Krisis Mental Remaja Meningkat, Guru BK Diminta Jadi “Ruang Aman” Bukan Otoritas Kaku
Dosen UMY menekankan pentingnya transformasi peran guru BK menjadi pendamping empatik di tengah meningkatnya isu kesehatan mental remaja, terutama di kalangan Generasi Z.
RINGKASAN BERITA:
- Pendekatan empatik dinilai lebih efektif dibanding cara otoritatif dalam menangani siswa
- Fenomena Generasi Z yang mudah melabeli kondisi emosional jadi sorotan
- Guru BK diibaratkan “tenda” sebagai simbol ruang aman bagi siswa.
RIAUCERDAS.COM - Di tengah meningkatnya isu kesehatan mental di kalangan remaja, pendekatan guru Bimbingan dan Konseling (BK) dinilai harus berubah dari pola otoritatif menjadi lebih empatik dan suportif.
Perubahan ini dianggap penting agar siswa merasa aman untuk terbuka dan mendapatkan pendampingan yang tepat di lingkungan sekolah.
Dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Talqis Nurdianto, menegaskan bahwa peran guru BK sangat krusial dalam merespons kondisi tersebut.
Hal itu disampaikannya dalam sesi tausiyah dan talkshow pada agenda Silaturahmi dan Syawalan bersama ratusan guru BK SMA, MA, dan SMK se-Daerah Istimewa Yogyakarta.
Dalam paparannya, Talqis menggambarkan peran ideal guru BK dengan analogi sederhana namun kuat.
“Guru BK itu ibarat tenda, bukan tembok. Ruang BK harus menjadi ruang yang jernih, tempat siswa merasa aman untuk bercerita tanpa takut rahasianya tersebar,” ujarnya dikutip dari laman UMY, Jumat (17/4/2026).
Ia menyoroti fenomena di kalangan Generasi Z yang dinilai semakin mudah melabeli kondisi emosional sebagai gangguan kesehatan mental, termasuk dalam situasi yang sebenarnya merupakan bagian dari proses perkembangan diri.
Dalam konteks ini, guru BK diharapkan mampu membantu siswa memahami dirinya secara lebih utuh.
“Tugas guru BK adalah membantu siswa menemukan jati diri mereka, agar tidak hilang dalam arus informasi dan konten di media sosial,” kata dia.
Menurut Talqis, pendekatan lama yang cenderung kaku dan otoritatif tidak lagi efektif dalam mendampingi remaja masa kini.
Pendekatan emosional dan empatik justru menjadi kunci agar siswa lebih terbuka dan mampu menerima arahan dengan baik.
Selain fokus pada siswa, ia juga mengingatkan pentingnya kesejahteraan guru BK itu sendiri.
Kondisi fisik dan mental yang prima dinilai menjadi syarat utama agar mereka dapat menjalankan peran secara optimal.
“Guru BK juga harus menjaga dirinya. Hanya dengan kondisi yang sehat secara fisik dan mental, mereka bisa menjadi ‘tenda’ yang kokoh bagi para siswa,” ujarnya.
Dengan posisi yang paling dekat dan mudah diakses oleh siswa di lingkungan sekolah, guru BK disebut sebagai garda terdepan dalam menangani persoalan kesehatan mental remaja yang kian kompleks saat ini. (*)


