Cap Go Meh 2026 di Siak Meriah, Bupati Afni: Simbol Persatuan di Tengah Ramadan
Perayaan Cap Go Meh 2026 di Kelenteng Hock Siu Kiong, Siak, berlangsung meriah di tengah Ramadan. Bupati Afni Zulkifli menegaskan momentum tersebut sebagai simbol persatuan dan harmoni masyarakat multikultural di Negeri Istana.
RINGKASAN BERITA:
- Bupati Siak menilai Cap Go Meh sebagai simbol persatuan di tengah keberagaman dan Ramadan.
- Kelenteng Hock Siu Kiong yang berusia sekitar 128 tahun disebut sebagai warisan sejarah penting.
- Perayaan diwarnai 1.500 lampion, barongsai, kuliner khas, dan kembang api.
RIAUCERDAS.COM, SIAK - Perayaan Cap Go Meh 2026 di Kabupaten Siak berlangsung meriah dan sarat pesan toleransi.
Di tengah suasana bulan suci Ramadan, Bupati Siak menegaskan bahwa perayaan tersebut menjadi simbol kuat persatuan dalam keberagaman masyarakat Negeri Istana.
Hal itu disampaikan Bupati Siak, Dr. Afni Zulkifli, saat menghadiri Perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili yang dirangkaikan dengan Cap Go Meh di Kelenteng Hock Siu Kiong, Kecamatan Siak, Selasa malam (3/3/2026).
Acara dihadiri unsur Forkopimda, tokoh agama, tokoh masyarakat, Lembaga Adat Melayu, organisasi kepemudaan, serta ratusan warga dari beragam latar belakang. Suasana penuh kebersamaan terasa sepanjang rangkaian kegiatan.
Dalam sambutannya, Afni menyampaikan ucapan selamat Tahun Baru Imlek dan Cap Go Meh kepada masyarakat Tionghoa Kabupaten Siak sekaligus apresiasi kepada panitia dan seluruh pihak yang terlibat.
“Kehadiran kita malam ini adalah bukti bahwa Siak adalah rumah besar bagi semua,” ujarnya.
Ia menilai momentum Cap Go Meh yang bertepatan dengan Ramadan mencerminkan harmoni yang terjalin di tengah masyarakat.
“Perayaan ini bukan hanya peristiwa budaya, tetapi simbol bahwa perbedaan bukanlah jarak, melainkan kekuatan yang merekatkan kita. Di saat umat Muslim menjalankan Ramadan, saudara-saudara kita merayakan Cap Go Meh dengan penuh suka cita. Inilah wajah harmoni Siak yang harus kita jaga bersama,” ungkapnya.
Afni juga mengenang kedekatannya dengan kawasan Pecinan sejak masa kecil.
Menurutnya, tradisi kebersamaan antar komunitas telah terbangun jauh sebelum perkembangan modernisasi daerah.
“Nilai-nilai persaudaraan ini harus terus kita wariskan kepada generasi penerus agar mereka juga merasakan hangatnya kebersamaan seperti yang kita rasakan hari ini,” katanya.
Ia turut menyoroti keberadaan Kelenteng Hock Siu Kiong yang telah berdiri sekitar 128 tahun sebagai bagian dari sejarah panjang Kabupaten Siak.
Menurutnya, kelenteng tersebut bukan hanya tempat ibadah, melainkan juga warisan budaya yang perlu dijaga dan didokumentasikan.
“Kelenteng ini bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga bagian dari jejak sejarah panjang Siak. Cerita tentang hubungan harmonis antara komunitas Tionghoa dan Kesultanan Siak harus kita rangkai dan dokumentasikan dengan baik,” ujar Afni.
Dalam kesempatan itu, Afni juga mengingat peristiwa kebakaran besar yang pernah melanda kawasan tersebut.
Ia menyampaikan rasa syukur karena kelenteng tetap berdiri kokoh hingga kini.
“Musibah pernah datang, tetapi kebersamaan kita jauh lebih kuat. Kita bersyukur kelenteng ini tetap berdiri sebagai simbol persatuan masyarakat Siak,” katanya.
Sementara itu, Ketua Panitia Perayaan, Joni Chang, mengapresiasi kehadiran Bupati Siak, Kapolres Siak, unsur Forkopimda, tokoh agama, tokoh masyarakat, sponsor, donatur, serta warga yang memeriahkan kegiatan tersebut.
Menurutnya, Cap Go Meh bukan sekadar agenda tahunan, tetapi juga wadah mempererat silaturahmi masyarakat Siak yang majemuk.
“Budaya Tionghoa merupakan bagian dari mozaik kebudayaan Indonesia, khususnya di Kabupaten Siak. Kami berharap momentum ini dapat berkontribusi terhadap promosi pariwisata dan pertumbuhan UMKM di daerah,” ujarnya.
Perayaan semakin semarak dengan pemasangan sekitar 1.500 lampion yang menghiasi kawasan kelenteng dan menarik perhatian masyarakat, termasuk pengunjung dari luar daerah.
Rangkaian acara diisi pertunjukan barongsai, penampilan seni budaya, sajian kuliner khas Cap Go Meh, serta pesta kembang api sebagai puncak perayaan.
Seluruh kegiatan berlangsung aman dan tertib, mencerminkan kuatnya nilai toleransi, persatuan, dan semangat gotong royong masyarakat Kabupaten Siak. (*)