20 Sekolah di Purworejo Direvitalisasi, Program Prioritas Presiden Diperluas hingga Wilayah 3T

Program Revitalisasi Satuan Pendidikan terus diperluas hingga daerah, termasuk Kabupaten Purworejo. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti meresmikan revitalisasi 20 sekolah dan menegaskan program ini sebagai prioritas nasional pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Selain pembenahan fisik, pemerintah juga mendorong percepatan digitalisasi pembelajaran melalui bantuan perangkat interaktif dan dukungan infrastruktur.

20 Sekolah di Purworejo Direvitalisasi, Program Prioritas Presiden Diperluas hingga Wilayah 3T
Mendikdasmen Abdul Mu'ti meninjau salah satu hasil revitalisasi satuan pemdidikan di Purworejo, Sabtu (24/1/2026). Ada 20 satuan pendidikan di kota ini yang jadi penerima revitalisasi. (Sumber: Kemendikdasmen)

RINGKASAN BERITA: 

  • Revitalisasi menyentuh 20 satuan pendidikan di Purworejo dari PAUD hingga SMK.
  • Lebih dari 98 persen dari 16.171 proyek revitalisasi nasional 2025 telah rampung.
  • Pemerintah menyiapkan perluasan digitalisasi sekolah hingga lebih dari 71 ribu satuan pendidikan.

RIAUCERDAS.COM, PURWOREJO - Pemerintah memperkuat pemerataan layanan pendidikan melalui Program Revitalisasi Satuan Pendidikan yang menyasar daerah kabupaten hingga wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Di Kabupaten Purworejo, sebanyak 20 satuan pendidikan dari berbagai jenjang telah direvitalisasi untuk menghadirkan lingkungan belajar yang lebih layak, aman, dan bermutu.

Peresmian revitalisasi tersebut dilakukan langsung oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, Sabtu (24/1/2026).

Dalam kesempatan itu, ia menegaskan bahwa revitalisasi sekolah menjadi bagian penting dari agenda prioritas nasional di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.

“Revitalisasi bukan semata membangun fisik bangunan, tetapi membangun masa depan anak-anak Indonesia. Pada 2025, pemerintah merevitalisasi 16.171 satuan pendidikan di seluruh Indonesia dan lebih dari 98 persennya telah selesai,” ujar Mu’ti.

Di Purworejo, revitalisasi mencakup 3 TK/PAUD, 7 SD, 6 SMP, 2 SMA, dan 2 SMK. Mu’ti menekankan bahwa sekolah yang aman, bersih, dan nyaman merupakan fondasi penting bagi pembelajaran yang efektif.

Karena itu, pemerintah menerbitkan Peraturan Menteri Pendidikan Nomor 6 Tahun 2026 sebagai pijakan untuk membangun budaya sekolah yang bebas kekerasan dan perundungan.

Selain perbaikan sarana fisik, Kemendikdasmen juga mendorong transformasi digital di lingkungan sekolah.

Hingga saat ini, lebih dari 288 ribu satuan pendidikan telah menerima bantuan Papan Interaktif Digital (PID) atau Interactive Flat Panel sebagai penunjang pembelajaran berbasis teknologi.

“Kami tidak hanya memberikan perangkat, tetapi juga pelatihan guru, dukungan laptop, materi ajar, hingga bantuan bagi sekolah yang belum memiliki akses internet dan listrik. Digitalisasi harus benar-benar masuk ke proses belajar,” jelasnya.

Untuk 2026, pemerintah telah menyiapkan anggaran bagi sekitar 11.700 satuan pendidikan dan mengusulkan penambahan hingga total lebih dari 71 ribu sekolah.

Setiap sekolah direncanakan memperoleh tambahan tiga perangkat PID guna mewujudkan konsep satu kelas satu perangkat digital secara bertahap.

Bupati Purworejo, Yuli Hastuti, menyampaikan apresiasi atas dukungan pemerintah pusat.

Menurutnya, perhatian tersebut menjadi dorongan besar bagi daerah untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan.

“Program revitalisasi ini sangat strategis dalam menciptakan lingkungan belajar yang lebih aman, nyaman, dan layak bagi peserta didik,” ujarnya.

Manfaat revitalisasi juga dirasakan langsung oleh sekolah.

Pelaksana Tugas Kepala SMP Negeri 4 Purworejo, Warno Dwiantoro, mengatakan pihaknya menerima dana rehabilitasi untuk tujuh ruang kelas lengkap dengan perabot pendukung.

“Ruang kelas yang direvitalisasi memberi suasana baru bagi siswa. Mereka lebih nyaman dan termotivasi untuk belajar,” katanya.

Hal serupa disampaikan Kepala SDN 2 Cepedak, Verica.

Sekolahnya memperoleh pembangunan gedung UKS baru serta rehabilitasi ruang kelas, kantor, perpustakaan, dan fasilitas sanitasi.

“Sekarang ruang kelas dapat digunakan secara optimal dan sanitasi sekolah sudah terpenuhi. Kami berharap kualitas pembelajaran dan layanan kepada murid semakin meningkat,” ujarnya. (*)