Digitalisasi Sekolah Kian Menguat Seiring Penggunaan Interactive Flat Panel

Pemanfaatan Papan Interaktif Digital (PID) di sekolah memperkuat pembelajaran interaktif dan visual, didukung distribusi nasional yang telah mencapai 100 persen serta rencana penambahan perangkat pada 2026.

Digitalisasi Sekolah Kian Menguat Seiring Penggunaan Interactive Flat Panel
Praktik pemanfaatan Papan Interaktif Digital (PID) atau Interactive Flat Panel (IFP) di satuan pendidikan. (Sumber: Kemendikdasmen)

RINGKASAN BERITA;

  • Sekitar 288 ribu satuan pendidikan telah menerima PID dengan tingkat distribusi 100 persen.

  • Pemanfaatan museum virtual dan gim interaktif meningkatkan partisipasi siswa.

  • Pemerintah merencanakan tambahan tiga PID per sekolah pada 2026.

RIAUCERDAS.COM, DEPOK - Pemanfaatan Papan Interaktif Digital (PID) atau Interactive Flat Panel (IFP) di satuan pendidikan menunjukkan dampak positif terhadap proses pembelajaran.

Perangkat yang menjadi salah satu program prioritas Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, tersebut kini berperan sebagai media strategis dalam mendorong pembelajaran yang interaktif, visual, dan berpusat pada peserta didik.

Di SMAN 1 Samarinda, PID telah digunakan secara rutin dalam kegiatan belajar mengajar. Guru sejarah SMAN 1 Samarinda, Alexander Rendi, menyampaikan bahwa perangkat tersebut hampir selalu dimanfaatkan setiap kali mengajar di kelas X dan XI.

“Setiap saya masuk kelas, saya selalu memanfaatkan IFP sebagai media pembelajaran,” ujar Alexander.

Menurutnya, penyajian materi berbasis visual melalui PID lebih efektif dalam menarik perhatian siswa dan meningkatkan fokus belajar.

Selain untuk menampilkan materi, perangkat ini juga digunakan menghadirkan gim interaktif yang melibatkan siswa secara langsung, sehingga suasana kelas menjadi lebih hidup dan partisipatif.

Alexander menegaskan bahwa teknologi berfungsi sebagai media pendukung, sementara keberhasilan pembelajaran tetap bergantung pada kompetensi guru dalam mengelolanya.

“PID adalah media bantu. Menarik atau tidaknya pembelajaran sangat bergantung pada bagaimana guru memanfaatkannya,” jelasnya.

Sebagai pengajar sejarah, ia memanfaatkan konten visual, termasuk museum virtual yang diakses melalui PID, untuk membantu siswa memahami peristiwa masa lalu.

Melalui pendekatan tersebut, siswa dapat melihat langsung peninggalan sejarah secara virtual seolah berada di lokasi, yang dinilai efektif memicu rasa ingin tahu serta mendorong diskusi di kelas.

Dari sisi pemahaman materi, penggunaan PID dinilai memberikan pengaruh signifikan.

Fitur interaktif seperti whiteboard digital, akses internet, pemutaran video pembelajaran, serta konektivitas berbagai perangkat mendukung penyampaian materi yang lebih jelas dan partisipatif.

Meski demikian, tantangan masih dihadapi, terutama terkait keterbatasan akses jaringan internet yang memengaruhi optimalisasi pemanfaatannya.

Dukungan Daerah dan Kebijakan Nasional

Dukungan terhadap pemanfaatan PID juga datang dari pemerintah daerah. Kepala Bidang Pembinaan SD Dinas Pendidikan Kota Mataram, Syarafudin, menyampaikan bahwa dinas memberikan dukungan komprehensif agar perangkat tersebut dimanfaatkan secara optimal dalam pembelajaran.

Pendampingan dilakukan melalui pelatihan penggunaan PID bagi guru, penguatan kebijakan yang mendorong integrasi teknologi dalam pembelajaran, pengimbasan praktik baik, serta penyediaan panduan agar penggunaan perangkat selaras dengan tujuan pembelajaran.

Pengawas sekolah turut dilibatkan dalam supervisi akademik dan forum berbagi praktik baik antar guru dan sekolah.

Pendampingan difokuskan agar PID dimanfaatkan sebagai media interaktif, bukan sekadar alat presentasi, sehingga mampu meningkatkan keterlibatan peserta didik dan menciptakan interaksi dua arah di kelas.

Secara nasional, pemanfaatan PID sejalan dengan kebijakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Dalam pembukaan Konsolidasi Nasional 2026, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menyampaikan bahwa distribusi perangkat telah terealisasi secara menyeluruh.

“Program IFP, alhamdulillah, seluruhnya untuk sekitar 288 ribu satuan pendidikan telah terdistribusi 100 persen dan hampir seluruhnya sudah mulai dipergunakan,” ujarnya, di Kota Depok, Jawa Barat, Senin (9/2/2026).

Ia juga menyampaikan apresiasi atas dukungan berbagai pihak dalam pelaksanaan program digitalisasi tersebut.

“Kami menyampaikan terima kasih atas dukungan Bapak dan Ibu sekalian dalam pelaksanaan program Digitalisasi Pembelajaran, sehingga program Bapak Presiden dapat kami laksanakan dengan sebaik-baiknya,” ungkapnya.

Ke depan, Kemendikdasmen berkomitmen memperkuat digitalisasi pembelajaran secara bertahap.

Pemerintah merencanakan penambahan tiga PID untuk setiap sekolah yang mulai diupayakan distribusinya pada tahun 2026.

Kolaborasi antara guru, sekolah, pemerintah daerah, dan pemerintah pusat diharapkan mampu memperkuat transformasi digital pembelajaran secara berkelanjutan, sekaligus meningkatkan kualitas, interaksi, dan efektivitas proses belajar mengajar di satuan pendidikan. (*)