Mudik Lebaran 2026 Diprediksi 143,9 Juta Orang, Pemerintah Diminta Siapkan Tempat Istirahat Tambahan
Kementerian Perhubungan memprediksi pergerakan mudik Lebaran 2026 mencapai 143,9 juta orang. Pemerintah menyiapkan berbagai strategi seperti tol fungsional baru, ribuan masjid sebagai rest area tambahan, serta kebijakan Work From Anywhere untuk mengurangi kepadatan.
RINGKASAN BERITA:
-
Pergerakan mudik Lebaran 2026 diprediksi mencapai 143,9 juta orang, turun sekitar 1,7 persen dari tahun sebelumnya.
-
Pemerintah menyiapkan tol fungsional baru, posko angkutan Lebaran, WFA, dan mudik gratis untuk mengurangi kepadatan.
-
Sekitar 6.859 masjid di jalur mudik difungsikan sebagai rest area alternatif bagi para pemudik.
RIAUCERDAS.COM - Kementerian Perhubungan memperkirakan jumlah pergerakan masyarakat pada musim mudik Lebaran 1447 Hijriah/2026 Masehi mencapai sekitar 143,9 juta orang.
Angka tersebut sedikit menurun sekitar 1,7 persen dibandingkan dengan periode mudik tahun sebelumnya.
Berdasarkan proyeksi pemerintah, puncak arus mudik diperkirakan terjadi pada 14–15 Maret dan 18 Maret 2026, sedangkan puncak arus balik diprediksi berlangsung pada 24 Maret 2026.
Adapun tujuan utama pemudik masih didominasi sejumlah provinsi di Pulau Jawa, seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, dan Daerah Istimewa Yogyakarta, serta Sulawesi Selatan.
Untuk mengantisipasi lonjakan pergerakan masyarakat tersebut, pemerintah menyiapkan berbagai strategi guna menjaga kelancaran arus mudik.
Salah satunya dengan mengaktifkan posko angkutan Lebaran selama 18 hari, mulai 13 hingga 30 Maret 2026.
Selain itu, pemerintah juga menerapkan kebijakan Work From Anywhere (WFA) pada 16–17 Maret 2026 dengan tujuan memecah kepadatan lalu lintas pada masa puncak perjalanan.
Pemerintah juga kembali menyelenggarakan program mudik gratis untuk membantu masyarakat melakukan perjalanan ke kampung halaman dengan lebih aman dan terjangkau.
Peneliti Pusat Studi Transportasi dan Logistik (Pustral) Universitas Gadjah Mada (UGM), Dwi Ardianta Kurniawan, mengatakan pemerintah telah mengoptimalkan infrastruktur jalan untuk mendukung kelancaran arus mudik.
Ia menyebut PT Jasa Marga menyiapkan empat ruas tol fungsional baru di jaringan Trans-Jawa yang dapat dilalui pemudik secara gratis pada musim mudik tahun ini.
“Pembukaan jalur fungsional ini dirancang untuk memecah kepadatan di titik-titik krusial sehingga distribusi lalu lintas menjadi lebih lancar,” ujarnya dikutip dari laman UGM, Jumat (13/3/2026).
Menurutnya, langkah tersebut diharapkan dapat mempercepat waktu tempuh perjalanan darat sekaligus mengakomodasi mobilitas ratusan juta pemudik yang melakukan perjalanan lintas daerah.
Selain infrastruktur jalan, pemerintah juga menyiapkan berbagai fasilitas pendukung bagi pemudik, termasuk tempat istirahat tambahan di sepanjang jalur mudik.
Kementerian Perhubungan, kata Dwi, bekerja sama dengan Kementerian Agama untuk memfungsikan sekitar 6.859 masjid di sepanjang jalur mudik sebagai rest area alternatif bagi para pemudik.
Fasilitas tersebut akan beroperasi selama 24 jam mulai H-7 hingga H+7 Lebaran untuk membantu pemudik beristirahat ketika rest area resmi di jalan tol mengalami kepadatan.
“Fasilitas ini menjadi alternatif strategis agar pengemudi tetap memiliki ruang untuk beristirahat dan beribadah dengan nyaman,” jelasnya.
Dwi juga mengingatkan pentingnya memastikan kesiapan teknis kendaraan sebelum melakukan perjalanan jauh. Hal tersebut meliputi pemeriksaan kondisi ban, sistem pengereman, serta cairan kendaraan seperti oli mesin, radiator, dan minyak rem.
“Mengabaikan kesiapan teknis kendaraan sama saja membuka peluang besar terjadinya kecelakaan di jalan raya,” katanya.
Selain kondisi kendaraan, faktor kelelahan pengemudi juga menjadi perhatian penting.
Mengemudi dalam waktu lama dapat menurunkan konsentrasi dan meningkatkan risiko microsleep, yang kerap menjadi penyebab kecelakaan di jalan tol.
Ia menyarankan pengemudi untuk beristirahat setidaknya 15–30 menit setelah mengemudi maksimal empat jam berturut-turut dengan memanfaatkan rest area atau masjid yang tersedia di sepanjang jalur mudik.
Di sisi lain, pemudik juga dapat memanfaatkan teknologi navigasi digital untuk memantau kondisi lalu lintas secara real-time dan menghindari kemacetan.
“Penting menyesuaikan jadwal keberangkatan dengan informasi resmi dari Korlantas Polri terkait rekayasa lalu lintas seperti one way atau contraflow,” ujarnya.
Menurut Dwi, dengan persiapan kendaraan yang baik, manajemen kelelahan yang disiplin, serta perencanaan perjalanan yang matang, perjalanan mudik dapat berlangsung lebih aman dan nyaman. (*)