BRIN Dorong Teknologi Kurangi Food Loss dan Food Waste

BRIN menilai pengurangan kehilangan hasil panen dan limbah pangan menjadi langkah strategis dalam memperkuat ketahanan pangan nasional. Berbagai inovasi pertanian, pascapanen, hingga pemanfaatan teknologi cerdas terus dikembangkan untuk mendukung target Indonesia Emas 2045.

BRIN Dorong Teknologi Kurangi Food Loss dan Food Waste
Acara Economic Conference of the National Sustainable Food Programme: Ketahanan Pangan untuk Indonesia Emas yang digelar Metro TV bersama Bank Indonesia di Ballroom Hotel Kempinski, Jakarta, Rabu (10/6/2026). (Sumber: BRIN)

RINGKASAN BERITA: 

  • BRIN menilai pengurangan food loss dan food waste dapat membantu menyediakan pangan bagi jutaan orang sekaligus menekan kerugian ekonomi.
  • Teknologi pascapanen yang dikembangkan BRIN mampu memperpanjang masa simpan cabai, bawang merah, buah-buahan, dan beras tanpa bergantung pada suhu rendah.
  • Riset pertanian masa depan akan difokuskan pada AI, IoT, genomik, dan Smart Farming untuk meningkatkan produktivitas secara berkelanjutan.

RIAUCERDAS.COM, JAKARTA - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menempatkan pengurangan food loss dan food waste sebagai salah satu strategi penting dalam memperkuat ketahanan pangan nasional.

Melalui pengembangan teknologi dan inovasi di sektor pertanian hingga pascapanen, BRIN berupaya meningkatkan ketersediaan pangan sekaligus mendukung pencapaian visi Indonesia Emas 2045.

Komitmen tersebut disampaikan Kepala BRIN, Arif Satria, saat menghadiri Economic Conference of the National Sustainable Food Programme: Ketahanan Pangan untuk Indonesia Emas yang digelar Metro TV bersama Bank Indonesia di Ballroom Hotel Kempinski, Jakarta, Rabu (10/6/2026).

Menurut Arif, tantangan pangan yang dihadapi Indonesia tidak hanya berkaitan dengan peningkatan produksi, tetapi juga tingginya kehilangan hasil panen dan limbah pangan yang masih terjadi di berbagai sektor.

Ia menjelaskan bahwa upaya menekan food loss dan food waste berpotensi memberikan manfaat besar, mulai dari penyediaan pangan bagi jutaan masyarakat, pengurangan emisi gas rumah kaca, hingga menekan kerugian ekonomi yang ditimbulkan akibat terbuangnya produk pangan.

Dalam mendukung agenda tersebut, BRIN telah mengembangkan berbagai inovasi di sektor pangan dan pertanian.

Inovasi tersebut mencakup pengembangan varietas unggul yang mampu beradaptasi dengan kondisi lingkungan tertentu, teknologi peningkatan produktivitas pertanian, hingga inovasi peternakan yang menghasilkan ternak unggul dengan karakteristik yang lebih baik.

Di bidang pascapanen, BRIN juga menghadirkan teknologi yang dapat memperpanjang masa simpan produk pertanian tanpa ketergantungan pada suhu rendah.

Teknologi ini memungkinkan komoditas seperti cabai, bawang merah, buah-buahan, dan beras memiliki daya tahan lebih lama sehingga dapat mengurangi tingkat kerusakan produk sekaligus membuka peluang pasar ekspor yang lebih besar.

Dalam paparannya, Arif menegaskan bahwa tantangan seperti stunting, ketergantungan impor pangan, serta kebutuhan transformasi industri berbasis inovasi harus menjadi perhatian bersama.

“Dalam bidang pangan, berbagai tantangan seperti stunting, ketergantungan impor, ketahanan pangan, dan perlunya transformasi industri berbasis inovasi harus menjadi perhatian bersama agar Indonesia dapat menjadi lumbung pangan yang berkelanjutan dan berdaya saing global,” kata Arif.

Untuk memperkuat sistem pangan nasional di masa mendatang, BRIN akan mengarahkan riset pertanian pada pemanfaatan teknologi genomik, kecerdasan buatan (AI), Internet of Things (IoT), serta sistem pertanian cerdas atau smart farming.

“Ke depan, arah riset pertanian akan difokuskan pada pemanfaatan genomik, kecerdasan buatan (AI), Internet of Things, serta sistem pertanian cerdas (smart farming) untuk meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk, pengelolaan karbon, dan produktivitas lahan secara berkelanjutan,” jelas Arif.

Selain itu, penguatan kedaulatan benih, peningkatan produktivitas komoditas strategis, modernisasi sektor perikanan, dan penerapan Smart Farming 4.0 juga menjadi bagian dari agenda penguatan ketahanan pangan nasional.

“Masa depan ketahanan pangan Indonesia bergantung pada inovasi, regenerasi kualitas tanah, kolaborasi riset, serta pemanfaatan infrastruktur laboratorium secara optimal untuk menghasilkan solusi yang berdampak nyata bagi masyarakat,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Deputi Gubernur Bank Indonesia Ricky Perdana Gozali menyebut ketahanan pangan sebagai fondasi penting bagi stabilitas ekonomi nasional.

Menurutnya, meningkatnya jumlah penduduk yang kini telah melampaui 280 juta jiwa, pertumbuhan pendapatan masyarakat, serta perubahan pola konsumsi membuat kebutuhan pangan nasional terus meningkat.

Namun, Indonesia masih menghadapi sejumlah kendala, mulai dari distribusi pangan yang belum efisien, keterbatasan fasilitas pascapanen, perubahan iklim, hingga ketidakpastian global yang memengaruhi rantai pasok dan harga pangan.

“Di sisi lain, Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan seperti distribusi pangan yang belum efisien, keterbatasan fasilitas pascapanen, perubahan iklim, serta ketidakpastian global yang memengaruhi rantai pasok dan harga pangan,” tutur Ricky.

Untuk mengatasi tantangan tersebut, Bank Indonesia bersama pemerintah terus memperkuat koordinasi melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP) dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).

Keduanya juga menjalankan Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) 2026 yang menitikberatkan pada peningkatan produktivitas pertanian, pemanfaatan teknologi dan digitalisasi, penguatan distribusi pangan, serta pengembangan klaster pangan di berbagai wilayah.

Sementara itu, Direktur Utama Metro TV Arif Suditomo menegaskan bahwa ketahanan pangan merupakan elemen penting bagi stabilitas ekonomi, kesejahteraan masyarakat, dan ketahanan nasional.

Ia berharap forum tersebut mampu mempertemukan berbagai pemangku kepentingan untuk menghasilkan gagasan dan solusi dalam memperkuat sistem pangan nasional.

“Metro TV tidak hanya berkomitmen menyampaikan informasi kepada publik, tetapi juga mendorong literasi dan kolaborasi yang dapat memperkuat ketahanan pangan nasional serta mendukung terwujudnya Indonesia Emas 2045,” ujar Arif. (*)