BRIN Kembangkan Enzim Lakase untuk Skincare Pencerah
BRIN memperkenalkan inovasi enzim lakase berbasis mikroorganisme lokal sebagai bahan aktif skincare pencerah kulit yang lebih aman dan berpotensi mengurangi impor bahan baku kosmetik.
RINGKASAN BERITA:
- BRIN kembangkan enzim lakase sebagai bahan aktif skincare pencerah alami.
- Inovasi berbasis mikroba lokal ini lebih aman dan ramah lingkungan.
- Ditargetkan mengurangi ketergantungan impor bahan baku kosmetik hingga 90 persen.
RIAUCERDAS.COM, JAKARTA - Upaya mengurangi ketergantungan impor bahan baku kosmetik mulai menunjukkan terobosan baru.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan enzim lakase berbasis mikroorganisme lokal sebagai bahan aktif alami untuk produk skincare pencerah kulit.
Inovasi ini dipaparkan oleh peneliti BRIN, Ade Andriyani, dalam forum BRIN Goes to Industry (BGTI) 3 yang berlangsung di Auditorium Soemitro Djojohadikusumo, Gedung BJ Habibie, Jakarta, Kamis (16/4/2026).
Ade menjelaskan bahwa enzim lakase memiliki kemampuan oksidasi yang efektif dalam mengurangi melanin, pigmen alami yang menyebabkan warna gelap pada kulit.
Dalam formulasi kosmetik, enzim ini bekerja secara selektif tanpa merusak jaringan kulit.
“Lakase bekerja melalui oksidasi selektif terhadap melanin tanpa merusak jaringan kulit, sehingga lebih aman dibandingkan bahan kimia konvensional,” ujarnya.
Menurutnya, tren global saat ini menunjukkan peningkatan penggunaan bahan aktif berbasis fermentasi mikroba dalam industri skincare.
Selain lebih ramah lingkungan, bahan tersebut juga dinilai memiliki risiko lebih rendah untuk penggunaan jangka panjang.
Enzim lakase yang dikembangkan diproduksi melalui proses fermentasi sederhana dengan memanfaatkan bahan organik lokal serta mikroba yang telah memenuhi standar keamanan.
Hasil penelitian menunjukkan efektivitas enzim ini dalam mendegradasi melanin, baik yang bersifat sintetik maupun yang berasal dari sel kulit.
Tim peneliti juga berhasil menjaga stabilitas enzim agar tetap optimal dalam berbagai kondisi.
“Setelah melalui berbagai pengujian, kami melihat penurunan kadar melanin yang signifikan, baik dari sisi kuantitas maupun kualitas. Ini menjadi dasar kuat untuk pengembangan sebagai bahan aktif skincare,” kata dia.
Lebih lanjut, Ade mengungkapkan bahwa inovasi tersebut kini memasuki tahap pengurusan lisensi dengan mitra industri, sekaligus membuka peluang kolaborasi untuk pengembangan produk turunan berbasis fermentasi.
Di sisi lain, ia menyoroti bahwa sekitar 90 persen bahan baku kosmetik di Indonesia masih bergantung pada impor, termasuk mikroba seperti probiotik, ragi, dan jamur.
“Padahal Indonesia memiliki biodiversitas yang sangat tinggi, termasuk sumber mikroorganisme yang berpotensi besar untuk dikembangkan,” ucapnya.
Melalui pengembangan enzim lakase ini, BRIN berharap dapat mendorong kemandirian industri kosmetik nasional sekaligus meningkatkan nilai tambah sumber daya hayati lokal.
Ke depan, kolaborasi dengan pelaku industri diharapkan mampu mempercepat proses hilirisasi riset hingga tahap komersialisasi.
"Saat ini produk kami sedang proses izin lisensi dengan Mitra dan kami terbuka jika ada beberapa dari industri kosmetik yang ingin bekerjasama untuk mengembangkan produk fermentasi dengan menggunakan bahan baku lokal," tutur dia. (*)


