Termasuk Toba, Tiga Geopark Indonesia Raih Green Card UNESCO

Indonesia kembali mengukuhkan posisinya di panggung global setelah tiga UNESCO Global Geopark berhasil meraih status “Green Card” dari UNESCO. Pengakuan ini menegaskan keberhasilan pengelolaan kawasan berbasis konservasi dan pembangunan berkelanjutan.

Termasuk Toba, Tiga Geopark Indonesia Raih Green Card UNESCO
Tiga geopark Indonesia resmi mempertahankan status “Green Card” UNESCO.. (Sumber: Kemendikdasmen)

RINGKASAN BERITA: 

  • Tiga geopark Indonesia resmi mempertahankan status “Green Card” UNESCO.
  • Indonesia menjadi salah satu negara dengan jumlah geopark terbanyak ketiga di dunia.
  • UNESCO menyoroti tantangan global geopark, mulai dari pendanaan hingga kapasitas SDM.

RIAUCERDAS.COM, JAKARTA - Indonesia memperkuat reputasinya sebagai salah satu negara dengan pengelolaan geopark terbaik dunia setelah tiga kawasan geopark nasional berhasil mempertahankan status bergengsi “Green Card” dari UNESCO melalui proses revalidasi tahun 2025.

Pengakuan tersebut diberikan dalam seremoni penyerahan sertifikat kepada 12 UNESCO Global Geopark (UGGp) baru dari 10 negara serta 38 geopark dari 24 negara yang lolos revalidasi.

Indonesia termasuk di antara negara yang mendapat pengakuan tersebut melalui tiga geopark unggulannya.

Adapun tiga geopark Indonesia yang menerima sertifikat tersebut adalah Rinjani UNESCO Global Geopark, Toba Caldera UNESCO Global Geopark, dan Ciletuh-Palabuhanratu UNESCO Global Geopark.

Ketiganya dinilai berhasil memenuhi standar pengelolaan berkelanjutan setelah melalui evaluasi ketat.

Sertifikat tersebut diterima oleh Muhamad Oemar selaku Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Prancis, Andorra, Monako sekaligus Delegasi Tetap RI untuk UNESCO.

UNESCO Global Geopark sendiri merupakan kawasan geografis terpadu yang memiliki nilai geologi internasional dan dikelola dengan pendekatan menyeluruh, mencakup perlindungan lingkungan, edukasi, serta pengembangan ekonomi berkelanjutan bagi masyarakat lokal.

Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO, Ananto Kusuma Seta, mengapresiasi capaian tersebut.

Ia menyebut Indonesia mampu menunjukkan komitmen dalam menjaga warisan alam sekaligus mendorong pembangunan berkelanjutan.

“Sebagai negara dengan jumlah UGGp terbanyak ketiga di dunia, Indonesia telah membuktikan mampu menjaga dan mengelola untuk pembangunan berkelanjutan. Selamat dan terima kasih kepada semua pihak yang membantu keberhasilan membanggakan ini,” jelas Ananto.

Dalam seremoni tersebut, Kristof Vandenberghe turut menyoroti sejumlah tantangan yang masih dihadapi jaringan geopark global.

“Tantangan utama yang dilaporkan oleh para Geopark adalah pendanaan dan keberlanjutan finansial, kapasitas sumber daya manusia, akses terhadap keahlian dan kolaborasi internasional, kapasitas pendidikan dan penjangkauan publik, kapasitas pemerintah dan kelembagaan serta infrastruktur dan aksesibilitas,” jelas Kristof Vandenberge.

Meski demikian, UNESCO menegaskan komitmennya untuk terus mendukung pengembangan geopark dunia melalui peningkatan kapasitas, fasilitasi kolaborasi internasional, akses pendanaan, serta penguatan visibilitas jaringan geopark secara global. (*)