TKA SMP 2026 Dapat Respons Positif, Siswa Nilai Soal Lebih Mudah dan Relevan dengan Pelajaran

Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SMP menuai respons positif dari siswa di berbagai daerah. Selain tingkat kehadiran tinggi, peserta menilai soal relatif mudah dan sesuai materi pembelajaran.

TKA SMP 2026 Dapat Respons Positif, Siswa Nilai Soal Lebih Mudah dan Relevan dengan Pelajaran

RINGKASAN BERITA:

  • Siswa di berbagai daerah menilai soal TKA lebih mudah dan sesuai materi pembelajaran.
  • Tingkat kehadiran peserta hampir mencapai 100 persen, termasuk di Papua dan Cimahi.
  • TKA tidak hanya mengukur kemampuan, tetapi juga meningkatkan motivasi dan kepercayaan diri siswa.

RIAUCERDAS.COM, JAKARTA - Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SMP menunjukkan penerimaan yang baik dari peserta didik, ditandai dengan penilaian bahwa soal yang diujikan relatif mudah dan selaras dengan materi yang telah dipelajari di sekolah.

Persepsi ini muncul dari pengalaman siswa di sejumlah daerah selama pelaksanaan asesmen yang berlangsung sepekan terakhir.

Di Provinsi Papua, antusiasme terlihat jelas di SMP Negeri 1 Sentani dengan jumlah peserta mencapai 296 siswa dan tingkat kehadiran 100 persen.

Salah satu peserta, Gloria El A.K. Joteni, mengaku awalnya merasa tegang, namun kekhawatiran tersebut sirna setelah mulai mengerjakan soal.

“Awalnya saya sedikit gugup, tapi setelah mulai mengerjakan ternyata soal-soal TKA tidak sesulit yang dibayangkan. Sebelum TKA, kami rutin mengerjakan soal latihan dan melakukan pendalaman materi,” ujar Gloria dilansir Kemendikdasmen, Jumat (10/4/2026).

Respons serupa juga datang dari siswa di SMP Negeri 239 Jakarta. Arya Dwi Putra menyebut TKA bukan sekadar ujian, tetapi juga sarana untuk mengukur kemampuan akademik secara lebih objektif.

“Setelah mengikuti TKA, saya merasa sangat senang dan semangat. TKA bukan sekadar tes, tetapi menjadi cara untuk mengetahui sejauh mana kemampuan saya dalam bidang akademik,” tutur Arya.

Sementara itu, Jihan, siswa dari sekolah yang sama, menilai TKA memberikan manfaat tambahan berupa peningkatan wawasan serta mendorong penggunaan teknologi secara lebih bijak.

Ia juga menegaskan bahwa soal yang dihadapi masih berkaitan dengan materi pembelajaran di kelas.

“Saya sangat senang mengikuti TKA ini karena dapat menambah pengetahuan. Soalnya juga sesuai dengan yang dipelajari, sehingga bisa dikerjakan dengan baik,” kata dia.

Di Kota Cimahi, Jawa Barat, pelaksanaan TKA berlangsung tertib dengan tingkat kehadiran peserta yang hampir mencapai 100 persen di berbagai sekolah.

Dukungan dari proktor, teknisi, dan pengawas turut memastikan ujian berjalan sesuai prosedur.

Sistem pelaksanaan dilakukan secara daring, dengan penyesuaian semi-daring khusus untuk jenjang SLB.

Sejumlah siswa di Cimahi juga mengaku tidak mengalami kendala berarti saat mengerjakan soal.

Rayhan dari SMP Negeri 4 Cimahi menyebut tingkat kesulitan soal masih dapat diatasi dengan ketelitian.

“Soal TKA sangat mudah, apalagi kalau membacanya lebih teliti,” ujarnya.

Hal serupa diungkapkan Zafiar yang menilai soal TKA masih relevan dengan materi sebelumnya dan waktu pengerjaan cukup memadai.

“Alhamdulillah pelaksanaannya lancar. Soalnya diangkat dari materi kelas sebelumnya, waktunya cukup, dan bisa dipahami jika dibaca dengan teliti serta diperdalam,” ungkapnya.

Selama pelaksanaan, peserta menunjukkan kesiapan dan kepercayaan diri dalam mengerjakan soal.

Mereka mampu menjaga fokus tanpa tekanan berlebih, sekaligus menjadikan hasil TKA sebagai pijakan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.

Secara umum, TKA tidak hanya berfungsi sebagai alat evaluasi capaian belajar, tetapi juga memberikan pengalaman yang membangun motivasi belajar siswa.

Tingginya partisipasi dan respons positif dari berbagai daerah menjadi indikasi bahwa asesmen ini diterima dengan baik dalam dunia pendidikan. (*)