Kemendikdasmen Rilis Pelatihan Mandiri Pemanfaatan Papan Interaktif Digital untuk Guru
Kemendikdasmen meluncurkan pelatihan mandiri pemanfaatan papan digital interaktif guna memastikan teknologi pembelajaran dimanfaatkan optimal oleh guru di seluruh Indonesia.
RINGKASAN BERITA:
-
Kemendikdasmen rilis pelatihan mandiri pemanfaatan papan digital interaktif bagi guru.
-
Fokus pelatihan pada praktik pedagogi, bukan sekadar penggunaan perangkat.
-
Digitalisasi pembelajaran ditekankan sebagai ekosistem berkelanjutan.
RIAUCERDAS.COM, JAKARTA - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mempercepat transformasi digital pendidikan dengan memastikan pemanfaatan Interactive Flat Panel (IFP) atau Papan Digital Interaktif (PID) berjalan optimal di satuan pendidikan.
Melalui Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin), Kemendikdasmen menggelar webinar peluncuran Pelatihan Mandiri bertajuk “Pemanfaatan Papan Interaktif Digital dalam Pembelajaran.”
Program ini menjadi bagian dari strategi optimalisasi perangkat PID yang telah didistribusikan ke sekolah.
Pelatihan diselenggarakan melalui Ruang GTK Rumah Pendidikan, di mana guru dapat mengakses materi secara fleksibel menggunakan akun belajar.id.
Materi mencakup pengenalan fitur PID, strategi pedagogis interaktif, hingga praktik implementasi di kelas.
Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus, Tatang Muttaqin menegaskan pentingnya relevansi teknologi dengan kebutuhan masa depan.
“Papan Interaktif Digital harus menjadi jembatan transformasi pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan masa depan dan dunia kerja,” ujarnya dalam webinar yang disiarkan melalui kanal YouTube Kemendikdasmen.
Direktur Jenderal Guru, Tenaga Kependidikan, dan Pendidikan Guru, Nunuk Suryani menambahkan bahwa keberhasilan transformasi digital sangat bergantung pada kesiapan guru untuk terus belajar.
“Transformasi pendidikan berawal dari guru yang adaptif dan terus belajar. Teknologi akan berdampak ketika dimanfaatkan untuk menghadirkan pembelajaran yang berpusat pada murid,” ungkapnya.
Pelatihan ini tidak memberikan sertifikat formal. Peserta yang menyelesaikan seluruh modul hanya memperoleh surat keterangan penyelesaian sebagai bukti partisipasi.
Fokus utama program ini adalah penguatan kompetensi dan perubahan praktik mengajar yang berdampak langsung pada pembelajaran.
Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah, Gogot Suharwoto menekankan pentingnya implementasi nyata di kelas.
“Perangkat sudah tersedia, konten sudah disiapkan, dan pelatihan sudah dibuka. Kini kuncinya adalah bagaimana guru memanfaatkannya untuk memperkuat kualitas pembelajaran di kelas,” tegasnya.
Senada, Direktur Guru Pendidikan Dasar, Rachmadi Widdiharto menyebut pelatihan harus diikuti praktik dan refleksi berkelanjutan agar teknologi benar-benar berdampak pada mutu pembelajaran.
Sementara itu, Direktur Sekolah Menengah Kejuruan, Arie Wibowo Khurniawan menyoroti relevansi PID dalam pembelajaran vokasi, terutama untuk simulasi industri dan presentasi proyek berbasis dunia kerja.
Kepala Pusdatin Kemendikdasmen, Yudhistira Nugraha menutup dengan menegaskan bahwa digitalisasi pembelajaran harus dibangun sebagai ekosistem utuh.
“Digitalisasi pembelajaran bukan sekadar menghadirkan perangkat, tetapi membangun ekosistem yang mencakup teknologi, konten, dan kompetensi guru secara berkelanjutan,” ujarnya. (*)