Prabowo–Trump Teken Perjanjian Dagang Baru, 1.819 Produk RI Dapat Tarif 0% ke AS
Indonesia dan AS menandatangani Agreement on Reciprocal Trade (ART) yang membuka tarif 0% bagi 1.819 produk RI ke pasar Amerika. Perjanjian ini juga membawa komitmen investasi hingga 33 miliar dolar AS.
RINGKASAN BERITA:
- Prabowo dan Trump meneken perjanjian dagang ART di Washington.
- Ribuan produk Indonesia mendapat tarif hingga 0% di pasar AS.
- Kesepakatan disertai komitmen investasi sekitar 33 miliar dolar AS.
RIAUCERDAS.COM, WASHINGTON D.C - Pertemuan bilateral di Washington, D.C. menandai babak baru hubungan ekonomi Indonesia–Amerika Serikat.
Presiden Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump menandatangani Agreement on Reciprocal Trade (ART), kesepakatan dagang yang membuka akses tarif preferensial bagi ribuan produk Indonesia.
Perjanjian tersebut mengatur tarif resiprokal, termasuk skema tarif 19 persen untuk sejumlah produk Indonesia ke pasar AS, sekaligus fasilitas tarif 0 persen untuk banyak komoditas strategis.
Penandatanganan dilakukan usai agenda Board of Peace dalam pertemuan bilateral yang berlangsung sekitar 30 menit.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut kesepakatan ini merupakan hasil negosiasi panjang sejak kebijakan tarif resiprokal AS diumumkan pada April 2025.
Sepanjang 2025, pemerintah Indonesia mengirim empat surat resmi, melakukan tujuh kunjungan ke Washington, serta lebih dari 19 pertemuan teknis dengan kantor United States Trade Representative.
“Kesepakatan ini berbeda dengan ART negara lain karena AS sepakat mencabut pasal non-ekonomi seperti kerja sama reaktor nuklir, pertahanan, dan keamanan, sehingga perjanjian murni fokus pada perdagangan,” ujar Airlangga dilansir dari InfoPublik, Jumat (20/2/2026).
Secara substansi, ART mencakup 1.819 pos tarif produk Indonesia, mulai dari sektor pertanian hingga industri.
Komoditas seperti kelapa sawit, kopi, kakao, rempah-rempah, elektronik, semikonduktor, hingga komponen pesawat memperoleh tarif hingga 0 persen di pasar AS.
Sektor tekstil dan pakaian jadi juga mendapat tarif nol persen melalui skema tariff-rate quota (TRQ), yang diperkirakan berdampak pada jutaan pekerja.
Sebagai bagian prinsip timbal balik, Indonesia juga menetapkan tarif 0 persen untuk sejumlah produk AS seperti gandum dan kedelai.
Kebijakan ini dinilai membantu menjaga stabilitas harga bahan pangan domestik.
Kedua negara juga membentuk Council of Trade and Investment sebagai forum pengawasan implementasi perjanjian, termasuk penyelesaian sengketa dagang dan menjaga keseimbangan neraca perdagangan.
ART akan berlaku 90 hari setelah proses hukum masing-masing negara selesai, termasuk konsultasi pemerintah Indonesia dengan DPR dan prosedur internal di AS.
Pemerintah memandang kesepakatan ini sebagai momentum baru dalam hubungan ekonomi bilateral.
Airlangga menyebut perjanjian tersebut sebagai bagian dari “era keemasan baru” kerja sama Indonesia–Amerika Serikat yang diharapkan mendorong perdagangan, investasi, dan pertumbuhan ekonomi kedua negara.
Sementara itu, dalam keterangan tertulis The Office of the U.S. Trade Representative (USTR), disebutkan sejumlah poin utama kesepakatan, termasuk penghapusan hambatan tarif atas lebih dari 99 persen produk AS di Indonesia.
Lalu, pengurangan hambatan non-tarif, penguatan perdagangan digital, hingga kerja sama rantai pasok dan mineral kritis.
Kesepakatan ini juga diikuti komitmen investasi komersial besar senilai sekitar 33 miliar dolar AS, mencakup sektor energi, kedirgantaraan, dan pertanian.
Nilainya meliputi pembelian energi AS sekitar 15 miliar dolar AS, pengadaan pesawat dan jasa penerbangan sekitar 13,5 miliar dolar AS, serta produk pertanian lebih dari 4,5 miliar dolar AS. (*)