Satu-satunya di Indonesia, Percetakan Braille Wyata Guna Cetak Buku Gratis untuk Tunanetra
Percetakan Literasi Braille di Sentra Wyata Guna Bandung menjadi satu-satunya lembaga yang memproduksi dan mendistribusikan buku braille gratis bagi penyandang disabilitas netra di seluruh Indonesia.
RINGKASAN BERITA:
- Percetakan Braille Wyata Guna menjadi satu-satunya yang menyediakan buku braille gratis di Indonesia.
- Produksi mencakup kitab suci, buku pelajaran, hingga majalah karya penyandang disabilitas netra.
- Layanan juga dilengkapi audio book yang didukung komunitas relawan pembaca.
RIAUCERDAS.COM, BANDUNG - Akses literasi bagi penyandang disabilitas netra di Indonesia mendapat dukungan penting dari percetakan braille milik Kementerian Sosial yang beroperasi di Sentra Wyata Guna.
Fasilitas ini menjadi satu-satunya yang secara rutin memproduksi buku braille gratis untuk didistribusikan ke berbagai daerah.
Percetakan yang dikenal sebagai Literasi Braille tersebut mencetak beragam bahan bacaan, mulai dari kitab suci hingga buku pelajaran untuk berbagai jenjang pendidikan.
“Yang komplit, yang gratis disini satu-satunya. Kalau yayasan-yayasan lain ada mungkin donatur khusus, berbayar mereka ke yayasan itu untuk disebarkan,” ujar Yunna Nursyalamah dilansir dari laman Kemensos, Jumat (20/3/2026).
Ia menjelaskan bahwa produksi utama meliputi Alquran Braille, Al-Kitab Braille, serta buku pengetahuan umum, keterampilan, dan materi pendidikan dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi.
Selain buku, percetakan ini juga menerbitkan majalah “Gema Braille” setiap dua bulan sekali. Kontennya berasal dari karya penyandang disabilitas netra maupun penulis lain yang disesuaikan dengan tema edisi.
“Dapat hasil inti bacaannya itu dari para disabilitas netra atapun dari teman-teman yang menyampaikan inspirasinya lewat tulisan. Lalu dikumpulkan ke kita, kemudian dirapatkan di Dewan Redaksi, lalu kita sortir mana yang cocok untuk tema di bulan ini,” jelas Yunna.
Dalam operasionalnya, percetakan mampu menghasilkan sekitar 30 buku braille per hari.
Namun, untuk Alquran Braille, prosesnya lebih kompleks karena satu set terdiri dari 30 jilid. Tahun ini, produksi Alquran Braille ditargetkan sebanyak 50 set.
Seluruh proses produksi dilakukan dengan ketelitian tinggi, mulai dari penyuntingan hingga pencetakan dan penjilidan, guna memastikan akurasi setiap huruf braille.
Hasil cetakan kemudian didistribusikan secara gratis kepada individu, sekolah luar biasa (SLB), perguruan tinggi, hingga lembaga yang telah terdaftar di seluruh Indonesia.
“Nah, kalau untuk teman-teman disabilitas di Indonesia yang telah berlangganan dikirim secara otomatis. Secara rutin, dua bulan sekali, majalah kita kirim, dan jika di bulan itu ada buku yang telah terbit, kita kirim secara otomatis,” kata Yunna.
Tak hanya buku cetak, Literasi Braille juga menyediakan layanan audio book yang diproduksi bersama komunitas relawan pembaca.
Distribusinya dilakukan secara gratis melalui media penyimpanan seperti flashdisk kepada penerima manfaat.
“Inilah yang unik, ada komunitas reader yang bersedekah suara. Bahkan tidak hanya membaca, mereka juga memiliki bakat dalam menyampaikan isi buku,” ujarnya.
Ke depan, layanan alih huruf ke braille tetap dibuka secara gratis bagi masyarakat yang membutuhkan, termasuk dari pemerintah daerah maupun pihak swasta, sebagai bagian dari komitmen memperluas akses literasi inklusif di Indonesia. (*)


