Mahasiswa Kukerta Unri Tanamkan Budaya Saling Menghargai Lewat Sosialisasi Stop Bullying di SDN 006 Redang

Mahasiswa Kukiah Kerja Nyata Universitas Riau menggelar sosialisasi Stop Bullying di SD Negeri 006 Redang, Kecamatan Rengat Barat, Kabupaten Indragiri Hulu. Kegiatan ini bertujuan membangun kesadaran siswa untuk menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan bebas dari perundungan.

Mahasiswa Kukerta Unri Tanamkan Budaya Saling Menghargai Lewat Sosialisasi Stop Bullying di SDN 006 Redang
Mahasiswa Kukerta Universitas Riau menggelar sosialisasi Stop Bullying untuk membangun budaya saling menghargai di SD Negeri 006 Redang. (Sumber: Kelompok Kukerta Unri Desa Redang)

RINGKASAN BERITA:

  • Mahasiswa Kukerta Universitas Riau menggelar sosialisasi Stop Bullying untuk membangun budaya saling menghargai di SD Negeri 006 Redang.
  • Siswa dikenalkan berbagai bentuk bullying, dampaknya, serta pentingnya berani melapor jika melihat atau mengalami perundungan.
  • Edukasi dikemas secara interaktif melalui presentasi, diskusi, tanya jawab, dan contoh-contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa.

RIAUCERDAS.COM, INDRAGIRI HULU - Membangun budaya saling menghargai sejak usia sekolah dasar menjadi fokus kegiatan sosialisasi Stop Bullying yang digelar mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (Kukerta) Universitas Riau (Unri) di SD Negeri 006 Redang, Kecamatan Rengat Barat, Kabupaten Indragiri Hulu, Sabtu (18/7/2026) lalu. 

Edukasi tersebut diharapkan mampu mendorong terciptanya lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan ramah bagi seluruh peserta didik.

Kegiatan berlangsung setelah senam pagi, mulai pukul 08.30 WIB hingga 10.00 WIB, dengan melibatkan siswa-siswi SD Negeri 006 Redang.

Seluruh rangkaian acara mendapat dukungan dari pihak sekolah sehingga penyampaian materi berlangsung tertib dan lancar.

Dalam sosialisasi tersebut, mahasiswa Kukerta, Khairatul Nabila yang juga mahasiswa Bimbingan Konseling menjelaskan bahwa bullying merupakan perilaku yang dapat memberikan dampak negatif terhadap perkembangan psikologis, emosional, dan sosial anak.

Karena itu, pencegahan perundungan perlu ditanamkan sejak dini agar siswa memiliki karakter yang berempati, saling menghormati, dan mampu menjalin hubungan sosial yang sehat.

Materi yang disampaikan Khairatul meliputi pengertian bullying, berbagai bentuk perundungan yang dapat terjadi di lingkungan sekolah, dampak yang ditimbulkan bagi korban maupun pelaku, serta langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya tindakan tersebut.

Selain itu, siswa juga diajak memahami pentingnya menghargai perbedaan, menghindari tindakan yang dapat menyakiti orang lain, serta berani melaporkan kepada guru apabila melihat atau mengalami perundungan di sekolah.

Agar materi lebih mudah dipahami, pihak mahasiswa menyampaikan edukasi melalui presentasi, diskusi, sesi tanya jawab, serta contoh-contoh sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa.

Metode interaktif tersebut membuat peserta aktif menjawab pertanyaan, menyampaikan pendapat, dan mengikuti kegiatan hingga selesai.

Melalui program ini, mahasiswa Kukerta Unri berharap siswa memahami bahwa setiap anak berhak memperoleh rasa aman dan nyaman selama berada di lingkungan sekolah.

Pencegahan bullying juga diharapkan menjadi tanggung jawab bersama seluruh warga sekolah, termasuk peserta didik, dalam membangun budaya saling menghargai dan saling membantu.

Sosialisasi Stop Bullying ini merupakan bagian dari program pengabdian masyarakat mahasiswa Kukerta Unri. 

Diharapkan edukasi yang diberikan dapat menjadi bekal bagi siswa untuk menerapkan perilaku positif dalam kehidupan sehari-hari sekaligus menjadi langkah awal mewujudkan sekolah yang ramah anak dan bebas dari perundungan. (rls)