Ancaman Perang Dunia III Dibahas di Umri, Rektor Asal Somalia Paparkan Strategi Umat Islam

Umri menghadirkan Rektor Hormuud University Somalia dalam Kuliah Pakar yang membahas ancaman Perang Dunia III dan strategi umat Islam. Kegiatan dirangkaikan dengan Tarhib Ramadan serta pengumuman berbagai program sosial dan pembangunan kampus.

Ancaman Perang Dunia III Dibahas di Umri, Rektor Asal Somalia Paparkan Strategi Umat Islam

RINGKASAN BERITA:

  • Rektor Somalia soroti rivalitas nuklir sebagai pemicu ketegangan global.

  • Umri dorong internasionalisasi dengan memperluas jejaring ke Afrika.

  • Ramadan diisi program sosial untuk 1.500 fakir miskin dan penguatan spiritual kampus.

RIAUCERDAS.COM, PEKANBARU - Universitas Muhammadiyah Riau (Umri) menggelar Tarhib Ramadan 1447 Hijriyah dan Kuliah Pakar pada Rabu (11/2/2026) dengan menghadirkan Rektor Hormuud University Mogadishu Somalia, Prof Dr Abdi Omar Shuriye.

Rektor Umri, Dr Saidul Amin, MA menyampaikan bahwa kehadiran akademisi dari Afrika merupakan bagian dari strategi internasionalisasi kampus.

"Saya rasa di Asia Tenggara, Umri sudah selesai. Beberapa negara di Asia seperti Taiwan juga sudah selesai. Kita coba tempat yang lebih luas untuk memperkenalkan Umri, yaitu Afrika," tuturnya.

Ia menjelaskan, tema ancaman Perang Dunia III diangkat karena kondisi global yang sulit diprediksi. Namun pembahasan tersebut bukan berarti mengharapkan konflik terjadi.

"Tapi antisipasi apa yang harus dilakukan kalau terjadi dan apa yang harus dilakukan agar itu tidak terjadi," papar Saidul.

Terkait Tarhib Ramadan, Saidul menegaskan komitmen kampus untuk memperkuat nilai spiritual selama bulan suci.

"Kami berharap, kita betul-betul melatih diri pada bulan ini, dan menjadi sosok paripurna setelah habis bulan ramadan," kata dia.

Selama Ramadan, Umri akan menerapkan penyesuaian jam kerja serta mendorong setiap fakultas dan unit melaksanakan program khatam Alquran.

Kampus juga akan menggelar buka puasa bersama dengan sedikitnya 1.500 fakir miskin serta tabligh akbar sebagai puncak kegiatan. Selain itu, gerakan wakaf, infak, dan sedekah dihidupkan dengan melibatkan 417 pendidik dan tenaga kependidikan agar partisipasi sosial tidak hanya bergantung pada Lazismu dan Baznas.

Prof Dr Muhammad Nazir, MA dari Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Riau berharap seluruh amal usaha Muhammadiyah, termasuk Umri, menyambut Ramadhan dengan penuh kegembiraan sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW.

Perang

Sementara, dalam kuliah bertema “Ancaman Perang Dunia Ketiga: Peran dan Strategi Umat Islam Menghadapinya”, Prof Dr Abdi Omar Shuriye menyoroti meningkatnya rivalitas kekuatan besar dunia sebagai faktor utama potensi konflik global.

Menurut Prof. Abdi, ancaman Perang Dunia III tidak terlepas dari rivalitas negara-negara besar yang terus menguat di berbagai sektor strategis. Ia menjelaskan bahwa Rusia, Amerika Serikat, China, Prancis, dan Inggris memiliki ratusan hingga ribuan hulu ledak nuklir yang berpotensi menciptakan ketegangan global.

“Senjata nuklir bukan sekadar simbol kekuatan, tetapi instrumen dominasi global. Dunia saat ini lebih banyak diatur oleh keseimbangan kekuatan dibandingkan oleh prinsip keadilan,” jelasnya.

Ia menilai sistem internasional saat ini masih sangat dipengaruhi kepentingan politik negara besar. Karena itu, negara-negara Muslim, termasuk Indonesia dan Somalia, tidak dapat sepenuhnya bergantung pada tatanan global yang ada.

Prof. Abdi menegaskan bahwa umat Islam harus membangun kekuatan internal melalui pendidikan berkualitas, kemandirian teknologi, serta penguatan ekonomi sebagai fondasi utama menghadapi dinamika global.

Ia juga menyoroti ketimpangan ekonomi global, di mana sekitar 10 persen populasi dunia menguasai sekitar 85 persen kekayaan global.

Padahal, dunia Islam memiliki potensi besar dari sisi sumber daya alam dan jumlah penduduk, namun belum memiliki kedaulatan dalam penguasaan teknologi dan sistem digital.

“Kita memiliki potensi besar, tetapi belum memiliki kedaulatan dalam pengelolaannya. Solusinya bukan reaksi emosional, melainkan pembangunan jangka panjang melalui pendidikan dan pembenahan pola pikir,” tegasnya.

Dalam konteks pembangunan peradaban, ia menekankan pentingnya tafaqquh fid-din yang tidak berhenti pada hafalan, melainkan melahirkan pemahaman mendalam dan ketepatan dalam bertindak.

Pembangunan karakter umat, menurutnya, harus bertumpu pada tiga pilar utama, yakni ihsan (melakukan yang terbaik), itqan (profesional dan tuntas), serta ikhlas (meluruskan niat karena Allah).

“Ramadhan tidak boleh hanya menjadi ritual tanpa kesadaran sosial. Ibadah harus melahirkan kekuatan moral, intelektual, dan sosial. Lima belas tahun ke depan harus menjadi masa persiapan peradaban. Realitas dunia memang keras, tetapi umat tidak boleh lemah. Kita harus membangun dan bertindak dengan ilmu, akhlak, dan kesungguhan,” kata dia.

Acara itu  juga diwarnai penandatangan Nota Kesepahaman antara Umri dengan Hormoud University Somalia dalam hal penguatan wawasan global bagi sivitas akademika Umri dan penguatan kerja sama dalam menghadapi dinamika dunia yang semakin kompleks. (*)