Dana Abadi Sawit Rakyat: Mimpi atau Jalan Menuju Kemerdekaan Ekonomi?
Tulisan ini adalah pandangan penulis dan tidak mewakili sikap redaksi Riau Cerdas.
BAGI banyak daerah di negeri ini, sawit bukan sekadar tanaman perkebunan. Sawit telah menjadi sumber penghidupan yang menggerakkan kehidupan masyarakat.
Dari hasil sawit, anak-anak dapat bersekolah. Dari sawit, rumah-rumah dibangun. Dari sawit pula desa dan kampung berkembang, roda ekonomi rakyat berputar, serta harapan akan kehidupan yang lebih baik terus tumbuh.
Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa sawit telah mengubah wajah banyak wilayah di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi hingga Papua.
Daerah yang dahulu tertinggal berkembang menjadi pusat-pusat ekonomi baru. Desa yang dulunya sepi kini menjadi lebih hidup.
Karena itu, ketika kita berbicara tentang sawit, sesungguhnya yang sedang dibicarakan bukan sekadar pohon atau komoditas.
Kita sedang berbicara tentang manusia, tentang keluarga, tentang martabat, dan tentang masa depan jutaan rakyat Indonesia.
Saat ini Indonesia tercatat sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia. Lebih dari separuh kebutuhan minyak sawit dunia dipasok dari negeri ini.
Di balik pencapaian tersebut terdapat sekitar 2,6 juta rumah tangga petani sawit. Jika dihitung bersama anggota keluarganya, sekitar 13 hingga 16 juta jiwa menggantungkan kehidupan pada sektor ini.
Belum termasuk jutaan pekerja lain yang hidup dari rantai ekonomi sawit, mulai dari pemanen, sopir angkutan, pekerja pabrik, pedagang pupuk, kontraktor, mekanik hingga berbagai usaha kecil yang tumbuh di sekitar kawasan perkebunan.
Artinya, sawit tidak hanya menghidupi petani. Sawit menghidupi puluhan juta rakyat Indonesia. Sawit juga bukan sekadar komoditas ekspor, melainkan denyut ekonomi rakyat yang nyata.
Namun di balik besarnya peran tersebut, ada satu pertanyaan penting yang perlu direnungkan. Mengapa kelompok sebesar ini masih sering berada pada posisi yang lemah?
Ketika harga tandan buah segar (TBS) turun, petani menjadi pihak pertama yang merasakan dampaknya. Ketika harga pupuk naik, petani yang menanggung beban tambahan.
Saat jalan produksi rusak, petani pula yang harus mencari solusi. Bahkan ketika sawit menghadapi kampanye negatif di pasar internasional, petani ikut menerima akibatnya.
Ironisnya, ketika kebijakan dibuat dan arah masa depan industri sawit dibahas, suara petani sering kali tidak berada di ruang utama. Padahal petani merupakan fondasi dari seluruh rantai industri ini.
Tanpa petani tidak ada TBS. Tanpa TBS tidak ada CPO. Tanpa CPO tidak ada industri hilir. Dan tanpa semua itu, tidak akan ada devisa sawit yang selama ini menjadi kebanggaan nasional.
Sejarah beberapa tahun terakhir memberikan pelajaran yang sangat berharga. Saat pemerintah memberlakukan pembatasan ekspor CPO pada tahun 2022 untuk menstabilkan pasokan minyak goreng dalam negeri, harga TBS petani di berbagai daerah langsung anjlok.
Di sejumlah sentra sawit, harga yang sebelumnya berada di kisaran Rp3.000 per kilogram sempat jatuh hingga mendekati Rp300–Rp500 per kilogram.
Buah tetap matang. Buah tetap harus dipanen. Namun nilainya seolah menghilang hanya dalam hitungan hari.
Petani tidak ikut merumuskan kebijakan tersebut. Petani juga tidak menikmati keuntungan terbesar ketika harga CPO dunia melonjak.
Tetapi ketika kebijakan itu memicu gejolak pasar, petanilah yang pertama kali menerima dampaknya.
Pelajaran serupa kembali terlihat setiap kali muncul wacana perubahan tata niaga sawit. Ketika ada rencana penataan ekspor melalui mekanisme yang lebih terpusat, pasar langsung bereaksi.
Spekulasi muncul, kekhawatiran meningkat, dan dampaknya lebih dulu dirasakan di tingkat petani melalui pelemahan harga TBS.
Sering kali kebijakan bahkan belum dijalankan, tetapi harga di tingkat petani sudah terlebih dahulu turun.
Inilah kenyataan yang selama ini dihadapi petani sawit. Ketika industri menikmati keuntungan, petani tidak selalu memperoleh bagian yang sepadan. Namun ketika terjadi gejolak, petani hampir selalu menjadi kelompok pertama yang menanggung akibatnya.
Menurut saya, persoalan terbesar petani sawit hari ini bukan semata-mata fluktuasi harga. Bukan pula soal mahalnya pupuk atau keterbatasan akses modal. Persoalan paling mendasar adalah belum terbangunnya kekuatan bersama.
Kita besar dalam jumlah, tetapi belum cukup besar dalam persatuan. Kita kuat di kebun, tetapi belum cukup kuat dalam kelembagaan.
Padahal orang tua-tua Melayu telah lama mengingatkan:
“Seikat bak lidi, serumpun bak aur, sesusun bak sirih.”
Lidi yang berdiri sendiri sangat mudah dipatahkan. Namun ketika terikat menjadi satu, ia menjadi kuat dan bermanfaat.
Begitu pula petani sawit. Jika berjalan sendiri-sendiri, kita akan terus menjadi penerima keadaan. Tetapi jika bersatu, kita dapat menjadi penentu masa depan.
Orang Bugis juga meninggalkan pesan yang sangat mulia:
“Mali siparappe, rebba sipatokkong, malilu sipakainge.”
Yang hanyut kita selamatkan bersama. Yang jatuh kita bangunkan bersama. Yang khilaf kita saling mengingatkan.
Nilai-nilai itulah yang semestinya menjadi fondasi perjuangan petani sawit Indonesia.
Sebab tidak ada petani yang akan kuat sendirian. Tidak ada koperasi yang akan besar sendirian. Dan tidak ada peradaban yang dibangun oleh orang-orang yang berjalan sendiri-sendiri.
Sudah saatnya petani sawit memikirkan masa depan yang lebih panjang daripada sekadar panen bulan ini. Kita perlu memikirkan masa depan anak cucu. Kita perlu memastikan bahwa generasi berikutnya tidak hanya mewarisi kebun, tetapi juga mewarisi kekuatan ekonomi.
Di sinilah saya melihat pentingnya membangun Dana Abadi Sawit Rakyat.
Gagasannya sederhana. Setiap petani menyisihkan sebagian kecil hasil panennya. Mungkin hanya Rp10, Rp20, atau Rp50 dari setiap kilogram TBS yang dijual. Jumlah itu tampak kecil bagi satu orang, tetapi akan menjadi kekuatan luar biasa jika dilakukan oleh jutaan petani secara bersama-sama.
Jika dua juta petani menyisihkan rata-rata Rp100.000 setiap bulan, maka akan terkumpul sekitar Rp200 miliar setiap bulan. Dalam setahun mencapai Rp2,4 triliun. Dalam sepuluh tahun nilainya dapat mencapai puluhan triliun rupiah.
Itulah kekuatan gotong royong. Itulah kekuatan persatuan. Itulah kekuatan rakyat ketika memiliki tujuan yang sama.
Dana tersebut jangan habis untuk rapat dan kegiatan seremonial. Dana itu harus menjadi modal masa depan, modal perjuangan, sekaligus modal peradaban.
Dana itu dapat digunakan untuk membangun jalan produksi, membiayai riset dan inovasi sawit, memberikan beasiswa kepada anak-anak petani, membantu peremajaan kebun rakyat, membangun pusat pelatihan petani modern, mendirikan koperasi yang profesional, membangun pabrik kelapa sawit milik petani, hingga membangun industri hilir milik petani.
Bahkan suatu hari nanti, dana tersebut dapat menjadi fondasi untuk membangun lembaga keuangan, pusat riset, dan jaringan perdagangan yang dimiliki petani sawit sendiri.
Mungkin hari ini gagasan tersebut terdengar seperti mimpi. Namun semua kemajuan besar selalu berawal dari mimpi besar yang diperjuangkan bersama.
Kita terlalu lama berpikir sebagai penjual buah. Sudah saatnya mulai berpikir sebagai pemilik masa depan.
Kemakmuran tidak lahir dari menjual bahan mentah selamanya. Kemakmuran lahir ketika kita mampu menguasai nilai tambah. Ketika kita memiliki koperasi yang kuat, pabrik sendiri, industri sendiri, dan lembaga ekonomi yang bekerja untuk kepentingan petani.
Bayangkan sepuluh hingga dua puluh tahun ke depan.
Anak-anak petani sawit tidak hanya menjadi pekerja di kebun. Mereka menjadi insinyur, peneliti, pengusaha, pengelola industri hilir, pemimpin koperasi modern, dan generasi yang menguasai teknologi serta pasar.
Itulah yang saya sebut sebagai Peradaban Sawit Indonesia.
Peradaban yang dibangun dari kebun rakyat. Dibiayai oleh rakyat. Dikelola oleh rakyat. Dan hasilnya kembali kepada rakyat.
Orang Bugis juga mengajarkan:
“Resopa temmangingngi namalomo naletei pammase Dewata.”
Hanya dengan kerja keras, ketekunan, dan perjuangan, rahmat Tuhan akan datang.
Karena itu, jangan pernah merasa kecil. Jangan pernah merasa tidak berdaya. Jangan pernah merasa sendirian. Sebab jika jutaan petani sawit bersatu, tidak ada kekuatan yang dapat mengabaikan suara mereka.
Sawit telah memberi banyak kepada Indonesia. Sawit telah membangun kampung dan desa. Sawit telah menyekolahkan jutaan anak bangsa. Sawit telah mengangkat ekonomi masyarakat di berbagai pelosok negeri.
Kini saatnya petani sawit membangun dirinya sendiri. Membangun persatuan. Membangun kelembagaan. Membangun dana abadi. Membangun industri. Dan membangun masa depan yang lebih baik bagi generasi yang akan datang.
Karena pada akhirnya, sawit bukan hanya tentang hasil panen hari ini. Sawit adalah tentang warisan yang akan kita tinggalkan untuk esok.
Dari kebun rakyat, kita bangun persatuan. Dari persatuan, kita bangun kekuatan. Dari kekuatan, kita bangun peradaban.
Sawit telah membesarkan Indonesia. Kini saatnya petani sawit bersatu untuk membesarkan dirinya sendiri dan memastikan bahwa kemakmuran yang lahir dari sawit juga kembali kepada mereka yang menanam, merawat, dan menjaganya sejak awal. (*)
*Firdaus SE., M.Si adalah Ketua Majelis Ekonomi, Bisnis dan Pariwisata PW Muhammadiyah Riau