Main Game Lebih 10 Jam per Minggu Picu Risiko Gangguan Fisik dan Mental

Kebiasaan bermain game lebih dari 10 jam per minggu dinilai berdampak negatif terhadap kesehatan fisik, mental, dan sosial. Pakar dari UGM mengingatkan, durasi berlebih dapat memicu obesitas, gangguan tidur, kecanduan, hingga penurunan kualitas interaksi sosial. Waktu bermain ideal disarankan tidak lebih dari 5 jam per minggu.

Main Game Lebih 10 Jam per Minggu Picu Risiko Gangguan Fisik dan Mental
Ilustrasi bermain video game di ponsel. (Sumber: Diolah dengan AI)

RINGKASAN BERITA:

  • Studi di Australia menemukan kesehatan mahasiswa menurun pada kelompok yang bermain game lebih dari 10 jam per minggu.
  • Pakar UGM menyebut risiko obesitas, gangguan tidur, hingga masalah mental meningkat pada gamer berlebihan.
  • Durasi ideal bermain game disarankan maksimal 5 jam per minggu.

RIAUCERDAS.COM, YOGYAKARTA - Kebiasaan bermain game dengan durasi panjang berpotensi menimbulkan berbagai masalah kesehatan.

Temuan ini sejalan dengan penelitian Curtin University, Australia, yang melibatkan 317 mahasiswa dari lima universitas dengan rata-rata usia 20 tahun.

Dalam studi tersebut, responden dibagi ke dalam tiga kelompok, yakni pemain game rendah (0–5 jam per minggu), menengah (5–10 jam), dan tinggi (lebih dari 10 jam per minggu).

Hasil survei menunjukkan kelompok dengan durasi bermain di atas 10 jam per minggu mengalami penurunan kondisi kesehatan dibandingkan kelompok lainnya.

Pakar kesehatan jiwa sekaligus dosen Program Studi Ilmu Keperawatan FK-KMK UGM, Dr. Heru Subekti, S.Kep., Ns., MPH, menjelaskan bahwa bermain game berlebihan, baik di komputer maupun ponsel, berisiko menimbulkan gangguan fisik seperti masalah tidur, pola hidup sedentari, hingga obesitas.

“Risiko obesitas menjadi lebih besar dibandingkan anak-anak atau remaja yang tidak banyak menggunakan video game,” ujarnya, Selasa (27/1/2026).

Heru mengungkapkan, kecanduan game erat kaitannya dengan pelepasan hormon dopamin yang memicu rasa senang.

Sensasi ini mendorong pemain meningkatkan durasi bermain secara bertahap hingga akhirnya muncul gejala adiksi. 

Menurutnya, ketika kecanduan terjadi, dampaknya tidak lagi sebatas fisik, tetapi juga menyentuh ranah kesehatan mental.

Bahkan, kata dia, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengklasifikasikan internet gaming disorder sebagai salah satu bentuk gangguan kesehatan mental.

Selain itu, aktivitas bermain game dalam waktu lama juga dapat memicu gangguan otot dan saraf.

Heru menyebut penggunaan mouse berjam-jam berisiko menyebabkan Carpal Tunnel Syndrome akibat terjepitnya aliran saraf di pergelangan tangan.

Sementara pada bagian leher, posisi menunduk terlalu lama saat menatap layar dapat memicu text neck syndrome.

“Dalam posisi menunduk, beban pada leher meningkat. Jika berlangsung lama, tekanan yang besar akan terakumulasi di area tersebut,” jelasnya.

Dampak bermain game berlebihan tidak berhenti pada aspek kesehatan. Heru menilai, durasi bermain yang terlalu panjang juga dapat mengganggu kemampuan interaksi sosial anak dan remaja.

Kondisi ini dapat memicu menurunnya rasa percaya diri, gangguan emosi, hingga masalah dalam hubungan pertemanan dan keluarga.

“Komunikasi dengan orang tua bisa memburuk, hubungan sosial terganggu, prestasi akademik menurun, bahkan aspek spiritualitas pun ikut terdampak,” ungkapnya.

Heru menambahkan, durasi ideal bermain game sebaiknya dibatasi sekitar lima jam per minggu.

Batas ini dinilai lebih aman untuk menjaga kesehatan fisik dan mental, sekaligus tetap memungkinkan anak dan remaja memperoleh sisi positif dari bermain game.

Menurutnya, video game tetap memiliki manfaat jika digunakan secara tepat, seperti meningkatkan kreativitas dan memperkuat kebersamaan dengan teman sebaya.

Namun, manfaat tersebut akan hilang jika penggunaan dilakukan secara berlebihan.

Untuk mencegah kecanduan, Heru menyarankan upaya edukasi tentang risiko bermain game berlebihan, disertai pengalihan aktivitas ke kegiatan yang lebih aktif dan produktif, seperti olahraga atau pengembangan hobi.

“Kesadarannya dibangun, perilakunya diubah. Anak dan remaja perlu lebih banyak dilibatkan dalam kegiatan yang aktif,” pungkasnya. (*)