Pemerintah Target Tambah 60 Ribu Sekolah Lagi untuk Direvitalisasi

Program revitalisasi sekolah di daerah 3T mulai menunjukkan dampak nyata, dari peningkatan semangat belajar hingga kepercayaan masyarakat. Pemerintah menargetkan perluasan program hingga 60 ribu sekolah pada 2026.

Pemerintah Target Tambah 60 Ribu Sekolah Lagi untuk Direvitalisasi
Salah satu sekolah di Papua yang meraih program revitalisasi dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. (Sumber: Kemendikdasmen)

RINGKASAN BERITA:

  • Revitalisasi sekolah meningkatkan kualitas belajar dan kepercayaan masyarakat.
  • Banyak sekolah 3T kini memiliki fasilitas layak setelah revitalisasi 2025.
  • Pemerintah menargetkan tambahan 60 ribu sekolah direvitalisasi pada 2026.

RIAUCERDAS.COM, JAKARTA - Program Revitalisasi Satuan Pendidikan yang dijalankan pemerintah mulai menunjukkan dampak nyata di berbagai wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Selain memperbaiki bangunan sekolah, program ini terbukti meningkatkan semangat belajar siswa, kualitas pembelajaran, hingga kepercayaan masyarakat terhadap layanan pendidikan.

Program yang diinisiasi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah ini menjadi bagian dari upaya mewujudkan visi Pendidikan Bermutu untuk Semua.

Revitalisasi tidak hanya berfokus pada fisik bangunan, tetapi juga menciptakan lingkungan belajar yang aman dan layak bagi peserta didik.

Sejumlah kepala sekolah di daerah 3T mengungkapkan perubahan signifikan setelah revitalisasi.

Kepala TK Pembina Negeri Senggi, Kabupaten Keerom, Papua, Albertina Insyur, menyebut sekolahnya menerima empat menu bantuan pada 2025, termasuk rehabilitasi ruang kelas, pembangunan toilet, ruang kelas baru, dan ruang UKS.

Menurutnya, revitalisasi menjadi perhatian besar bagi sekolah di wilayah perbatasan Indonesia–Papua Nugini yang sebelumnya minim pembangunan.

Selain meningkatkan kenyamanan belajar, program ini juga mendorong keterlibatan masyarakat melalui skema swakelola yang menggerakkan ekonomi lokal.

Dampak serupa dirasakan SMP Islam Darul Bayan di Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat.

Kepala sekolah Ihsan Sopiandi menyebut revitalisasi menghadirkan perubahan besar melalui pembangunan ruang kelas baru, laboratorium IPA, perpustakaan, ruang administrasi, hingga toilet dengan total anggaran lebih dari Rp2,9 miliar.

Ia menilai fasilitas baru membuat proses belajar lebih layak sekaligus meningkatkan citra sekolah.

Kepercayaan masyarakat terhadap sekolah juga meningkat, ditandai dengan bertambahnya minat orang tua menyekolahkan anaknya di sana.

Testimoni lain datang dari SD Negeri 1 Loloan, Lombok Utara.

Kepala sekolah Sahrir mengungkapkan revitalisasi menghadirkan ruang kelas baru, ruang administrasi, UKS, toilet, serta rehabilitasi perpustakaan. 

Perubahan ini membuat siswa tidak lagi belajar di lantai akibat keterbatasan ruang kelas sebelumnya.

Ia menambahkan, pelibatan masyarakat dalam pembangunan turut memperkuat rasa memiliki terhadap sekolah sekaligus menggerakkan ekonomi sekitar karena material dibeli dari lingkungan setempat.

Pemerintah menegaskan revitalisasi bukan sekadar perbaikan gedung, tetapi bagian dari transformasi pendidikan nasional.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menyatakan program ini menjadi salah satu Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) yang diarahkan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto.

Ia menargetkan perluasan program pada 2026 dengan tambahan 60 ribu satuan pendidikan penerima revitalisasi agar pemerataan mutu pendidikan semakin merata.

Sebagai gambaran, sepanjang 2025 revitalisasi telah menjangkau 14.072 satuan pendidikan, terdiri dari 1.515 PAUD, 6.328 SD, 3.989 SMP, dan 2.240 SMA.

Dari jumlah tersebut, ratusan sekolah berada di wilayah 3T yang selama ini menghadapi keterbatasan sarana dan prasarana.

Pemerintah berharap program revitalisasi terus mempercepat pemerataan akses pendidikan berkualitas sekaligus menciptakan lingkungan belajar yang lebih aman, nyaman, dan inklusif di seluruh Indonesia. (*)