Riset BRIN: Mangrove Efektif Serap Limbah dan Logam Berat, Jadi Kunci Budidaya Laut Berkelanjutan
Penelitian BRIN mengungkap mangrove mampu menyerap limbah hingga logam berat di perairan. Pemanfaatannya dinilai menjadi solusi strategis menjaga kualitas lingkungan budidaya laut.
RINGKASAN BERITA:
- Riset BRIN membuktikan mangrove mampu menyerap limbah hingga logam berat seperti merkuri.
- Penggunaan mangrove meningkatkan ketahanan udang terhadap penyakit dalam sistem budidaya.
- Penurunan tutupan mangrove terbukti berdampak pada turunnya hasil panen rumput laut masyarakat.
RIAUCERDAS.COM, JAKARTA - Kemampuan mangrove dalam menyerap limbah hingga logam berat kini menjadi sorotan sebagai solusi utama menjaga kualitas lingkungan budidaya laut.
Riset terbaru Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan ekosistem ini berperan penting sebagai biofilter alami yang mampu menekan dampak pencemaran perairan.
Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Budidaya Laut BRIN, Moh. Awaludin Adam, menjelaskan bahwa aktivitas budidaya laut intensif seperti ikan, udang, dan rumput laut menghasilkan limbah organik dan anorganik yang berpotensi mencemari perairan.
“Kegiatan budidaya laut secara intensif seperti budidaya ikan, kemudian udang maupun rumput laut secara tidak langsung itu akan menghasilkan limbah organik dan anorganik yang berasal dari sisa pakan. Kemudian ada metabolisme organisme serta beberapa bahan pendukung lainnya,” kata Adam dalam Webinar Ocean Farm X seperti dikutip dari laman BRIN, Selasa (28/4/2026).
Menurutnya, akumulasi limbah tersebut dapat memicu eutrofikasi, yakni peningkatan nutrien berlebih seperti nitrogen dan fosfor yang mengganggu keseimbangan ekosistem.
Kondisi ini dapat berlanjut menjadi hipoksia atau penurunan oksigen terlarut yang berisiko menyebabkan stres hingga kematian organisme budidaya, serta meningkatkan potensi serangan patogen.
Sebagai solusi, Awaludin menawarkan pendekatan berbasis ekosistem melalui pemanfaatan mangrove sebagai biofilter alami.
Tanaman ini memiliki kemampuan menyerap, mengendapkan, serta menguraikan limbah dan polutan di perairan.
“Salah satu pendekatan yang potensial di sini adalah bagaimana kita memanfaatkan ekosistem mangrove sebagai biofilter alami yang mampu menyerap, mengendapkan, dan menguraikan limbah serta polutan,” jelasnya.
Hasil riset BRIN menunjukkan mangrove juga mampu menyerap logam berat seperti merkuri.
Zat tersebut terdeteksi pada bagian akar, batang, hingga daun setelah dilakukan uji paparan.
“Hasil riset kami, pada kondisi kontrol tanpa paparan, tidak ditemukan merkuri. Namun setelah dilakukan perlakuan, kami menemukan adanya serapan merkuri oleh mangrove pada akar, batang, dan daunnya,” paparnya.
Penerapan mangrove dalam sistem budidaya juga menunjukkan dampak positif.
Dalam uji coba pada tambak udang semi-intensif, keberadaan mangrove terbukti meningkatkan ketahanan udang terhadap patogen, meski produksi tidak setinggi sistem intensif.
Selain itu, BRIN mendorong penerapan strategi budidaya berkelanjutan seperti Integrated Multi-Trophic Aquaculture (IMTA), rehabilitasi mangrove, serta pengaturan zonasi sesuai daya dukung lingkungan.
Upaya ini diperkuat melalui riset komprehensif mulai dari pemantauan kualitas air, analisis polutan, hingga pemodelan lingkungan.
Sebagai inovasi tambahan, peneliti juga mengembangkan penggunaan daun ketapang sebagai pengganti polybag plastik dalam pembibitan mangrove.
Inovasi ini dinilai mampu mendukung pertumbuhan akar sekaligus mengurangi limbah plastik di wilayah pesisir.
Di sisi lain, riset lapangan di Teluk Seriwe mengungkap penurunan kualitas lingkungan akibat berkurangnya tutupan mangrove.
Dampaknya, hasil panen rumput laut masyarakat mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir.
Kajian lain juga menemukan keberadaan mikroplastik di kawasan mangrove, bahkan pada produk garam.
Temuan ini menegaskan pentingnya pengelolaan lingkungan pesisir secara menyeluruh.
“Mangrove itu sebagai solusi alami yang strategis dalam kegiatan budidaya laut. Fungsi ekologis utamanya adalah sebagai biofilter, dan secara efektif serta berkelanjutan sangat dibutuhkan dalam kegiatan budidaya laut,” pungkasnya.
Awaludin menegaskan, pemanfaatan mangrove perlu diperluas melalui kolaborasi lintas sektor agar keberlanjutan budidaya laut dapat terjaga secara optimal. (*)


