Kerap Dipakai untuk Campuran Tuak, Riset BRIN Ungkap Potensi Kayu Raru Turunkan Gula Darah hingga 21,94 Persen
Peneliti BRIN menemukan ekstrak kayu raru (Vatica perakensis) mampu menurunkan gula darah hingga 21,94 persen pada uji hewan. Meski menjanjikan, penelitian masih memerlukan kajian lanjutan sebelum masuk tahap uji klinis manusia.
RINGKASAN BERITA:
- Ekstrak kayu raru tunggal menurunkan gula darah hingga 21,94 persen pada tikus diabetes.
- Kombinasi dengan karbon aktif mocaf belum meningkatkan efektivitas secara signifikan.
- Riset masih tahap awal dan membutuhkan uji keamanan serta mekanisme kerja lebih lanjut sebelum uji klinis manusia.
RIAUCERDAS.COM -Upaya mencari alternatif pengobatan diabetes berbasis bahan alami terus dilakukan peneliti Indonesia.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap potensi kayu raru (Vatica perakensis) sebagai kandidat antidiabetes setelah melalui serangkaian uji ilmiah pada hewan model.
Diabetes masih menjadi persoalan kesehatan global. Hampir setengah miliar orang di dunia hidup dengan penyakit ini, dan sebagian besar tidak terdiagnosis.
Kondisi tersebut mendorong peneliti memanfaatkan kekayaan hayati Indonesia untuk menghadirkan solusi yang lebih terjangkau.
Kayu raru, yang secara turun-temurun dimanfaatkan masyarakat Batak sebagai campuran minuman tradisional tuak dan dipercaya membantu menurunkan gula darah, kini diuji secara ilmiah oleh tim peneliti BRIN.
Peneliti Pusat Riset Zoologi Terapan BRIN, Agus Ismanto, menjelaskan bahwa ekstrak kulit kayu raru memiliki aktivitas antioksidan serta berpotensi menghambat enzim alfa-glukosidase, enzim yang berperan dalam pemecahan karbohidrat menjadi glukosa.
“Untuk meningkatkan efektivitasnya, ekstrak kulit kayu raru kami kombinasikan dengan karbon aktif berbahan dasar mocaf (tepung singkong termodifikasi) yang berfungsi sebagai pembawa (carrier) zat aktif,” ujar Agus dikutip dari laman BRIN, Senin (2/3/2026).
Karbon aktif tersebut diproduksi melalui proses pemanasan khusus hingga membentuk struktur berpori sangat halus.
Struktur ini diharapkan mampu membantu membawa dan melepaskan senyawa aktif secara lebih efektif di dalam tubuh.
Penelitian bertajuk “Efek Antidiabetik Ekstrak Kulit Kayu Raru (Vatica perakensis) dan Karbon Aktif Mocaf pada Tikus Diabetes yang Diinduksi Streptozotocin” dilakukan menggunakan tikus jantan yang diinduksi menjadi diabetes.
Hewan uji dibagi ke dalam beberapa kelompok, termasuk kontrol, kelompok ekstrak raru tunggal, serta kombinasi ekstrak raru dan karbon aktif dengan rasio berbeda.
Hasil uji menunjukkan, ekstrak raru tunggal mampu menurunkan kadar gula darah sebesar 21,94 persen.
Sementara kombinasi ekstrak raru dan karbon aktif mocaf menurunkan gula darah sebesar 18,85 persen pada rasio 75:25 dan 14,97 persen pada rasio 50:50.
Meski rasio 75:25 menunjukkan hasil lebih baik dibandingkan 50:50, penambahan karbon aktif belum terbukti meningkatkan efektivitas secara signifikan dibandingkan penggunaan ekstrak raru saja.
Penelitian sebelumnya juga mencatat bahwa ekstrak raru mampu menghambat aktivitas enzim alfa-glukosidase secara in vitro lebih dari 90 persen.
Aktivitas ini diduga berkaitan dengan kandungan senyawa fenolik yang terdapat dalam kayu raru.
Namun demikian, Agus menekankan bahwa penelitian ini masih berada pada tahap awal. Analisis farmakokinetik, mekanisme kerja yang lebih detail, serta aspek keamanan masih perlu diteliti lebih lanjut sebelum memasuki tahap uji klinis pada manusia.
“Ke depan, tim peneliti akan melakukan analisis fitokimia untuk mengidentifikasi senyawa aktif, mengoptimalkan sistem penghantaran zat aktif, serta memperdalam kajian mekanisme kerja dan aspek keamanan,” ujarnya.
Riset ini menjadi langkah awal dalam mengangkat kearifan lokal sebagai dasar pengembangan obat herbal berbasis sains, sekaligus memperkuat komitmen BRIN dalam mengembangkan solusi kesehatan berbasis biodiversitas Indonesia. (*)