Guru Besar UMY Ungkap Bahaya Salah Diagnosis TB: Bisa Picu Kematian dan Salah Terapi
Guru Besar UMY menegaskan bahwa kesalahan diagnosis TB, khususnya dalam membedakan TB, MDR-TB, dan infeksi NTM, berisiko fatal. Pembacaan radiografi toraks yang sistematis dinilai krusial untuk mencegah salah terapi dan meningkatkan keselamatan pasien.
RINGKASAN BERITA:
-
Salah diagnosis TB berisiko fatal, memicu keterlambatan terapi dan meningkatnya kematian.
-
Radiografi toraks berperan penting membedakan TB, MDR-TB, dan infeksi NTM.
-
Standardisasi dan kolaborasi lintas profesi diperlukan untuk meningkatkan akurasi diagnosis.
RIAUCERDAS.COM, YOGYAKARTA - Kesalahan diagnosis tuberkulosis (TB) berpotensi menimbulkan dampak serius bagi pasien, mulai dari keterlambatan pengobatan hingga meningkatnya angka kesakitan dan kematian.
Risiko tersebut dapat ditekan melalui pembacaan radiografi toraks yang cermat, sistematis, dan tepat sasaran.
Penegasan itu disampaikan Guru Besar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Prof. Dr. dr. Ana Majdawati, M.Sc., Sp.Rad(K) TR, dalam Orasi Ilmiah Guru Besar pada Sidang Terbuka Senat UMY, Sabtu (24/1/2026) dilansir dari portal UMY.
Dalam orasinya, Ana menekankan pentingnya kemampuan membaca pola radiografi toraks untuk membedakan TB sensitif obat, Multidrug-Resistant Tuberculosis (MDR-TB), dan infeksi Nontuberculous Mycobacteria (NTM), yang kerap menunjukkan gejala klinis dan gambaran radiologis yang menyerupai TB.
Ia menyoroti bahwa Indonesia masih menghadapi beban TB yang tinggi, sementara tantangan diagnosis semakin kompleks.
MDR-TB, menurutnya, membutuhkan waktu pengobatan lebih lama, memiliki efek toksik yang lebih besar, serta memerlukan biaya jauh lebih tinggi dibandingkan TB sensitif obat.
Sementara itu, infeksi NTM sering tidak terdeteksi karena kemiripannya dengan TB, baik dari sisi gejala maupun hasil radiografi. Kondisi ini berisiko memicu kesalahan terapi yang berdampak serius bagi pasien.
“Pasien sering datang dengan keluhan batuk lama dan gambaran radiografi toraks yang mengarah ke TB, lalu langsung diberikan terapi. Ketika respons klinis tidak sesuai harapan, di situlah risiko besar mulai muncul,” ujar Ana.
Menurutnya, risiko terbesar justru terjadi pada tahap awal diagnosis, ketika tenaga kesehatan harus menentukan apakah pasien menderita TB sensitif obat, MDR-TB, atau infeksi NTM. Kesalahan pada fase ini dapat berujung fatal.
Ana menegaskan bahwa radiografi toraks tidak dimaksudkan untuk menggantikan pemeriksaan laboratorium, melainkan berfungsi sebagai panduan awal dalam pengambilan keputusan klinis yang lebih cepat dan terarah, terutama di fasilitas layanan kesehatan dengan keterbatasan akses pemeriksaan molekuler dan kultur.
“Radiografi toraks merupakan pemeriksaan yang sederhana dan paling luas digunakan. Nilainya akan sangat besar apabila dibaca sebagai bahasa klinis yang menuntun pengambilan keputusan, bukan sekadar menyatakan ada atau tidaknya kelainan,” jelasnya.
Guru Besar Bidang Radiologi Toraks UMY itu juga mengingatkan bahwa keterlambatan dan kesalahan diagnosis tidak hanya memperpanjang penderitaan pasien, tetapi turut meningkatkan risiko penularan serta beban biaya bagi sistem kesehatan.
Untuk meningkatkan keselamatan pasien, ia mendorong penguatan standardisasi pelaporan radiografi toraks, peningkatan kolaborasi antara klinisi, radiolog, dan laboratorium, serta pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan buatan secara bertanggung jawab sebagai alat bantu pengambilan keputusan klinis.
“Setiap keputusan yang lebih cepat dan tepat berarti peluang kesembuhan yang lebih besar dan risiko yang lebih kecil bagi pasien,” pungkasnya. (*)