Guru Besar IPB Tekankan Pengasuhan Empatik untuk Cegah Krisis Moral dan Gangguan Mental
Guru Besar Fema IPB University, Prof Dwi Hastuti, menegaskan pengasuhan empatik menjadi fondasi penting dalam menjaga kesehatan mental dan ketahanan keluarga di tengah krisis moral akibat derasnya arus informasi dan perubahan zaman.
RINGKASAN BERITA:
-
Pengasuhan empatik dinilai kunci mencegah krisis moral dan gangguan mental.
-
Demoralisasi berdampak pada individu, keluarga, hingga masyarakat.
-
Pendidikan harus kembali pada tujuan membentuk iman, takwa, dan akhlak mulia.
RIAUCERDAS.COM - Pengasuhan empatik dinilai menjadi kunci utama dalam menghadapi krisis moral dan tantangan kesehatan mental di era modern.
Guru Besar Fakultas Ekologi Manusia (Fema) IPB University, Prof Dwi Hastuti, menegaskan keluarga harus menjadi benteng pertama dalam mencegah demoralisasi yang kian nyata di tengah masyarakat.
Hal tersebut disampaikannya dalam Kajian Kauniyah Ramadan Care bertajuk “Pengasuhan Empatik sebagai Fondasi Kesehatan Mental” di Masjid Al Hurriyyah IPB University belum lama ini.
“Saat ini, etika kehidupan makin longgar. Hal ini ditandai dengan munculnya gaya hidup materialisme dan hedonisme, serta kebebasan yang mengarah pada perilaku antisosial dan egosentrisme,” ujarnya dikutip dari laman IPB University, Selasa (3/3/2026).
Menurut Prof Dwi, terkikisnya kepedulian antarsesama memicu berbagai persoalan sosial kontemporer.
Ia menyoroti meningkatnya penyimpangan perilaku, kecanduan narkotika, hingga tingginya angka kriminalitas sebagai indikator krisis moral.
Ia menjelaskan proses demoralisasi terjadi ketika logika manusia dikalahkan oleh hawa nafsu yang berorientasi pada ego semata.
Dampaknya bersifat destruktif pada tiga lapisan utama, yakni individu, keluarga, dan masyarakat.
“Pada tingkat keluarga, penyimpangan ini dapat berujung pada kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) hingga penelantaran anak. Sementara di tingkat masyarakat, dampaknya meluas pada korupsi massal dan kejahatan terorganisir,” jelasnya.
Untuk memahami akar persoalan, Prof Dwi merujuk pada problem behavior theory (PBT) yang menyebut perilaku bermasalah dipengaruhi secara kompleks oleh faktor personalitas, lingkungan keluarga, teman sebaya, dan kondisi sosial-budaya.
Ia juga mengutip pendekatan psikoanalisis Carl Jung yang menekankan peran kuat nilai keluarga, agama, dan budaya dalam membentuk ego serta alam bawah sadar seseorang.
“Ego dan alam bawah sadar seseorang sangat kuat dibentuk oleh nilai-nilai keluarga, agama, dan budaya masyarakat. Di sinilah peran sangat krusial dari pengasuhan keluarga itu masuk,” tegasnya.
Sebagai solusi, Prof Dwi mengajak institusi pendidikan dan keluarga kembali pada amanat Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas).
Pendidikan, menurutnya, harus diarahkan pada peningkatan keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia.
Melalui pengasuhan empatik yang berlandaskan nilai spiritual kuat, ia berharap keluarga dapat menjadi fondasi utama dalam menjaga kesehatan mental sekaligus membangun generasi yang berkarakter. (*)