Riset Doktor UGM: Perawatan Diabetes Perlu Sentuh Emosi, Hipnosis Klinis Dinilai Efektif

Mahasiswa doktoral Fakultas Psikologi UGM, Martaria Rizky Rinaldi, memaparkan riset tentang pentingnya pendekatan psikologis dalam perawatan diabetes. Melalui metode Hypnodiacare, yang mengintegrasikan hipnosis klinis dan edukasi manajemen diri, pasien dinilai lebih mampu mengelola emosi, stres, dan motivasi hidup sehat.

Riset Doktor UGM: Perawatan Diabetes Perlu Sentuh Emosi, Hipnosis Klinis Dinilai Efektif
Ilustrasi perawatan kepada pasien diabetes. (Sumber: Diolah dnegan AI)

RINGKASAN BERITA:

  • Indonesia masuk 10 besar negara dengan kasus diabetes tertinggi di dunia.
  • Penelitian doktor UGM menggabungkan hipnosis klinis dan edukasi manajemen diri.
  • Metode Hypnodiacare terbukti membantu stabilitas emosi dan kondisi fisiologis pasien.

RIAUCERDAS.COM, YOGYAKARTA - Diabetes melitus tidak lagi identik dengan penyakit usia lanjut.

Peningkatan jumlah penderita di kelompok usia muda mendorong perlunya pendekatan perawatan yang lebih menyeluruh, tidak hanya dari sisi medis, tetapi juga psikologis.

Hal ini disampaikan mahasiswa program doktor Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Martaria Rizky Rinaldi, S.Psi., M.Psi., Psikolog, saat menjalani ujian terbuka promosi doktor, Rabu (14/1/2026) lalu, di Ruang A-203 Fakultas Psikologi UGM.

Ia mengungkapkan, Indonesia saat ini termasuk dalam 10 besar negara dengan jumlah kasus diabetes tertinggi di dunia.

Kondisi tersebut membuat pengelolaan diabetes memerlukan strategi jangka panjang, termasuk pendampingan terhadap aspek emosi dan kesehatan mental pasien.

“Individu dengan diabetes sering menghadapi emosi negatif, stres berkepanjangan, kecemasan, hingga kelelahan emosional. Sementara itu, ketersediaan tenaga psikolog masih sangat terbatas,” ujarnya dilansir dari portal resmi UGM.

(Sumber: ugm.ac.id/Tim Humas Fakultas Psikologi)

Dalam disertasi berjudul Hypnodiacare untuk Individu dengan Diabetes Mellitus Tipe 2: dari Pemetaan Bukti dan Pengembangan Intervensi Hingga Uji Terkontrol Acak dan Evaluasi Psikofisiologis, wanita yang akrab disapa Kiky ini menjelaskan bahwa pasien diabetes tipe 2 dituntut menjalani pengelolaan diri yang ketat, mulai dari pola makan, konsumsi obat, hingga aktivitas fisik.

Menurutnya, pendekatan yang selama ini dominan berupa edukasi manajemen diri memang efektif meningkatkan pengetahuan, tetapi belum sepenuhnya menyentuh aspek psikologis secara mendalam.

“Padahal, keberhasilan perawatan sangat dipengaruhi oleh regulasi emosi dan motivasi pasien,” jelasnya.

Berangkat dari kondisi tersebut, Kiky mengembangkan konsep Hypnodiacare, yakni integrasi antara edukasi manajemen diri dan Clinical Hypnosis. 

Edukasi diarahkan pada pemahaman perilaku perawatan diri, sedangkan hipnosis klinis digunakan untuk membantu relaksasi, membangun emosi positif, serta menekan kecemasan dan stres.

Hasil penelitiannya menunjukkan, pasien yang mengikuti intervensi Hypnodiacare secara mental merasa lebih tenang, emosi lebih stabil, dan memiliki motivasi lebih tinggi untuk menjalani pengobatan serta gaya hidup sehat.

“Secara fisiologis juga ditemukan perubahan pada gelombang otak alpha, beta, dan theta yang menandakan relaksasi mendalam, disertai perbaikan pada regulasi jantung,” ungkapnya.

Dari temuan tersebut, Kiky menyimpulkan bahwa Hypnodiacare berpotensi menjadi pendekatan pendamping pengobatan medis bagi penderita diabetes.

“Integrasi hipnosis klinis dan edukasi manajemen diri menawarkan model intervensi baru yang dapat membantu pasien mengelola penyakitnya secara lebih komprehensif,” pungkasnya. (*)