Dari Bocor Jadi Nyaman, 8 Sekolah di Pulau Sebatik Direvitalisasi Pemerintah
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah meresmikan delapan sekolah hasil revitalisasi di Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan. Program ini menegaskan kehadiran negara di wilayah perbatasan, sekaligus memberi dampak nyata terhadap kenyamanan, keamanan, dan semangat belajar warga sekolah.
RINGKASAN BERITA:
- Delapan sekolah di Pulau Sebatik diresmikan usai direvitalisasi Kemendikdasmen.
- Program merupakan instruksi Presiden untuk memperkuat pendidikan di wilayah 3T.
- Siswa dan guru mengaku lebih aman, nyaman, dan termotivasi belajar.
RIAUCERDAS.COM, NUNUKAN - Upaya pemerataan kualitas pendidikan hingga wilayah terluar kembali ditegaskan pemerintah melalui peresmian delapan satuan pendidikan yang telah direvitalisasi di Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, Sabtu (17/1/2026).
Pulau Sebatik dikenal sebagai salah satu pulau kecil terluar Indonesia yang berbatasan langsung dengan Malaysia.
Revitalisasi sekolah di wilayah ini dinilai sebagai bentuk konkret kehadiran negara dalam menjamin hak pendidikan anak-anak perbatasan.
Peresmian dilakukan langsung oleh Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Atip Latipulhayat.
Ia menyampaikan bahwa program Revitalisasi Satuan Pendidikan merupakan pelaksanaan instruksi Presiden Prabowo Subianto, sekaligus bagian dari amanat konstitusi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.
Menurut Atip, peningkatan mutu pendidikan tidak dapat dilepaskan dari ketersediaan sarana yang layak.
Fasilitas sekolah harus mampu menciptakan ruang belajar yang aman, nyaman, dan menunjang proses pembelajaran yang efektif.
“Sarana pendidikan adalah salah satu komponen penting. Sekolah harus menjadi tempat yang membuat anak-anak merasa terlindungi dan betah untuk belajar,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga fasilitas yang telah dibangun.
Wamen Atip menekankan bahwa perawatan gedung, termasuk fasilitas sanitasi, merupakan tanggung jawab bersama warga sekolah agar manfaat revitalisasi dapat dirasakan dalam jangka panjang.
Kunjungan Kemendikdasmen ini mendapat sambutan positif dari Pemerintah Kabupaten Nunukan.
Wakil Bupati Nunukan, Hermanus, menilai kehadiran Wamen Dikdasmen di Pulau Sebatik membawa pesan kuat bahwa wilayah perbatasan tidak luput dari perhatian negara.
“Anak-anak di tapal batas memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang layak. Revitalisasi ini menjadi bukti perhatian pemerintah pusat kepada daerah kami,” ujarnya.
Dampak revitalisasi juga dirasakan langsung oleh pihak sekolah.
Kepala SMK Negeri 1 Nunukan, Jathu Roswita, menceritakan bahwa sebelum perbaikan dilakukan, kegiatan belajar sering diwarnai rasa khawatir karena kondisi atap dan plafon yang sudah lapuk.
“Kalau hujan, kami harus memasang terpal karena takut bocor atau runtuh. Jumlah toilet juga sangat terbatas untuk ratusan siswa,” ungkapnya.
Setelah revitalisasi, ia menilai lingkungan sekolah jauh lebih aman dan nyaman.
Kondisi tersebut turut meningkatkan semangat siswa untuk hadir dan belajar.
“Siswa merasa lebih senang dan termotivasi karena sekolahnya sekarang aman, nyaman, dan tampil lebih baik,” katanya.
Hal senada disampaikan Guru SMAS K St. Gabriel Nunukan, Suryani.
Ia menyebut revitalisasi sangat membantu, khususnya dalam pemenuhan fasilitas dasar seperti toilet dan perpustakaan.
“Sekarang anak-anak punya ruang membaca yang layak. Ini sangat membantu proses belajar mereka,” ujarnya, seraya berharap program serupa dapat terus dilanjutkan di berbagai daerah.
Dari kalangan siswa, Agus Gustiawan, pelajar kelas XII SMKN 1 Nunukan, mengaku perubahan kondisi sekolah membuat proses belajar lebih lancar.
“Sekarang tidak takut lagi kalau hujan, tidak becek, dan toiletnya sudah bagus. Kami jadi lebih semangat belajar,” ucapnya.
Program revitalisasi ini diharapkan tidak hanya memperbaiki bangunan fisik sekolah, tetapi juga memperkuat kualitas pembelajaran serta menumbuhkan motivasi belajar siswa di wilayah perbatasan. (*)