Soal Narasi Panjang Saat TKA Jadi Tantangan Siswa

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Fajar Riza Ul Haq menilai Tes Kemampuan Akademik (TKA) tak sekadar ujian, tetapi sarana melatih literasi dan integritas siswa. Kunjungan di Medan juga mengungkap tantangan soal berbasis cerita serta upaya sekolah mengatasi kendala teknis.

Soal Narasi Panjang Saat TKA Jadi Tantangan Siswa
Wamendikdasmen Fajar Riza Ul Haq merangkul seorang siswa SD yang akan menjalani Tes Kemampuan Akademik di Medan, Sumatra Utara. (Sumber::Kemendikdasmen)

RINGKASAN BERITA: 

  • Soal TKA berbasis cerita panjang dinilai efektif melatih literasi siswa.
  • Siswa mengaku tegang karena format soal berbeda dari ujian biasa.
  • Sekolah mengatasi keterbatasan perangkat dengan gotong royong demi kelancaran ujian.

RIAUCERDAS.COM, MEDAN - Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Fajar Riza Ul Haq menegaskan bahwa Tes Kemampuan Akademik (TKA) menjadi instrumen penting untuk mengasah literasi sekaligus menanamkan nilai integritas siswa, saat meninjau pelaksanaan TKA di sejumlah sekolah dasar di Medan.

Dalam kunjungannya, Fajar menemukan bahwa desain soal TKA yang berbasis cerita panjang mendorong siswa untuk membaca lebih cermat dan memahami konteks secara mendalam.

Hal ini dinilai sebagai langkah strategis untuk memperkuat kemampuan literasi sejak dini.

”Mereka (para murid) merasakan perbedaan desain pertanyaan TKA yang menggunakan cerita lumayan panjang, sehingga harus membaca lebih hati-hati. Ini artinya kita sedang melatih kemampuan literasi murid-murid kita,” ujar Fajar.

Pengalaman langsung dirasakan siswa kelas 6 di UPT SD Negeri 060864 yang baru saja menyelesaikan ujian Bahasa Indonesia.

Dua di antaranya, Hafiz Al-Hafzi dan Rizki Akila Pangaribuan, mengaku sempat tegang menghadapi soal yang berbeda dari perkiraan.

”Soalnya beda dari prediksi, ada susahnya sedikit. Sekarang lega, tapi masih agak deg-degan nunggu hasilnya karena takut tidak masuk SMP impian,” ungkap Kila jujur.

Meski demikian, dukungan orang tua serta pesan dari Wamen menjadi penyemangat bagi siswa.

Hafiz menyebut nasihat ibunya untuk teliti saat mengerjakan soal menjadi motivasi tersendiri. 

Fajar juga menekankan pentingnya kebiasaan membaca dalam menghadapi tipe soal berbasis narasi.

Menurutnya, siswa yang terbiasa membaca tidak akan kesulitan menghadapi soal panjang dan kompleks.

”Saya mendorong mereka untuk merutinkan membaca buku, mulai dari satu halaman sehari agar kemampuan literasi menjadi kebiasaan sehari-hari,” tuturnya.

Selain meninjau siswa, Wamen juga berdialog dengan pihak sekolah terkait persiapan pelaksanaan TKA.

Ia mengapresiasi upaya menjaga integritas ujian, termasuk peran proktor dan pengawas dalam menjaga kerahasiaan soal.

Guru kelas 6 sekaligus teknisi TKA di UPT SD Negeri 060864, Siska Hutapea, menyebut sekolah telah melakukan berbagai persiapan sejak jauh hari.

”Kami persiapkan melalui try out hingga 12 kali dan les tambahan setelah jam pulang sekolah. Kami ingin murid terbiasa karena TKA ini soalnya memang lebih panjang dibanding materi harian,” jelas Siska.

Ia juga memastikan pelaksanaan hari kedua berjalan lancar setelah sempat terjadi gangguan jaringan pada hari pertama. Sebanyak 31 siswa mengikuti ujian dalam dua sesi.

Sementara itu, di UPT SD Negeri 060862, pelaksanaan TKA sebelumnya juga menghadapi keterbatasan fasilitas.

Kepala sekolah Budiarti mengungkapkan bahwa pihak sekolah harus mengandalkan gotong royong untuk memenuhi kebutuhan perangkat.

”Meski ada kendala pada kamera Papan Interaktif Digital dan aplikasi yang sempat error, semua bisa teratasi dengan gotong royong dan kesigapan operator sekolah. Murid-murid kami tetap bisa mengerjakan tes dengan aman,” ujar Budiarti.

Kunjungan ini memperlihatkan bahwa pelaksanaan TKA tidak hanya menguji kemampuan akademik, tetapi juga mencerminkan kesiapan literasi siswa serta komitmen sekolah dalam menjaga integritas dan mengatasi tantangan teknis. (*)