IPB Kembangkan Varietas Adaptif Lahan Suboptimum, Sorgum hingga Gandum Tropika Jadi Solusi Pangan

IPB mengembangkan varietas tanaman adaptif seperti sorgum dan gandum tropika untuk memanfaatkan lahan suboptimum, sebagai strategi memperkuat ketahanan pangan nasional.

IPB Kembangkan Varietas Adaptif Lahan Suboptimum, Sorgum hingga Gandum Tropika Jadi Solusi Pangan
Ilustrasi Sorgum (Sumber: azerbaijan_stockers on Freepik)

RINGKASAN BERITA:

  • IPB fokus pada pemuliaan tanaman untuk lahan suboptimum.

  • Sorgum dan gandum tropika jadi komoditas unggulan pengganti impor.

  • Varietas adaptif dinilai penting untuk swasembada pangan nasional.

RIAUCERDAS.COM, BOGOR - IPB University menawarkan terobosan pemuliaan tanaman adaptif untuk lahan suboptimum sebagai solusi ketahanan pangan di tengah perubahan iklim dan ketergantungan impor gandum.

Inovasi ini mencakup pengembangan varietas tangguh seperti sorgum hingga gandum tropika.

Guru Besar Fakultas Pertanian IPB, Prof. Trikoesoemaningtyas, menyebut lahan suboptimum menjadi peluang strategis bagi masa depan pangan nasional.

Dari total 189,1 juta hektare daratan Indonesia, sekitar 91,1 juta hektare tergolong lahan dengan keterbatasan, seperti tanah masam, salinitas, hingga defisiensi hara.

Menurutnya, kondisi cekaman abiotik tersebut menyebabkan pertumbuhan tanaman tidak optimal.

Karena itu, pemuliaan tanaman diarahkan untuk meningkatkan adaptasi dan stabilitas hasil pada lingkungan yang kurang ideal.

Melalui pendekatan fisiologi dan analisis genetik, tim peneliti mengidentifikasi sifat toleran terhadap lingkungan ekstrem.

Karakter seleksi tersebut kemudian dikembangkan untuk mempercepat kemajuan genetik dan menghasilkan varietas yang lebih efisien dan adaptif.

Program pemuliaan ini bertumpu pada tiga pilar utama, yakni ketahanan, keberlanjutan, dan kemanusiaan.

Varietas yang dihasilkan diharapkan tidak hanya tangguh, tetapi juga hemat input dan mampu meningkatkan kesejahteraan petani.

Salah satu komoditas yang dikembangkan adalah sorgum, tanaman pangan kelima terbesar di dunia dengan kandungan protein sekitar 11 persen.

Selain dapat diolah menjadi tepung bergizi, sorgum bersifat bebas gluten sehingga cocok bagi masyarakat dengan intoleransi gluten.

Tak hanya sebagai pangan alternatif, sorgum juga memiliki potensi sebagai bahan bioetanol dan biomassa energi.

Kemampuannya tumbuh di tanah masam dinilai dapat meningkatkan produktivitas sekaligus menekan penggunaan pupuk dan kapur.

Dalam upaya mengurangi ketergantungan impor gandum yang mencapai 12,7 juta ton pada 2024, IPB juga mengembangkan gandum tropika melalui pendekatan fisiologi dan genetik.

Bersama Konsorsium Penelitian Gandum, dua varietas telah dilepas, yakni Guri-7-Agritan dan Guri-8-Agritan yang adaptif di dataran menengah tropika.

Meski produksinya belum mencukupi kebutuhan skala besar, gandum hasil pemuliaan peneliti Indonesia dinilai layak sebagai sumber pangan bergizi.

Ke depan, varietas sorgum direkomendasikan untuk lahan suboptimum seperti lahan kering masam, lahan beriklim kering, hingga lahan bekas tambang.

Sementara gandum tropika diarahkan untuk dataran menengah sekitar 400–600 mdpl.

Menurut Prof. Trikoesoemaningtyas, upaya swasembada pangan membutuhkan ekspansi produksi ke lahan suboptimum.

Kebutuhan varietas adaptif diprediksi akan terus meningkat guna menjaga stabilitas hasil dan memperkuat ketahanan pangan nasional. (*)