Ikan Sapu-Sapu Jakarta Tak Layak Konsumsi, Akademisi Dorong Diolah Jadi Pupuk Bernilai Ekonomi
Ikan sapu-sapu di perairan tercemar Jakarta berisiko mengandung logam berat dan tidak aman dikonsumsi. Akademisi IPB menyarankan pemanfaatannya sebagai pupuk cair untuk solusi ramah lingkungan.
RINGKASAN BERITA:
- Ikan sapu-sapu di perairan Jakarta tidak aman dikonsumsi karena berisiko mengandung logam berat.
- Akademisi IPB menyarankan pemanfaatan ikan tersebut menjadi pupuk cair bernilai ekonomi.
- Populasi ikan sapu-sapu sulit dikendalikan dan mengancam keseimbangan ekosistem perairan lokal.
RIAUCERDAS.COM - Pemanfaatan ikan sapu-sapu (pleco) hasil pembasmian di perairan DKI Jakarta menjadi sorotan, menyusul tingginya risiko kandungan logam berat yang membuatnya tidak layak konsumsi.
Kondisi ini mendorong akademisi untuk mencari alternatif pemanfaatan yang lebih aman sekaligus bernilai ekonomi.
Guru Besar Teknologi Hasil Perikanan IPB University, Prof. Mala Nurilmala, menegaskan bahwa ikan sapu-sapu dari perairan tercemar tidak dapat dimanfaatkan untuk konsumsi manusia maupun pakan ternak.
Hal ini disebabkan potensi akumulasi logam berat yang berbahaya dalam rantai makanan.
“Ikan dari perairan tercemar tidak hanya berisiko bagi manusia, tetapi juga jika digunakan sebagai pakan ternak. Logam beratnya bisa terakumulasi,” jelasnya dikutip dari laman IPB University, Selasa (28/4/2026).
Sebagai solusi, Prof. Mala mendorong agar hasil pembasmian ikan sapu-sapu tidak dibuang sia-sia, melainkan diolah menjadi produk yang lebih aman, seperti pupuk cair untuk tanaman hias.
Pendekatan ini dinilai mampu mengurangi limbah sekaligus memberikan nilai tambah.
“Sebaiknya ikan sapu-sapu dimanfaatkan untuk pupuk cair tanaman hias. Memang tidak bisa digunakan lagi untuk makhluk hidup karena berada di perairan yang sangat tercemar oleh logam berat,” kata dia.
Ia menjelaskan, kondisi tersebut berbeda jika ikan sapu-sapu hidup di perairan yang bersih.
Dalam lingkungan yang tidak tercemar, ikan ini masih memungkinkan untuk dimanfaatkan seperti ikan pada umumnya.
Lebih lanjut, Prof. Mala menyoroti karakter ikan sapu-sapu yang sangat adaptif sehingga populasinya sulit dikendalikan.
Tanpa kehadiran predator alami, spesies invasif ini dapat berkembang pesat dan mengancam keberadaan ikan lokal.
“Sebenarnya ikan ini bisa membantu menyerap logam di perairan. Namun karena ekosistemnya tidak seimbang, populasinya menjadi sangat banyak dan berdampak negatif,” ujarnya.
Dalam konteks pengendalian populasi, pemanfaatan menjadi pupuk dinilai lebih efektif dibandingkan sekadar penguburan.
Selain mengurangi limbah organik yang sulit terurai, langkah ini juga membuka peluang pemanfaatan yang lebih berkelanjutan.
Dengan demikian, pembasmian ikan sapu-sapu tidak hanya berfokus pada pengendalian spesies invasif, tetapi juga dapat diarahkan menjadi solusi inovatif yang memberi manfaat bagi lingkungan dan masyarakat. (*)


