Ekspor Kopi Indonesia Melonjak 81 Persen, Pakar Soroti Masalah Kualitas dan Kesejahteraan Petani

Nilai ekspor kopi Indonesia meningkat tajam pada 2025, namun produktivitas dan kesejahteraan petani masih menjadi tantangan utama yang perlu dibenahi.

Ekspor Kopi Indonesia Melonjak 81 Persen, Pakar Soroti Masalah Kualitas dan Kesejahteraan Petani
Ilustrasi petani kopi Indonesia. (Sumber: Diolah dengan AI)

RINGKASAN BERITA: 

  • Ekspor kopi Indonesia 2025 naik 81 persen menjadi US$1,87 miliar
  • Produktivitas lahan dan kualitas biji kopi masih jadi tantangan
  • Inovasi dan kolaborasi industri dinilai kunci tingkatkan daya saing

RIAUCERDAS.COMKinerja ekspor kopi Indonesia menunjukkan tren positif dengan lonjakan signifikan pada 2025.

Data Badan Pusat Statistik mencatat nilai ekspor kopi mencapai US$1,87 miliar atau naik 81,08 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Peningkatan ini mempertegas posisi Indonesia sebagai salah satu produsen kopi terbesar dunia, dengan rata-rata produksi mencapai 782,30 juta ton dalam periode 2021–2025 berdasarkan data Kementerian Pertanian Republik Indonesia.

Sejumlah negara menjadi tujuan utama ekspor kopi Indonesia, di antaranya Amerika Serikat, Mesir, Malaysia, dan Belgia.

Meski demikian, capaian tersebut belum sepenuhnya berbanding lurus dengan kesejahteraan petani kopi.

Produktivitas lahan dan kualitas biji kopi masih menjadi tantangan utama di sektor ini.

Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada, Supriyadi, mengungkapkan bahwa tidak semua lahan perkebunan kopi berada dalam kondisi optimal.

“Terdapat 10% kerusakan lahan perkebunan kopi di Indonesia yang masih rusak. Selain kuantitas, tentu kualitas biji kopi yang fluktuatif,” kata Supriyadi dilansir dari laman UGM, Selasa (24/3/2026).

Ia menilai, rendahnya produktivitas juga dipengaruhi pola panen petani yang lebih mengutamakan kecepatan dibanding kualitas hasil.

“Nah itu di problema ya, tantangan di situ,” ungkapnya.

Untuk meningkatkan kualitas, Supriyadi mendorong adanya kolaborasi antara petani dan pelaku industri, termasuk penerapan proses fermentasi serta inovasi pengolahan kopi.

Salah satu inovasi yang dinilai potensial adalah metode blending, yakni mencampurkan beberapa jenis kopi untuk menghasilkan cita rasa baru.

Ia juga mencontohkan inovasi unik seperti “kopi tahlil” yang mengombinasikan kopi dengan berbagai rempah.

“Dengan inovasi kami melalui proses tambahan akan meningkatkan skornya menjadi di atas 82-84,” jelasnya.

Di sisi lain, tren konsumsi kopi yang meningkat di perkotaan turut mendorong pertumbuhan industri kedai kopi.

Dalam beberapa tahun ke depan, jumlah kedai kopi diperkirakan terus bertambah signifikan.

“Nah harapannya dalam waktu 1-2 tahun lagi dapat mencapai lebih dari 11 ribu kedai kopi. Ini kan suatu potensi yang sangat besar sekali,” ujarnya.

Ke depan, peningkatan kualitas dan inovasi diharapkan mampu mendongkrak daya saing kopi Indonesia sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.

“Ayo bersama-sama melakukan inovasi untuk mendapatkan rasa yang spesifik,” tutupnya. (*)