Kemampuan Matematika Siswa Menurun, Akademisi Soroti Dampak Gadget dan Kurikulum
Kemampuan matematika siswa dan mahasiswa mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Pakar UGM menilai faktor teknologi, distraksi belajar, hingga kurikulum turut memengaruhi kondisi ini.
RINGKASAN BERITA:
- Skor matematika global terus menurun sejak 2015 menurut PISA
- Kemampuan mahasiswa baru dinilai lebih rendah dibanding generasi sebelumnya
- Distraksi gadget dan metode belajar jadi penyebab utama penurunan.
RIAUCERDAS.COM - Penurunan kemampuan matematika di kalangan pelajar Indonesia menjadi sorotan serius.
Data global hingga pengamatan di perguruan tinggi menunjukkan tren melemahnya kemampuan berpikir matematis, bahkan sejak jenjang pendidikan dasar.
Hasil survei Programme for International Student Assessment tahun 2025 mencatat penurunan skor pada tiga bidang utama—matematika, literasi, dan sains—yang terjadi secara konsisten sejak 2015.
Temuan ini memperkuat kekhawatiran tentang kualitas pembelajaran matematika di Indonesia.
Fenomena ini juga sejalan dengan penelitian dari University of Eastern Finland yang dipublikasikan dalam British Journal of Educational Psychology pada 2023.
Studi tersebut menunjukkan minat dan kepercayaan diri siswa terhadap matematika cenderung menurun dalam tiga tahun pertama sekolah dasar.
Dosen Matematika Aljabar dari Universitas Gadjah Mada, Indah Emilia Wijayanti, menyebut kondisi ini juga terlihat jelas di tingkat perguruan tinggi.
Ia menilai kemampuan mahasiswa baru saat ini tidak sekuat generasi sebelumnya.
“Jika dibandingkan, mahasiswa baru program studi Matematika 5 tahun atau 10 tahun yang lalu memiliki kemampuan berpikir matematis yang lebih mumpuni dibanding sekarang,” kata Indah dikutip dari laman UGM, Senin (30/3/2026).
Menurutnya, penurunan ini berkaitan erat dengan lemahnya fondasi matematika sejak pendidikan dasar dan menengah.
“Sederhananya, jika di Sekolah Dasar atau Sekolah Menengah Pertama materi matematikanya berkurang, maka di sekolah Menengah Atas juga berkurang,” kata dia.
Indah juga menyoroti peran teknologi yang, di satu sisi mempermudah proses belajar, tetapi di sisi lain berpotensi menurunkan kemampuan analisis siswa.
Selain itu, distraksi yang tinggi membuat fokus belajar menjadi terganggu.
“Di sinilah peran pengajar menjadi krusial karena perlu menyajikan pengalaman matematika yang beragam untuk menjaga konsistensi dan fokus para pelajar,” ujarnya.
Indah menegaskan bahwa kunci utama menguasai matematika adalah latihan yang konsisten.
Kebiasaan mengerjakan soal, termasuk yang sederhana, dinilai mampu meningkatkan kemampuan logika dan pemahaman konsep.
“Dengan berlatih, siswa dan mahasiswa akan mampu meningkatkan kompetensi sendiri, bahkan bisa fokus yang sesuai dengan minat mereka,” ungkap Indah.
Lebih jauh, ia menilai pembentukan budaya sains tidak bisa hanya dibebankan kepada guru atau keluarga.
Faktor kebijakan, khususnya kurikulum, juga berperan penting dalam menentukan kualitas pembelajaran.
Menurutnya, perguruan tinggi perlu diberikan fleksibilitas lebih dalam menyusun kurikulum agar mahasiswa dapat mengeksplorasi minat di luar bidang utama.
Pendekatan ini diyakini mampu meningkatkan kemampuan berpikir yang lebih komprehensif.
“Kita harus bisa mengemas dengan lebih menarik. Dan ini tidak mudah. Itu tantangan buat si pengajar. Biasanya gini, saya kasih motivasi dulu, kemudian saya masukin teorinya, teorinya kayak gini, lho. Setelah itu mereka baru saya ajak untuk terapkan,” paparnya.
Dengan tren penurunan ini, para ahli menilai diperlukan pembenahan menyeluruh, mulai dari metode pengajaran, kurikulum, hingga pengelolaan penggunaan teknologi dalam pembelajaran matematika. (*)


