Ikan Sapu-Sapu Jadi Ancaman Ekosistem Air Tawar, Akademisi UIR Minta Mitigasi Serius

Ikan sapu-sapu yang dikenal sebagai ikan pembersih akuarium kini menjadi spesies invasif berbahaya di perairan Indonesia karena mengancam populasi ikan lokal dan merusak ekosistem.

Ikan Sapu-Sapu Jadi Ancaman Ekosistem Air Tawar, Akademisi UIR Minta Mitigasi Serius
Ilustrasi. (Sumber: Diolah dengan AI)

RINGKASAN BERITA:

  • Ikan sapu-sapu dinilai mengancam populasi ikan lokal di Indonesia
  • Perilaku menggali sarang picu erosi dan pendangkalan perairan
  • Akademisi dorong mitigasi terpadu dan edukasi masyarakat.

RIAUCERDAS.COM - Penyebaran ikan sapu-sapu di berbagai perairan Indonesia kini menjadi perhatian serius karena berpotensi merusak keseimbangan ekosistem air tawar.

Spesies asing invasif ini dinilai mampu mendominasi habitat dan menekan keberadaan ikan lokal jika tidak segera dikendalikan.

Ikan sapu-sapu atau Hypostomus plecostomus yang berasal dari Sungai Amazon, Brasil, dikenal memiliki kemampuan adaptasi tinggi terhadap berbagai kondisi lingkungan, termasuk perairan tercemar.

Dosen Program Studi Akuakultur Fakultas Pertanian Universitas Islam Riau (UIR), Muhammad Hasby, mengatakan ikan ini bukan sekadar perusak, tetapi juga mampu mengubah dinamika ekologis perairan.

“Akar permasalahannya adalah ikan ini memiliki keunggulan ekologis yang tinggi sebagai spesies invasif. Hal ini telah banyak dibuktikan dalam berbagai kajian ilmiah, baik nasional maupun internasional,” ujarnya dikutip dari laman UIR, Rabu (22/4/2026).

Menurutnya, kemampuan adaptasi ekstrem atau ecological plasticity menjadi salah satu faktor utama yang membuat populasi ikan sapu-sapu berkembang pesat.

Spesies ini dapat bertahan hidup di lingkungan dengan kadar oksigen rendah dan kondisi air yang buruk.

Selain memakan detritus, alga, dan bahan organik, ikan ini juga diketahui memangsa telur ikan lokal.

Kondisi tersebut memicu persaingan ekologis yang menyebabkan ikan asli kalah bersaing dan populasinya menurun.

Dampak lain yang dinilai sangat merugikan adalah kebiasaan ikan sapu-sapu menggali lubang di tepi sungai atau danau untuk bersarang.

Aktivitas ini dapat memicu erosi tebing dan meningkatkan sedimentasi.

Akibatnya, perairan menjadi dangkal dan habitat ikan lokal semakin terganggu.

Dalam kondisi pencemaran, ikan lokal kerap mati, sementara ikan sapu-sapu justru mampu bertahan dan berkembang lebih cepat.

Kemampuan mengambil oksigen langsung dari udara membuat spesies ini lebih unggul di lingkungan ekstrem, sehingga memicu ledakan populasi di perairan tercemar.

Dr. Hasby menilai pemerintah perlu memperketat pengawasan terhadap masuknya spesies asing serta meningkatkan edukasi kepada masyarakat agar tidak melepas ikan hias ke alam liar.

Ia menyarankan strategi pengendalian terpadu melalui penangkapan intensif, pemanfaatan ikan sebagai pakan bernilai ekonomi, edukasi masyarakat, regulasi perdagangan spesies invasif, dan restocking ikan lokal.

Selain itu, perubahan pola pikir masyarakat juga dianggap penting.

Kebiasaan memelihara ikan sapu-sapu sebagai ikan hias lalu membuangnya ke perairan umum dinilai menjadi pemicu utama penyebaran yang tidak terkendali.

Pemanfaatan ikan sapu-sapu sebagai produk bernilai ekonomi dinilai dapat menjadi solusi agar spesies ini tidak lagi dipandang sebagai limbah ekologis, melainkan sumber daya yang dapat dikelola. (*)