Kemendikdasmen Dorong Budaya Sekolah Aman dan Nyaman

Kemendikdasmen menekankan pentingnya budaya sekolah aman dan nyaman sebagai fondasi pendidikan berkualitas, dengan pelibatan aktif seluruh warga sekolah termasuk murid.

Kemendikdasmen Dorong Budaya Sekolah Aman dan Nyaman
Ilustrasi sekolah aman dan nyaman. (Sumber: Kemendikdasmen)

RINGKASAN BERITA: 

  • Kemendikdasmen dorong sekolah jadi ruang aman, nyaman, dan berkarakter.
  • Murid dilibatkan aktif dalam membangun ekosistem sekolah sehat.
  • Fokus pada perlindungan fisik, psikologis, hingga keamanan digital siswa.

RIAUCERDAS.COM, JAKARTA - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah memperkuat transformasi pendidikan dengan mendorong penerapan budaya sekolah aman dan nyaman di seluruh satuan pendidikan.

Kebijakan ini menempatkan murid sebagai pusat ekosistem belajar yang tidak hanya aman secara fisik, tetapi juga sehat secara psikologis dan sosial.

Hal ini disampaikan Sekretaris Jenderal Kemendikdasmen, Suharti, dalam webinar “Sosialisasi dan Diskusi Panduan Penerapan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman di Sekolah” yang digelar oleh Pusat Penguatan Karakter.

Dalam rilis yang diterima Riau Cerdas, Sabtu (18/4/2026), Suharti menyampaikan, visi Pendidikan Bermutu untuk Semua hanya dapat terwujud jika lingkungan belajar mampu mendukung tumbuh kembang murid secara optimal.

“Setiap murid Indonesia, tanpa terkecuali, berhak mendapatkan layanan pendidikan yang berkualitas,” tegasnya.

Ia menambahkan, sekolah harus bertransformasi dari sekadar tempat penyelesaian masalah menjadi ruang yang aktif membangun karakter.

Fokus kebijakan ini mencakup empat aspek utama, yakni kebutuhan spiritual, perlindungan fisik, kesejahteraan psikologis dan sosiokultural, serta keamanan digital.

Staf Khusus Menteri Bidang Pendidikan Inklusif, Rita Pranawati, menjelaskan bahwa kebijakan ini berlandaskan sembilan asas, di antaranya humanis, inklusif, non-diskriminatif, hingga berkelanjutan.

Ia juga menekankan pentingnya peran aktif murid dalam membangun lingkungan sekolah yang sehat, termasuk melalui forum komunikasi, penyusunan aturan, hingga peran sebagai tutor sebaya.

“Kebijakan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman hadir dengan semangat bahwa pendidikan bermutu untuk semua hanya dapat terwujud dalam lingkungan yang memuliakan martabat kemanusiaan,” kata dia.

Sementara itu, Kepala Puspeka, Rusprita Putri Utami, menegaskan bahwa terciptanya lingkungan belajar yang aman membutuhkan kolaborasi seluruh pihak di sekolah.

Ia mendorong satuan pendidikan melakukan langkah konkret seperti deteksi dini risiko, pemetaan titik rawan, serta penyusunan aturan bersama agar potensi masalah dapat dicegah sejak awal.

“Sekolah perlu mengenali karakteristik murid, memetakan potensi risiko, serta mengidentifikasi titik rawan di lingkungan sekolah sejak awal, sehingga permasalahan dapat diantisipasi sebelum berkembang menjadi kasus yang lebih besar,” jelasnya.

Rusprita juga menekankan pentingnya keteladanan dari guru dan tenaga kependidikan sebagai fondasi budaya positif di sekolah.

Praktik penerapan kebijakan ini juga dibagikan oleh Kepala SD Islam Al-Alaq, Zulfa Maulidah.

Ia menjelaskan bahwa sekolahnya menerapkan kegiatan spiritual harian, penguatan nilai sosial, serta perlindungan fisik dan psikologis melalui zona aman dan simulasi kebencanaan.

“Guru secara aktif membangun komunikasi, membaca perubahan perilaku, dan menciptakan suasana kelas yang inklusif, suportif, serta mendorong partisipasi aktif murid,” tutur Zulfa.

Selain itu, sekolah juga menerapkan aturan penggunaan teknologi dan sistem penanganan pelanggaran secara kolaboratif yang melibatkan guru, orang tua, dan kepala sekolah.

“Sekolah impian bukan hanya yang membuat anak cerdas, tetapi tempat di mana semua orang merasa aman, dihargai, dan bertumbuh,” pungkasnya.

Melalui upaya bersama ini, Kemendikdasmen berharap budaya sekolah aman dan nyaman dapat terwujud secara merata, sehingga mendukung terciptanya pendidikan yang inklusif dan berkualitas di seluruh Indonesia. (*)