Guru Besar Umri: Hoaks Covid-19 Picu Resistensi Klorokuin, Malaria Kian Sulit Diobati
Dalam orasi ilmiahnya di Universitas Muhammadiyah Riau, Prof Dr Jufrizal Syahri menegaskan resistensi parasit Plasmodium terhadap klorokuin dan artemisinin menjadi ancaman serius, bahkan diperparah hoaks penggunaan klorokuin saat pandemi Covid-19.
RINGKASAN BERITA:
-
WHO mencatat 282 juta kasus malaria dan 610.000 kematian pada 2025.
-
Resistensi obat meningkat . Parasit Plasmodium semakin kebal terhadap klorokuin dan artemisinin, dipicu penggunaan tidak tepat termasuk saat pandemi Covid-19.
-
Tantangan penemuan obat baru.Riset antimalaria butuh waktu 15–18 tahun dan biaya besar, kini dipercepat dengan pendekatan komputasi seperti CADD dan molecular docking.
RIAUCERDAS.COM - Meski bukan penyakit baru, dunia belum bebas dari malaria. Bahkan, penyakit infeksi yang disebabkan oleh nyamuk Anopheles betina ini masih menjadi penyakit yang menyebabkan kematian dalam jumlah besar.
Data organisasi kesehatan dunia atau WHO pada 2025, terjadi 282 juta kasus malaria di dunia. Lebih dari 610.000 di antaranya meninggal dunia.
Sementara, pada 2024, Indonesia menjadi negara kedua dengan kasus malaria terbanyak di kawasan Asia Tenggara. Indonesia hanya "kalah" dari Myanmar dengan perkiraan 613.000 kasus.
Langkah pemberantasan malaria memang sudah dilakukan. Namun, kompleksitas faktor membuat penyakit ini belum juga bisa ditangani.
Dalam konteks Indonesia, perilaku masyarakat terhadap perubahan pola hidup, kondisi iklim tropis yang mendukung perkembangbiakan vektor jadi faktor penyebab pasien malaria bermunculan.
Bahkan, faktor paling krusial, munculnya resistensi parasit Plasmodium terhadap obat antimalaria utama, yaitu klorokuin dan artemisinin.
Hal itu diungkap Prof Dr Jufrizal Syahri, M.Si dalam orasi ilmiah pengukuhannya sebagai Guru Besar di Universitas Muhammadiyah Riau (Umri) pada Rabu (25/2/2026) lalu.
Orasi ilmiah tersebut mengangkat judul "Jalan Panjang Penemuan Obat Antimalaria Baru: Tantangan Keilmuan dan Harapan Masa Depan".
Resistensi obat antimalaria tersebut harus menjadi fokus utama. Karena perkembangan resistensi parasit Plasmodium jauh lebih cepat daripada penemuan obat antimalaria baru.
Menariknya, pandemi Covid-19 disebut Jufrizal menjadi pemicu meningkatnya kasus resistensi parasite plasmodium terhadap klorokuin.
"Hal itu dipicu banyaknya informasi hoaks yang mengklaim klorokuin dapat mengatasi SARS-CoV-2 atau virus Covid-19," tuturnya. Alhasil banyak yang menggunakan klorokuin tak sesuai aturan pakai.
Tindakan keliru itu membuat kemunculan parasit galur resisten meningkat. Bila tidak diatasi, ada kemungkinan malaria menjadi penyakit yang sulit diobati pada tahun mendatang.
Berbagai strategi pencarian kandidat obat antimalaria baru memang sudah dilakukan. Seperti dengan eksplorasi bahan alam, terutama obat yang secara tradisional digunakan sebagai obat malaria.
Lalu, ada juga upaya memodifikasi struktur senyawa kimia yang telah diketahui aktivitas antimalarianya.
Terakhir, ada upaya mengkaji metabolisme spesifik parasit dalam rangka mencari antimetabolit.
Akademisi kelahiran Padang Gajah, 2 Mei 1985 ini juga menyebut, penggunaan pendekatan komputasi seperti QSAR, docking dan molekular dinamik merupakan suatu keniscayaan dalam penemuan obat baru.
Dia menyinggung pendekatan kimia komputasi yang telah berkembang pesat dua dekade terakhir dalam merancang obat baru.
Dijelaskannya, implementasi pendekatan computer-aided drug design atau CADD ini mampu mempercepat laju penemuan obat sekaligus menekan biaya penelitian secara signifikan.
Bayangkan saja, penemuan obat secara konvensional memerlukan waktu hingga 15-18 tahun dengan investasi finansial miliaran sampai triliunan rupiah!
Sejak 2016-2019, profesor bidang kepakaran Kimia Organik ini telah melakukan modifikasi gugus fungsi senyawa chalcone menggunakan pendekatan komputasi.
Namun, diuji coba itu, hasil uji toksisitas senyawa yang dilakukan secara in vitro dan in vivo masih sangat tinggi. Sehingga tidak dapat digunakan sebagai kandidat obat baru.
Lalu, 2020-2023, Jufrizal mendesain dan memodifikasi gugus fungsi senyawa turunan eugenol yang terdapat pada minyak cengkeh. Juga menggunakan pendekatan komputasi.
Dengan serangkaian pengujian, secara in vivo, efek samping atau toksisitasnya juga belum aman.
Atas dasar ini, Jufrizal membuat kesimpulan sementara bahwa tantangan dalam pencarian kandidat obat baru dari senyawa alam maupun sintesis sangat besar. Baik dari tingkat toksisitas, efek samping dan keterbatasan sarana uji lanjutan.
Tak berhenti sampai di situ. Upaya mengatasi tingkat toksisitas dari senyawa kandidat yaitu dengan menggunakan obat atau senyawa yang telah disetujui Food and Drug Administration atau FDA Amerika Serikat.
"Memang terlihat sedikit pragmatis dalam penemuan kandidat obat baru. Namun ini bisa menjadi solusi cepat dalam mengatasi perkembangan resistensi malaria"
Prof Dr Jufrizal Syahri, M.Si
Penelitian kemudian menggunakan obat antivirus yang memiliki mekanisme aksi kerja yang mirip dengan antimalaria.
Kajian komputasional pun dilakukan menggunakan molecular docking, simulasi molekuler dinamika, dan farmakologi jaringan.
Setelah itu, baru senyawa obat yang disetujui FDA dilakukan uji aktivitas antimalaria secara in vitro dan in vivo.
Bila hasil uji menunjukkan aktivitas yang kuat, maka obat tersebut dapat langsung dijadikan kandidat obat antimalaria baru.
Jufrizal menegaskan, upaya penemuan obat antimalaria baru ini merupakan misi kemanusiaan.
"Setiap obat baru yang kita temukan adalah harapan bagi jutaan anak yang tidur di bawah kelambu setiap malam, harapan ibu-ibu yang khawatir akan kesehatan keluarganya, dan harapan bagi negara-negara yang berjuang membebaskan rakyatnya dari malaria," tutup Jufrizal. (*)