ayman Kabupaten Pidie Jaya, Faisal, menyebut progres pembangunan ruang kelas baru di sekolahnya hampir mencapai 50 persen.

“Kebetulan bangunanya tinggi, jadi tidak terlalu terdampak banjir dan banyak ruangan kelas. Jadi, kami manfaatkan bangunan ini berserta ruang kelas darurat yang telah dibangun oleh Kemendikdasmen,” kata Faisal.

Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Tatang Muttaqin, menegaskan pemerintah terus berupaya menghadirkan lingkungan belajar yang aman dan layak bagi siswa terdampak bencana.

Revitalisasi untuk sekolah terdampak bencana ini merupakan bagian dari tahap pemulihan pembelajaran yang harapannya sudah bisa digunakan pada tahun ajaran baru.

Meskipun belum bisa penuh 100 persen karena tingkat kerusakan bangunan yang beragam, pihaknya terus berupaya untuk memastikan seluruh murid dapat belajar dalam lingkungan yang aman dan layak pada tahun ajaran baru.

"Termasuk penyediaan ruang kelas darurat yang bersifat sementara di saat pembangunan belum selesai,” pungkas Tatang. (*)