Super Aplikasi Rumah Pendidikan Dongkrak Literasi Digital Siswa 3T, 47%
Super Aplikasi Rumah Pendidikan terbukti meningkatkan literasi digital siswa di wilayah 3T. Di SDN 020 Sepaku, 47,2% siswa sudah aktif menggunakan fitur Ruang Murid, dengan target naik menjadi 80% semester depan.
RINGKASAN BERITA:
- Sebanyak 155 dari 328 siswa SDN 020 Sepaku telah aktif menggunakan Rumah Pendidikan.
- Kemampuan digital siswa meningkat pesat, didukung pendampingan guru dan pemanfaatan fitur interaktif.
- Pusdatin menilai aplikasi ini berpotensi menekan angka putus sekolah dan mempercepat pemerataan pendidikan digital.
RIAUCERDAS.COM, JAKARTA - Implementasi Super Aplikasi Rumah Pendidikan mulai menunjukkan dampak konkret di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Di SD Negeri 020 Sepaku, Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, hampir separuh siswa kini aktif memanfaatkan platform digital tersebut untuk belajar.
Program yang digagas Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Pusat Data dan Teknologi Informasi atau Pusdatin ini mencatat 155 dari total 328 siswa telah menggunakan fitur Ruang Murid.
Angka tersebut setara dengan tingkat adopsi digital sebesar 47,2 persen.
Perubahan paling terasa terlihat pada kemampuan teknis siswa.
Jika sebelumnya banyak yang kesulitan mengoperasikan perangkat, kini mereka mampu menggunakan tetikus, membuka aplikasi, mengakses materi pembelajaran, hingga menjelajahi fitur edukasi secara mandiri.
Laboratorium komputer pun bertransformasi menjadi ruang belajar aktif dan partisipatif.
Guru SDN 020 Sepaku, Syarinah, menyebut transformasi itu terjadi relatif cepat berkat pendampingan terstruktur.
“Awalnya banyak siswa canggung menggunakan perangkat digital. Sekarang mereka lebih percaya diri, mampu bernavigasi sendiri, bahkan berani mengeksplorasi konten pembelajaran tanpa takut salah," kata Syarinah.
Saat dikunjungi tim Pusdatin, Syarinah menyebut bahwa Rumah Pendidikan bukan sekadar alat belajar, tetapi media yang memerdekakan siswa untuk tumbuh di dunia digital secara positif.
Pemanfaatan aplikasi dilakukan dua kali dalam sebulan dengan durasi 2 x 35 menit setiap sesi.
Sebanyak 16 guru terlibat aktif mengeksplorasi fitur seperti Lab Maya, Buku Digital, Game Interaktif, serta modul penguatan karakter Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat.
Peran guru dinilai menjadi kunci keberhasilan implementasi. Pendekatan kolaboratif dilakukan melalui komunitas belajar dan forum Kelompok Kerja Guru (KKG) Gugus 2 Kecamatan Sepaku untuk memastikan diseminasi berjalan berkelanjutan.
Syarinah menambahkan, fitur Ruang Murid membantu mempercepat inovasi metode pembelajaran.
“Ruang Murid menjadi akselerator pembelajaran bagi siswa kami. Kontennya dinamis dan sangat sesuai karakter generasi sekarang yang audio visual," katanya.
Dia bilang, guru lebih mudah melakukan diferensiasi pembelajaran karena materi dapat disampaikan secara visual dan interaktif.
Ia menargetkan tingkat adopsi meningkat hingga 80 persen pada semester mendatang melalui penguatan infrastruktur laboratorium dan pendampingan guru.
Di sisi lain, Kepala Pusdatin, Yudhistira Nugraha, menilai Super Aplikasi Rumah Pendidikan berpotensi menekan angka putus sekolah, khususnya di daerah terpencil.
Menurutnya, rendahnya kesadaran pendidikan serta faktor sosial budaya masih menjadi penyebab anak putus sekolah selain keterbatasan akses.
“Diperlukan terobosan dan intervensi cerdas dalam mengatasi semua tantangan tersebut. Super Aplikasi Rumah Pendidikan adalah bagian pembangunan ekosistem pendidikan mendalam yang menarik dan penting dari Mendikdasmen Prof Mu’ti,” katanya di Jakarta, Minggu (1/2/2026).
Pengalaman SDN 020 Sepaku menunjukkan bahwa digitalisasi bukan sekadar modernisasi teknologi, melainkan alat pemerataan akses pendidikan.
Pemanfaatan teknologi dinilai mampu mengurangi hambatan geografis dan keterbatasan sumber daya, sekaligus mendorong transformasi pendidikan nasional menuju generasi adaptif di masa depan. (*)