Peneliti BRIN Kembangkan Teknologi Baru Perawatan Karies Gigi Permanen Berbasis Gelatin-Kitosan
Peneliti BRIN mengembangkan inovasi sistem penghantaran kalsium hidroksida berbasis gelatin-kitosan untuk meningkatkan stabilitas dan potensi regenerasi jaringan pada gigi permanen yang rusak akibat karies.
RINGKASAN BERITA:
- Kasus karies gigi terus meningkat secara global, terutama pada anak dan dewasa muda.
- Peneliti BRIN mengembangkan komposit Ca(OH)₂ berbasis gelatin-kitosan dan TEOS untuk meningkatkan stabilitas bahan perawatan gigi.
- Hasil uji praklinis menunjukkan potensi mendukung regenerasi pulpa gigi, meski masih memerlukan penelitian lanjutan.
RIAUCERDAS.COM, JAKARTA - Lonjakan kasus karies gigi dalam tiga dekade terakhir mendorong lahirnya inovasi baru di bidang kesehatan gigi.
Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Bidhari Pidhatika, mengembangkan sistem penghantaran bahan perawatan gigi berbasis gelatin-kitosan untuk meningkatkan stabilitas dan potensi regenerasi jaringan pada gigi permanen yang mengalami kerusakan.
Gigi permanen memiliki peran penting dalam menjaga kualitas hidup manusia. Namun, kasus karies gigi dilaporkan terus meningkat secara global, terutama pada kelompok anak usia 5–9 tahun dan dewasa muda yang paling rentan mengalami gangguan kesehatan gigi.
Karies biasanya muncul tidak lama setelah erupsi gigi permanen.
Pada fase tersebut, gigi belum sepenuhnya matang dan ujung akarnya masih terbuka sehingga proses pembentukan akar sangat bergantung pada kesehatan pulpa gigi untuk mendukung penutupan apikal.
Menurut Bidhari Pidhatika, karies merupakan penyakit kronis multifaktorial yang menyebabkan demineralisasi jaringan keras gigi dan dapat berkembang hingga memicu paparan pulpa akibat progresi penyakit, tindakan perawatan, maupun trauma.
“Dalam kondisi tersebut, perawatan yang bertujuan mempertahankan vitalitas pulpa menjadi sangat penting untuk mendukung regenerasi jaringan dan proses penutupan apikal, terutama pada gigi permanen yang belum matang,” ujarnya dikutip dari laman BRIN, Kamis (12/3/2026).
Melalui penelitian berjudul Gelatin/Chitosan Delivery System Improves Stability and Regenerative Potential of Ca(OH)₂ in an Open Dental Pulp Model, Bidhari bersama tim mengembangkan sistem penghantaran kalsium hidroksida yang lebih efektif.
Penelitian tersebut memanfaatkan kombinasi bahan Ca(OH)₂ dengan matriks gelatin-kitosan serta penambahan tetraethyl orthosilicate (TEOS) sebagai crosslinker.
Metode ini bertujuan meningkatkan stabilitas sekaligus memperkuat potensi regeneratif bahan pada model pulpa gigi terbuka.
Dalam praktik kedokteran gigi, Ca(OH)₂ telah lama digunakan untuk merangsang pembentukan jaringan keras dengan tingkat keberhasilan sekitar 90 persen.
Senyawa ini bekerja dengan melepaskan ion hidroksil yang memberikan efek antibakteri serta mendukung proses penyembuhan jaringan.
Namun, bahan tersebut memiliki tingkat kelarutan tinggi sehingga memerlukan aplikasi berulang dalam perawatan klinis.
Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, tim peneliti menggabungkannya dengan gelatin-kitosan dan TEOS.
Hasil penelitian menunjukkan komposit yang dihasilkan memiliki tingkat kelarutan lebih rendah dibandingkan Ca(OH)₂ konvensional.
Pelepasan ion kalsium menjadi lebih terkontrol, sementara struktur kimianya lebih stabil berkat terbentuknya jaringan silika dari TEOS yang memperkuat komposit.
Pada uji praklinis menggunakan hewan, komposit gelatin/kitosan Ca(OH)₂/TEOS juga menunjukkan potensi dalam mendukung regenerasi pulpa gigi.
Hal ini terlihat dari meningkatnya ekspresi TGF-β1 serta kemampuannya mendorong diferensiasi sel punca pulpa gigi menjadi sel mirip odontoblas yang berperan dalam pembentukan jaringan keras gigi.
Karakterisasi material juga memperlihatkan bahwa komposit memiliki struktur yang lebih amorf dibandingkan Ca(OH)₂ murni, dengan stabilitas kimia yang lebih baik.
Uji pelepasan ion Ca²⁺ pun menunjukkan kemampuan komposit dalam mengontrol kelarutan ion kalsium secara signifikan.
Meski demikian, Bidhari menegaskan bahwa penelitian tersebut masih berada pada tahap awal dan membutuhkan kajian lanjutan untuk memastikan efektivitasnya secara klinis.
“Temuan ini masih berada pada tahap awal regenerasi. Karena itu, diperlukan studi lanjutan untuk mengevaluasi efektivitasnya dalam jangka panjang,” jelasnya.
Penelitian ini melibatkan kolaborasi lintas keahlian bersama Endytiastuti, Retno Ardhani, Yogi A. Swasono, Reza P. Rudianto, Juni Handajani, Ghadah A. Al-qatta, Iwa S.R. Sudarso, serta Fauzi Mh Busra.
Ke depan, inovasi ini diharapkan membuka peluang baru dalam pengembangan teknologi perawatan gigi permanen, khususnya bagi anak-anak dan dewasa muda, agar kesehatan gigi dapat terjaga sejak dini. (*)