Catat, Gangguan Psikologis pada Ibu Bisa Sebabkan Bayi Stunting

Gangguan psikologi yang dihadapi ibu di masa hamil maupun pasca persalinan berpengaruh pada kondisi anak. Karena, gelombang perasaan yang dialami oleh si ibu akan dirasakan langsung oleh bayinya. 

Mar 7, 2024 - 21:57
 0
Catat, Gangguan Psikologis pada Ibu Bisa Sebabkan Bayi Stunting
Psikolog Yunita menyampaikan materi pada acara kegiatan Penguatan dan Pencatatan Pelaporan Pendampingan Ibu Hamil dan Ibu Pasca Persalinan, Kamis (7/3/2024).

RIAUCERDAS.COMGangguan psikologi yang dihadapi ibu di masa hamil maupun pasca persalinan berpengaruh pada kondisi anak. Karena, gelombang perasaan yang dialami oleh si ibu akan dirasakan langsung oleh bayinya. 


Gangguan psikologis yang kerap dialami ibu itu di antaranya kecemasan, ketakutan, sikap pasif, hipermaskulinitas, hiperaktif dan halusinasi hipnagonik yang terjadi saat persalinan. Sayangnya, permasalahan psikologis ini terkadang dianggap biasa oleh masyarakat.


Hal itu disampaikan Psikolog, Yunita ketika menjadi Penyaji pada kegiatan Penguatan dan Pencatatan Pelaporan Pendampingan Ibu Hamil dan Ibu Pasca Persalinan yang digelar mulai tanggal 6 hingga 8 Maret.


Yunita juga menjelaskan fase yang dilalui oleh ibu post partum. Seperti taking in face. Yaitu periode ketergantungan yang berlangsung dari hari ke 1 dan 2 setelah melahirkan. Pada saat itu, fokus perhatian ibu terutama pada dirinya sendiri. Pengalaman proses persalinan sering berulangkali diceritakannya.


Kemudian, fase taking hold. Yaitu meniru dan role play. Di sinilah tenaga kesehatan (nakes) yang tergabung dalam Tim Pendamping Keluarga (TPK) perlu memberikan pemahaman kepada para ibu.


Ada juga fase letting go. Yaitu ketika ibu kembali pulang ke rumah. Di sinilah ibu berpotensi mengalami gangguan psikologi. Karena di fase ini ibu mengambil tanggung jawab terhadap perawatan bayinya. Jadi dibutuhkan support system dari sejumlah pihak. Termasuk keluarga.


Dia juga menjelaskan sejumlah masalah mental pasca melahirkan. Seperti baby blues syndrome. Ibu dalam kondisi ini akan mengalami perasaan sedih, cemas, emosi. Umumnya, sekitar 50-80 persen terjadi setelah melahirkan. Terutama pada kelahiran bayi pertama. 


“Di sinilah dibutuhkan peran untuk memberi pemahaman kepada ibu agar bisa merawat bayi dan dirinya,” kata Yunita.


Masalah kedua yaitu depresi post partum. Gejalanya sama dengan depresi umumnya. Seperti mudah menangis, merasa dirinya rendah, merasa tertekan dan terjadi penurunan minat seks. "Yang dikhawatirkan, ibu mengalami psikosis post partum," katanya.


Pada kasus ini, seorang ibu mengalami gejala psikotik atau kesulitan membedakan realitas dan fantasi dalam waktu 3 minggu setelah melahirkan.


Kemudian, berdasarkan penelitian Health Collaboration Center di Indonesia, enam dari 10 ibu menyusui tidak bahagia. Anak yang terlahir dari ibu dengan stres post patrum diketahui sebanyak 26 persen mengalami stunting. 

Untuk itu perlu dilakukan skrining untuk mengidentifikasi dan memantau gangguan psikologis pasca persalinan oleh penyedia layanan kesehatan.


Perlu juga dilakukan intervensi dini yang bersifat preventif maupun kuratif. Bentukan berupa psikoedukasi dan pendampingan psikologis. 

Lalu, ada program dukungan psikososial yang mencakup serangkaian intervensi untuk dukungan emosional, pendidikan, strategi penanggulangan bagi perempuan pasca persalinan.


Terakhir yaitu, menciptakan ruang aman bagi perempuan untuk mendiskusikan pengalaman mereka tanpa takut dihakimi. "Ini yang perlu. Gangguan psikologis yang ada harus ditangani tanpa penghakiman terhadap si ibu," kata dia.


Dari hasil penelitian, gangguan piskologis bisa mempengaruhi terjadinya stunting. Dimana, faktor prenatal bisa menyebabkan stunting pada anak usia 0-2 tahun.


Tinggi badan ibu juga turut mempengaruhi. Ibu dengan tinggi badan di bawah 145 cm memiliki height for age (HAZ) yang lebih rendah dibandingkan dengan anak yang memiliki ibu dengan tinggi badan di atas 145 cm.


Anemia selama kehamilan juga meningkatkan risiko 3,23 kali lebih besar anak terkena stunting. Maternal depression melipatgandakan risiko memiliki anak stunting.

Hal lainnya yang mempengaruhi adalah kunjungan ke fasilitas kesehatan selama kehamilan dan fasilitas sanitasi di rumah yang tidak memadai memiliki risiko 40 persen lebih tinggi terhadap kejadian stunting. (*)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow